EKBIS

Cegah Gelombang PHK, Ekonom Usul Peningkatan Daya Saing

Pencari kerja antre mencari informasi lowongan pekerjaan dalam bursa lowongan kerja Naker Fest Kota Semarang 2025 di Kantor BBVP Semarang, Pedurungan, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (6/5/2025). Foto: Antara
Pencari kerja antre mencari informasi lowongan pekerjaan dalam bursa lowongan kerja Naker Fest Kota Semarang 2025 di Kantor BBVP Semarang, Pedurungan, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (6/5/2025). Foto: Antara
apakabar.co.id, JAKARTA - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai peningkatan daya saing industri dalam negeri penting sebagai salah satu upaya pencegahan potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) menyusul dinamika harga komoditas energi dan bahan baku imbas perang Iran dan Amerika Serikat-Israel.

Ia memaparkan perang di Timur Tengah berdampak langsung pada lonjakan harga komoditas energi, bahan baku industri, dan biaya logistik global menyusul Selat Hormuz yang merupakan koridor energi paling vital dunia. Di sisi lain, ketika harga bahan baku dan energi naik, maka akan meningkatkan pula inflasi di level produsen. Jika konflik berlangsung cukup lama dan margin industri sudah cukup terdesak, maka harga produk olahan pun otomatis ditransmisikan dengan menaikkan harga.

“Itu potensi dampak-dampak ke depannya memang memungkinkan untuk terjadi inflasi di tingkat konsumen dan at some point juga bisa jadi mengarah kepada PHK bagi industri yang kalah bersaing dalam menentukan pricing dan bersaing dari memperebutkan marketshare,” kata Faisal di Jakarta, Jumat (17/4).
Faisal mengkhawatirkan saat kenaikan harga produk akan meningkat, inflasi di produsen ditransmisikan menjadi inflasi di tingkat konsumen. Namun, ia menilai seringkali langkah tersebut tidak selalu mudah untuk dijalankan karena kenaikan harga produk tentu akan membuat persaingan menjadi lebih ketat.

“Karena dilihat dari kemampuan konsumen, ini tidak semua konsumen bisa kemudian mengikuti kenaikan harga produknya. Sehingga di sini terjadi persaingan antara industri untuk bisa menawarkan produk yang lebih kompetitif dari sisi harga,” ujar Faisal.

“Sehingga siapa yang kemudian menang, kemudian dia akan bertahan. Termasuk bertahan dalam artian itu juga mempertahankan konsumen marketshare-nya. Tapi bagi industri-industri yang kalah bersaing, maka ini bisa jadi berdampak terhadap penurunan keuntungan, penurunan penjualan yang artinya bisa berdampak pada penurunan produksi potensi PHK,” imbuhnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan proyeksi PHK tahun ini melonjak 13,6 persen menjadi 100 ribu orang.

“Ada transmisi inflasi bahan baku yang diteruskan ke harga ritel. Tekanan pupuk, plastik, harga energi akan bertemu dengan super el nino. Imbasnya, cost push menciptakan spiral effect ke berbagai jenis usaha, baik industri maupun jasa. Mau tidak mau kan harus ada penyesuaian harga, tapi konsumen belum siap,” pungkasnya.