OPINI
Bahaya AI dan Pengendaliannya
Oleh: A. Roni Kurniawan*
Ketika film The Terminator pertama kali diputar pada dekade 1980-an, kecerdasan buatan masih lebih banyak hidup di dalam laboratorium dan imajinasi para penulis skenario.
Dalam cerita itu, sebuah sistem kecerdasan buatan militer bernama Skynet menjadi sadar, menganggap manusia sebagai ancaman, lalu memulai perang untuk menguasai dunia.
Beberapa tahun kemudian, film Matrix yang dibintangi Keanu Reeves menghadirkan gambaran yang tidak kalah mengusik. Mesin telah mengambil alih peradaban, sementara manusia hidup dalam dunia virtual yang mereka anggap sebagai kenyataan.
Saat itu, kisah-kisah tersebut dipandang sebagai fiksi ilmiah yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun sesungguhnya, kedua film tersebut sedang mengajukan pertanyaan filosofis yang sangat mendasar.
Apa yang akan terjadi apabila suatu hari mesin benar-benar mampu berpikir seperti manusia? Pertanyaan yang dahulu hanya mengisi ruang bioskop kini mulai hadir dalam ruang diskusi akademik, ruang rapat perusahaan, hingga percakapan di meja makan keluarga.
Perkembangan teknologi membuat imajinasi itu terasa semakin dekat. Robot seperti Sophia yang dikembangkan Hanson Robotics mampu berbicara, mengenali lawan bicara, serta memberikan respons yang semakin natural.
Pada saat yang sama, teknologi deepfake berkembang dengan kecepatan yang luar biasa. Kecerdasan buatan kini dapat menciptakan gambar, suara, dan video seseorang dengan tingkat kemiripan yang sangat tinggi sehingga semakin sulit dibedakan dengan rekaman asli.
Akibatnya, manusia memasuki babak baru dalam sejarah informasi. Sebuah pidato tokoh publik dapat dibuat seolah-olah benar-benar diucapkan, walaupun pidato itu sebenarnya tidak pernah terjadi.
Sebuah video dapat terlihat sangat meyakinkan meskipun seluruhnya merupakan hasil rekayasa. Jika dahulu masyarakat diajarkan untuk percaya pada apa yang dilihat dan didengar, kini keduanya tidak lagi selalu menjadi bukti yang dapat diandalkan.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa tantangan terbesar kecerdasan buatan bukan sekadar soal teknologi, tetapi juga soal kepercayaan. Di era AI, mempertanyakan kebenaran menjadi sama pentingnya dengan memperoleh informasi itu sendiri.
Menariknya, ketika kecerdasan buatan seperti ChatGPT ditanya apakah robot suatu hari dapat memberontak seperti dalam film, jawabannya tidak serta-merta menolak kemungkinan tersebut.
AI menjelaskan pemberontakan semacam itu memerlukan berbagai syarat yang saat ini belum dimiliki, seperti kemampuan memiliki tujuan sendiri, mempertahankan tujuan tersebut, menguasai sistem fisik, dan mampu menghindari upaya manusia untuk mematikannya.
Jawaban itu sekaligus mengingatkan bahwa hingga hari ini, para ilmuwan pun belum benar-benar memahami apa yang disebut sebagai kesadaran manusia.
Jika kesadaran manusia sendiri masih menjadi misteri, tentu masih terlalu jauh untuk menyimpulkan bahwa sistem komputer akan memilikinya.
Namun, AI juga mengakui bahwa apabila suatu saat teknologi memiliki kemampuan fisik, ekonomi, dan digital yang sangat luas, maka berbagai risiko tidak bisa lagi dianggap mustahil.
Meski demikian, ancaman yang jauh lebih nyata justru bukan berasal dari robot yang memiliki kehendak sendiri, melainkan dari manusia yang menggunakan AI untuk mengendalikan manusia lain.
Nilai-nilai Kemanusiaan
Ketika ditanya apakah AI dapat dimanfaatkan untuk mengontrol masyarakat secara negatif, jawabannya justru lebih tegas. Hal tersebut sudah mulai terjadi.
AI dapat digunakan untuk menyusun propaganda yang sangat personal, memproduksi berita palsu dalam jumlah besar, menciptakan video deepfake yang meyakinkan, memantau perilaku masyarakat secara masif, hingga memprediksi sekaligus memengaruhi pilihan konsumen maupun pemilih dalam proses demokrasi.
Dalam kondisi seperti itu, AI bukanlah pelaku utama. AI hanyalah alat. Penggeraknya tetap manusia. Kecerdasan buatan sekadar memperbesar kemampuan seseorang untuk memengaruhi, membentuk persepsi, bahkan memanipulasi orang lain.
Sesungguhnya sejarah telah berulang kali memperlihatkan pola yang sama. Mesin cetak melahirkan revolusi ilmu pengetahuan, tetapi juga menyebarkan propaganda. Radio dan televisi menjadi sarana pendidikan, tetapi pernah pula menjadi alat penyebaran kebencian.
Internet membuka akses pengetahuan tanpa batas, namun sekaligus menjadi ruang berkembangnya hoaks dan penipuan digital.
Energi nuklir menghasilkan listrik yang menopang kehidupan jutaan orang, tetapi juga melahirkan senjata paling mematikan dalam sejarah manusia.
Dengan demikian, hampir setiap lompatan teknologi selalu membawa dua kemungkinan sekaligus, yaitu memperbesar manfaat atau memperbesar kerusakan. AI tidak berbeda dengan penemuan sebelumnya.
Perdebatan lain yang juga semakin banyak mendapat perhatian adalah kemungkinan lahirnya kecerdasan buatan yang jauh melampaui kemampuan manusia atau superintelligence. Banyak peneliti menganggap hal ini sebagai risiko jangka panjang yang patut diperhatikan.
Yang menarik, persoalannya bukan karena AI akan berubah menjadi jahat. Masalah yang lebih rumit justru terletak pada keselarasan tujuan.
Bayangkan seseorang memberikan perintah sederhana kepada AI, misalnya memaksimalkan produksi pangan dunia. Sistem yang sangat cerdas mungkin mampu menemukan cara paling efektif untuk memenuhi target tersebut.
Namun, jika tidak memahami nilai-nilai kemanusiaan, AI dapat mengabaikan kebebasan individu, merusak lingkungan, mengorbankan kesejahteraan sosial, atau melanggar hak-hak manusia demi mencapai tujuan yang diperintahkan.
Karena itu, semakin cerdas sebuah sistem, semakin penting memastikan bahwa tujuan yang dijalankan benar-benar sejalan dengan nilai yang diinginkan manusia.
Kebijakan Manusia
Persoalannya bukan lagi tentang kemampuan teknologi, melainkan tentang kebijaksanaan dalam merancang dan mengarahkannya.
Di sinilah letak pertanyaan yang sering terlupakan. Yang perlu dipikirkan bukan hanya seberapa cerdas AI dapat dibangun, tetapi juga seberapa bijaksana manusia yang menciptakan, mengembangkan, dan menggunakannya. Kecerdasan tanpa kebijaksanaan selalu berpotensi melahirkan persoalan baru.
Sebaliknya, teknologi yang dipadukan dengan tanggung jawab dapat menjadi kekuatan luar biasa untuk mempercepat pendidikan, meningkatkan kualitas layanan kesehatan, memperluas akses informasi, memperbaiki pelayanan publik, hingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, pembangunan kecerdasan buatan tidak boleh hanya berorientasi pada kecepatan inovasi.
Negara perlu menghadirkan tata kelola yang mampu mengantisipasi berbagai dampak negatif AI melalui regulasi yang adaptif, perlindungan terhadap masyarakat, serta investasi yang lebih besar dalam pengembangan ilmuwan dan tenaga ahli yang memahami bukan hanya teknologi, tetapi juga etika penggunaannya.
Di sisi lain, masyarakat juga tidak dapat menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada pemerintah atau perusahaan teknologi.
Literasi AI perlu menjadi gerakan bersama. Masyarakat perlu memahami cara kerja AI, mengenali risiko deepfake, membangun budaya memverifikasi informasi, serta membiasakan penggunaan teknologi secara bertanggung jawab.
Semakin tinggi literasi masyarakat, semakin kecil peluang teknologi dimanfaatkan untuk manipulasi.
Yang tidak kalah penting adalah memperkuat fondasi yang dibangun dari keluarga dan lingkungan terdekat. Nilai kejujuran, empati, tanggung jawab, kemampuan berpikir kritis, serta penghargaan terhadap martabat manusia tidak dapat digantikan oleh algoritma secanggih apa pun.
Nilai-nilai inilah yang akan menjadi kompas ketika teknologi berkembang jauh melampaui kemampuan generasi hari ini.
Masa depan AI tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan komputer, tetapi oleh kualitas karakter manusia yang mengendalikannya.
Kecerdasan buatan adalah ciptaan manusia. Selama manusia mampu menjaga nurani, memperkuat etika, dan menempatkan kemanusiaan sebagai tujuan utama, AI akan tetap menjadi alat yang membantu kehidupan, bukan menguasainya.
Masa depan yang bermartabat tidak dibangun oleh teknologi semata, melainkan oleh manusia yang cukup bijaksana untuk memastikan bahwa setiap kemajuan selalu berjalan seiring dengan kemanusiaan.
*) Praktisi pendidikan dan pengembangan Metode Edukasi Praktis berbasis Psikologi pada Rumah Belajar Bersama (Rbebe)
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY



