LIFESTYLE

Psikolog Ungkap Cara Sehat Batasi Gawai untuk Remaja

Ilustrasi seorang Siswa SMA bermain gawai di kelas. Foto: istimewa
Ilustrasi seorang Siswa SMA bermain gawai di kelas. Foto: istimewa
apakabar.co.id, JAKARTA - Pembatasan penggunaan gawai pada remaja SMA dinilai penting untuk membantu anak membangun kebiasaan digital yang sehat, namun tidak seharusnya dilakukan melalui larangan total. 

Pendekatan yang tepat justru menekankan pendampingan, pengaturan yang seimbang, serta komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak.

Psikolog klinis Virginia Hanny M.Psi., Psikolog mengatakan, tujuan utama pembatasan gawai bukanlah mengekang kebebasan remaja, melainkan melatih kemampuan mereka dalam mengatur diri dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

“Yang dibutuhkan bukan larangan total, melainkan pendampingan dan pengaturan yang seimbang,” kata Virginia dikutip Antara, Kamis (5/2).


Menurut Virginia, meskipun remaja SMA terlihat lebih mandiri, secara biologis perkembangan otak mereka masih berlangsung. Area otak yang berperan dalam pengambilan keputusan, pengendalian impuls, dan pertimbangan risiko belum sepenuhnya matang, sehingga tetap memerlukan arahan dari orang dewasa.

Pendampingan orang tua dalam penggunaan ponsel menjadi krusial untuk melatih remaja mengelola dorongan, menahan keinginan, serta mengambil keputusan secara lebih bijak dalam dunia digital.

Sebaliknya, penerapan larangan total penggunaan gawai justru berpotensi menimbulkan dampak negatif. Anak dapat tertinggal informasi, mengalami kesulitan beradaptasi dalam pergaulan, hingga kurang memiliki keterampilan digital yang dibutuhkan di masa depan.

Virginia menekankan bahwa kunci pembatasan gawai yang efektif terletak pada aturan yang masuk akal dan disusun secara kolaboratif. Orang tua disarankan menetapkan waktu-waktu bebas ponsel, seperti saat makan bersama atau menjelang tidur, serta membedakan durasi penggunaan ponsel untuk keperluan sekolah dan hiburan.

“Libatkan anak dalam pembentukan aturan. Dengan begitu, mereka akan merasa dihargai dan lebih kooperatif dalam mematuhi kesepakatan yang dibuat,” ujarnya.

Pendekatan yang melibatkan dialog dan penjelasan dinilai jauh lebih efektif dibandingkan aturan sepihak yang hanya berisi instruksi tanpa alasan yang jelas. Remaja yang memahami tujuan di balik aturan cenderung lebih bertanggung jawab dan terbuka dalam berkomunikasi.

Untuk menjaga hubungan yang sehat, Virginia juga mengingatkan orang tua agar mengedepankan transparansi dan rasa saling menghargai. Orang tua perlu menjelaskan alasan logis di balik setiap pembatasan, mendengarkan pendapat anak, serta membangun kepercayaan tanpa sikap terlalu mengontrol, seperti memeriksa ponsel anak tanpa izin.

Penelitian menunjukkan bahwa pola asuh yang hangat namun tegas mampu membentuk remaja yang lebih sehat secara emosional, terbuka terhadap orang tua, serta memiliki rasa tanggung jawab yang lebih baik.

Di lingkungan sekolah, pembatasan penggunaan ponsel juga dinilai efektif untuk meningkatkan fokus belajar dan interaksi sosial siswa, selama diterapkan secara adil dan tidak bersifat menghukum.


Sebagai contoh, ponsel dapat disimpan selama jam pelajaran, namun tetap diizinkan saat waktu istirahat untuk keperluan mendesak. Sekolah juga disarankan menyediakan aktivitas alternatif agar siswa tidak merasa bosan dan tetap terlibat secara sosial.

Virginia menegaskan bahwa keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata menjadi kunci utama dalam mendukung proses belajar dan kesejahteraan emosional remaja.

“Ketika pembatasan diterapkan secara manusiawi dan konsisten, remaja justru bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih fokus, adaptif, dan siap menghadapi tantangan di era digital,” katanya.