EKBIS

Digitalisasi Buka Jalan Pembiayaan bagi Ribuan Peternak Sapi Perah di Jatim

Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) bersama Pemprov Jawa Timur dan Pemerintah Swiss melalui Sekretariat Negara Bidang Ekonomi (SECO) meluncurkan Sistem Enterprise Resource Planning (ERP) dan inisiatif penguatan akses keuangan inklusif bagi sektor sapi perah di Jawa Timur.
Dokumentasi - Peternak sapi perah memerah susu di Desa Kresek, Wungu, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Sabtu (9/5/2020). Foto: ANTARA
Dokumentasi - Peternak sapi perah memerah susu di Desa Kresek, Wungu, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Sabtu (9/5/2020). Foto: ANTARA
apakabar.co.id, JAKARTA – Upaya memperkuat akses keuangan bagi peternak sapi perah di Jawa Timur memasuki babak baru. Pemerintah bersama berbagai mitra meluncurkan sistem digital dan program penguatan keuangan inklusif yang diharapkan dapat membuka peluang lebih besar bagi peternak untuk memperoleh pembiayaan, asuransi, hingga layanan keuangan formal lainnya.

Peluncuran dilakukan di Koperasi Agro Niaga (KAN) Jabung, Kabupaten Malang, Rabu (11/6), sebagai bagian dari langkah memperkuat ekosistem usaha sapi perah yang lebih modern, transparan, dan berkelanjutan.

Program tersebut hadir untuk menjawab salah satu persoalan utama yang selama ini dihadapi peternak, yakni keterbatasan data usaha yang terdokumentasi dengan baik. Kondisi tersebut sering membuat lembaga keuangan kesulitan menilai profil usaha peternak sehingga akses terhadap kredit dan pembiayaan menjadi terbatas.

Melalui penerapan Enterprise Resource Planning (ERP) di sejumlah koperasi sapi perah, data usaha peternak kini dapat tercatat secara lebih sistematis dan terintegrasi. Sistem ini memungkinkan pengelolaan data produksi susu, kualitas hasil ternak, transaksi usaha, hingga profil anggota koperasi dilakukan secara digital dan diperbarui secara real time.

Dengan data yang lebih lengkap dan terpercaya, lembaga jasa keuangan memiliki dasar yang lebih kuat untuk menilai risiko usaha peternak. Dampaknya, peluang mendapatkan pembiayaan usaha menjadi semakin terbuka.

Peluang pembiayaan dan asuransi peternak
Penguatan akses keuangan inklusif menjadi salah satu tujuan utama program ini. Data yang terdokumentasi secara digital dinilai mampu membantu pengembangan sistem penilaian kredit atau credit scoring yang lebih akurat.

Melalui pendekatan tersebut, peternak tidak hanya berpeluang memperoleh pinjaman modal usaha, tetapi juga mendapatkan akses terhadap produk keuangan lain, seperti asuransi ternak dan layanan keuangan formal yang selama ini belum banyak dimanfaatkan.

Penerapan sistem ERP dilakukan di 3 (tiga) koperasi peternak sapi perah di Jawa Timur, yaitu KAN Jabung di Kabupaten Malang, Koperasi Setia Kawan di Kabupaten Pasuruan, dan Koperasi Tani Wilis di Kabupaten Tulungagung.

Keberadaan sistem digital ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasional koperasi sekaligus memperkuat posisi peternak dalam rantai pasok industri susu nasional.

Sektor strategis untuk ekonomi dan ketahanan pangan
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan bahwa sektor sapi perah memiliki peran penting dalam pembangunan ekonomi daerah serta mendukung ketahanan pangan nasional.

Menurutnya, penguatan sektor ini tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi susu, tetapi juga menyangkut kesejahteraan peternak, penguatan koperasi, dan pembangunan ekonomi pedesaan yang lebih tangguh.

“Melalui digitalisasi dan perluasan akses keuangan, kita sedang membangun fondasi baru bagi pertumbuhan sektor peternakan yang lebih modern, produktif dan berdaya saing,” ujar Khofifah.

Jawa Timur sendiri dikenal sebagai salah satu sentra produksi susu terbesar di Indonesia. Ribuan keluarga peternak menggantungkan penghasilan dari sektor ini sehingga berbagai upaya peningkatan produktivitas dan akses permodalan dinilai sangat penting.

Digitalisasi perkuat inklusi keuangan
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Keuangan, Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, menjelaskan digitalisasi sektor riil menjadi bagian penting dari strategi nasional untuk memperluas inklusi keuangan yang produktif.

Menurutnya, pengembangan ekosistem berbasis data melalui ERP akan meningkatkan kepercayaan lembaga keuangan terhadap usaha peternakan rakyat.

Dengan tersedianya data yang lebih akurat, lembaga keuangan dapat memahami kondisi usaha peternak secara lebih baik sehingga proses penyaluran pembiayaan menjadi lebih efektif dan tepat sasaran.

Selain itu, digitalisasi juga dapat membantu koperasi meningkatkan tata kelola usaha, mempercepat proses administrasi, dan menciptakan peluang ekonomi baru bagi anggotanya.

Program ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Swiss melalui Sekretariat Negara Bidang Ekonomi (SECO) dan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO).

Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Simrin Singh, menilai pemanfaatan teknologi untuk mendukung usaha rakyat dapat memberikan dampak luas bagi perekonomian.

Menurutnya, penggunaan teknologi tidak hanya meningkatkan produktivitas dan akses pembiayaan, tetapi juga memperkuat ketahanan usaha serta membuka peluang kerja yang lebih baik.

Sementara itu, Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Timor-Leste dan ASEAN, Olivier Zehnder, menegaskan bahwa akses yang lebih baik terhadap informasi, teknologi, dan layanan keuangan akan membantu peternak meningkatkan kapasitas usaha mereka.

Peluncuran program ini sekaligus menjadi simbol komitmen bersama antara pemerintah, koperasi, lembaga jasa keuangan, industri pengolahan susu, dan mitra pembangunan untuk memperkuat sektor sapi perah di Jawa Timur.

Ke depan, model kolaborasi ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi pengembangan sektor UMKM lainnya di Indonesia. Dengan dukungan digitalisasi dan akses keuangan yang lebih luas, peternak memiliki peluang lebih besar untuk berkembang, meningkatkan pendapatan, dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional.