EKBIS

Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Biaya Ekspor, Pengusaha Mulai Tertekan

apakabar.co.id, SOLO - Konflik geopolitik di Timur Tengah mulai dirasakan pelaku usaha di Solo Raya. Dampak paling nyata adalah melonjaknya biaya pengiriman barang ekspor akibat terganggunya jalur pelayaran internasional.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Solo, Dwiyanto Cahyo Sumirat, mengatakan hasil survei terhadap pelaku usaha menunjukkan kenaikan biaya logistik menjadi tantangan utama yang dihadapi eksportir.

Hal ini diketahui dari hasil survei yang dilakukan dengan menyasar pengusaha tekstil dan garmen, furniture kayu, otomotif, dan pertanian. 


"Bahwa mayoritas atau 30 persen responden menyampaikan biaya kirim mengalami peningkatan signifikan," ungkap Anto sapaan akrab di Solo, Jawa Tengah, Selasa (4/8). 

Menurutnya, apabila selat hormuz ditutup akibat konflik antara Iran dengan Amerika Serikat, perjalanan menjadi lebih lama karena harus mencari jalur yang aman.

"Faktanya kalau selat hormuz tutup mereka harus muter. Kedua asuransi jadi lebih mahal. Jadi ini menyebabkan biaya kirim meningkat," sambung dia.

Menurut Anto, belum ada strategi bagi pengusaha Solo Raya dalam menghadapi dampak geopolitik timur tengah tersebut.

"Mereka bilang belum ada strateginya (menghadapi dampak konflik timur tengah)," ungkap dia.

Meski biaya kirim meningkat, katanya dampak geopolitik timur tengah tidak mempengaruhi terhadap permintaan barang dari luar negeri.

"Sebagian besar dari mereka permintaan relatif tetap. Meskipun ada konflik permintaan masih tetap jalan. Tidak ada pembatalan order. Jadi masih beroperasi," kata Anto.


Anto menyampaikan, responden juga memprediksi bahwa dampak geopolitik timur tengah masih akan terasa hingga tiga bulan ke depan.

"Para responden memprediksi dampak geopolitik ini masih akan terasa hingga tiga bulan ke depan," tandasnya.