EKBIS

Viral Kabar Penerbangan Internasional Ditutup, Kemenhub: Itu Tidak Benar!

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan operasional penerbangan internasional tetap berjalan normal, meski situasi di kawasan Timur Tengah tengah mengalami dinamika.
Dokumentasi - Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi tiba Kertanegara, Jakarta Selatan, Senin (14/10/2024). Foto: NTARA
Dokumentasi - Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi tiba Kertanegara, Jakarta Selatan, Senin (14/10/2024). Foto: NTARA
apakabar.co.id, JAKARTA – Kabar penutupan penerbangan internasional yang sempat beredar luas membuat banyak calon penumpang, terutama jemaah umrah diliputi kecemasan. Pemerintah pun bergerak cepat meluruskan informasi tersebut.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa isu penghentian seluruh penerbangan internasional adalah tidak benar. Ia memastikan hingga saat ini operasional penerbangan internasional tetap berjalan normal, meski situasi di kawasan Timur Tengah tengah mengalami dinamika.

“Informasi mengenai penutupan penerbangan internasional itu tidak benar. Media yang bersangkutan juga telah melakukan klarifikasi dan mencabut berita tersebut,” ujar Dudy dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (18/3).

Penegasan ini penting mengingat periode menjelang Lebaran biasanya diwarnai lonjakan mobilitas masyarakat, termasuk perjalanan ibadah umrah yang banyak dilakukan menjelang dan setelah Lebaran.

Senada, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan memastikan bahwa operasional penerbangan internasional tetap berlangsung. Meski demikian, dinamika di Timur Tengah sempat berdampak pada sejumlah penerbangan.

Dirjen Perhubungan Udara Lukman F. Laisa menyampaikan pemerintah terus memantau kondisi secara intensif dan memastikan seluruh penumpang terdampak mendapatkan penanganan yang layak.

“Kami memastikan penanganan penumpang berjalan dengan baik, aman, dan terkoordinasi,” ujarnya.

Hingga 17 Maret 2026 pukul 10.30 WIB, tercatat dua pesawat masih berstatus tertahan (stranded) di Indonesia. Masing-masing berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, yang dioperasikan oleh Qatar Airways.

Namun, untuk penumpang di luar negeri, situasinya mulai membaik. Per 16 Maret 2026, tidak ada lagi penumpang yang tertahan di Jeddah yang ditangani oleh Qatar Airways, termasuk jemaah umrah yang sebelumnya sempat terdampak.

Maskapai mulai pulih
Seiring mulai dibukanya kembali wilayah udara Uni Emirat Arab, sejumlah maskapai internasional telah kembali mengoperasikan penerbangan, meski masih terbatas.

Maskapai Emirates telah melayani penerbangan dari dan menuju Jakarta serta Denpasar. Namun operasional sempat terganggu akibat masalah pada fasilitas bahan bakar di Bandara Dubai pada 16 Maret 2026, yang menyebabkan keterlambatan dan penyesuaian jadwal.

Etihad Airways juga mulai mengoperasikan penerbangan terbatas dan berencana meningkatkan frekuensi untuk rute Jakarta–Abu Dhabi dan Denpasar–Abu Dhabi.

Sementara itu, Qatar Airways telah menjalankan penerbangan repatriasi sejak 8 Maret 2026 dan kini secara bertahap membuka kembali layanan penerbangan dari Jakarta.

Opsi refund, reschedule, hingga alih maskapai
Bagi penumpang yang terdampak, pemerintah dan maskapai menyediakan sejumlah opsi, mulai dari pengembalian dana (refund), penjadwalan ulang (reschedule), hingga pengalihan ke maskapai lain.

Langkah ini dinilai krusial, terutama bagi jemaah umrah dan penumpang internasional yang memiliki jadwal perjalanan ketat. Pemerintah juga memastikan seluruh proses dilakukan secara bertahap agar tidak menimbulkan penumpukan penumpang.

Di tengah meningkatnya aktivitas mudik Lebaran, kepastian layanan ini menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap transportasi udara.

Meski kondisi mulai terkendali, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa konektivitas penerbangan global sangat rentan terhadap dinamika geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah yang menjadi jalur vital penerbangan dunia.

Gangguan kecil seperti penutupan wilayah udara atau masalah logistik di satu titik dapat memicu efek domino hingga ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Dampaknya tidak hanya dirasakan maskapai, tetapi juga langsung menyentuh penumpang, mulai dari keterlambatan hingga pembatalan perjalanan penting seperti ibadah umrah.

Dalam situasi seperti ini, kemampuan pemerintah dan maskapai dalam merespons cepat menjadi kunci. Namun di sisi lain, kejadian ini juga membuka pertanyaan lebih besar: seberapa siap sistem penerbangan global menghadapi krisis yang berulang?

Jika ketergantungan terhadap jalur-jalur tertentu di kawasan konflik terus tinggi, maka gangguan serupa berpotensi kembali terjadi. Bagi Indonesia, menjaga konektivitas bukan sekadar soal transportasi, tetapi juga menyangkut stabilitas ekonomi, pariwisata, dan kepercayaan publik di tengah ketidakpastian global.