Rusia Kembali Masuk Natuna, Proyek Blok Tuna Siap Dilanjutkan Juni 2026
Kementerian ESDM menyebut perusahaan minyak dan gas asal Rusia, Joint Stock Company Zarubezhneft (JSC Zarubezhneft), menyatakan komitmennya untuk meneruskan penggarapan Blok Tuna mulai Juni mendatang.
Penulis:
Tim Redaksi
Jumat, 15 Mei 2026 | 13:04 WIB
Ilustrasi - Proyek Belida Extension yang berlokasi di Wilayah Kerja Blok B Laut Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, Rabu (28/12/2022). Foto: SKK Migas
apakabar.co.id, JAKARTA - Di tengah dinginnya hubungan geopolitik global dan ketatnya persaingan energi dunia, sebuah kabar penting datang dari Kota Kazan, Rusia. Pemerintah Indonesia memastikan proyek migas strategis Blok Tuna di Laut Natuna akan kembali dilanjutkan setelah sempat tertunda akibat mundurnya mitra lama proyek tersebut.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut perusahaan minyak dan gas asal Rusia, Joint Stock Company Zarubezhneft (JSC Zarubezhneft), menyatakan komitmennya untuk meneruskan penggarapan Blok Tuna mulai Juni mendatang.
Wakil Menteri ESDM Yuliot menyampaikan kepastian itu usai bertemu langsung dengan jajaran Zarubezhneft di sela Sidang Komisi Bersama ke-14 RI-Rusia Bidang Kerja Sama Perdagangan, Ekonomi, dan Teknik di Kazan, Rusia.
“Kami bertemu dengan Zarubezhneft dan membahas kelanjutan proyek Blok Tuna yang masih tertunda. Zarubezhneft menyatakan komitmennya untuk melanjutkan proyek tersebut pada Juni bulan depan,” ujar Yuliot dalam keterangannya dari Jakarta, Jumat (15/5)
.
Pernyataan itu menjadi sinyal penting bagi masa depan proyek migas di Laut Natuna yang sebelumnya sempat berada dalam ketidakpastian. Proyek tersebut tertunda setelah Premier Oil, anak usaha Harbour Energy, memutuskan mundur dari kerja sama pengembangan blok tersebut.
Padahal, Blok Tuna selama ini dipandang sebagai salah satu aset energi penting Indonesia di kawasan Laut Natuna Utara, wilayah yang juga memiliki nilai strategis secara geopolitik karena berbatasan dengan jalur perairan internasional yang sibuk.
Wakil Menteri ESDM Yuliot. Foto: ANTARA
Blok Tuna dan harapan baru di Natuna
Blok Tuna berada di perairan Natuna dan diperkirakan memiliki cadangan gas yang cukup besar. Kawasan ini menjadi salah satu tumpuan pemerintah untuk meningkatkan produksi gas nasional di tengah penurunan produksi migas dari lapangan-lapangan tua.
Keberadaan proyek ini juga dinilai penting untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai negara produsen energi di kawasan Asia Tenggara.
Zarubezhneft sendiri bukan pemain baru di Indonesia. Perusahaan energi milik negara Rusia itu mulai masuk ke proyek Tuna sejak tahun 2020 melalui anak usahanya, ZN Asia Ltd., dengan mengakuisisi 50 persen participating interest (PI) di proyek tersebut.
Langkah itu sempat menarik perhatian karena dilakukan di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap Laut Natuna yang kaya sumber daya alam.
Namun perjalanan proyek tidak berjalan mulus. Mundurnya Harbour Energy membuat pengembangan Blok Tuna mengalami perlambatan. Situasi global, ketidakpastian investasi energi, hingga dinamika geopolitik internasional ikut memengaruhi arah proyek tersebut.
Kini, komitmen baru Zarubezhneft dianggap membuka kembali peluang percepatan pengembangan blok tersebut.
“Pemerintah akan memberikan dukungan untuk kelanjutan proyek ini,” kata Yuliot.
Rusia perluas bisnis migas di Indonesia
Pertemuan di Kazan bukan hanya membahas kelanjutan Blok Tuna. Dalam diskusi itu, Zarubezhneft juga menyampaikan ketertarikannya untuk menggarap proyek migas lain di Indonesia.
Perusahaan Rusia tersebut disebut ingin terlibat dalam peningkatan produksi migas nasional melalui penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) dan reaktivasi sumur-sumur idle atau sumur yang sudah lama tidak berproduksi.
Teknologi EOR menjadi salah satu metode yang kini banyak dilirik industri migas karena mampu meningkatkan produksi dari lapangan tua tanpa harus membuka wilayah eksplorasi baru yang berisiko tinggi dan mahal. Minat Zarubezhneft itu bahkan sudah dicatat dalam dokumen resmi Agreed Minutes Sidang Komisi Bersama ke-14 RI-Rusia.
Pihak Rusia juga menyatakan keinginan untuk memperluas dan memperkuat kerja sama dengan perusahaan migas Indonesia dalam proyek-proyek baru.
Selain itu, Rusia meminta dukungan pemerintah Indonesia terkait proses compliance bagi perusahaan-perusahaan yang dinominasikan Zarubezhneft untuk memulai pengorganisasian suplai minyak ke Indonesia. Langkah ini menunjukkan bahwa kerja sama energi antara Indonesia dan Rusia tidak lagi sebatas satu proyek, tetapi mulai mengarah pada kemitraan yang lebih luas di sektor minyak dan gas.
Tantangan dan perhitungan politik energi
Meski demikian, langkah Zarubezhneft di Indonesia tetap menjadi perhatian banyak pihak. Perusahaan-perusahaan energi Rusia selama beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan dan pembatasan dari negara-negara Barat akibat konflik geopolitik global.
Karena itu, keberlanjutan investasi Rusia di sektor energi Indonesia akan sangat bergantung pada stabilitas regulasi, kepastian bisnis, serta dinamika politik internasional.
Di sisi lain, Indonesia tetap membutuhkan investasi besar untuk menjaga ketahanan energi nasional. Pemerintah menargetkan produksi minyak nasional dapat meningkat dalam beberapa tahun ke depan, sementara kebutuhan energi domestik terus bertambah.
Dalam konteks itulah, kelanjutan Blok Tuna menjadi lebih dari sekadar proyek migas biasa. Ia menjadi simbol bagaimana Indonesia mencoba menjaga keseimbangan antara kepentingan energi nasional, investasi asing, dan dinamika geopolitik dunia yang terus berubah.