NEWS
DPR Minta Prioritaskan Perbaikan Sekolah Terdampak Bencana
apakabar.co.id, JAKARTA - Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian memandang perbaikan gedung sekolah yang terdampak bencana di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, harus menjadi prioritas pemerintah.
Hetifah mendesak Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk segera menindaklanjuti data kebutuhan yang tersedia untuk mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi sekolah yang terdampak.
"Pembangunan kembali gedung sekolah serta sarana dan prasarana pendidikan di tiga provinsi terdampak harus menjadi prioritas,” ujarnya dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (20/1).
Sejauh ini, kata Hetifah, penanganan pasca bencana banjir dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi tersebut pada 25 November 2025 lalu masih menyisakan pekerjaan besar, terutama di sektor pendidikan.
Oleh karena itu ia mendorong percepatan pemulihan infrastruktur pendidikan agar hak belajar anak-anak di wilayah terdampak tetap terpenuhi.
Hetifah kemudian menekankan pentingnya perbaikan sekolah yang rusak, penyediaan ruang kelas darurat, serta fasilitas belajar dan bermain anak di kawasan hunian sementara (huntara). Menurutnya, akses pendidikan tidak boleh terputus hanya karena sekolah berada jauh dari lokasi pengungsian.
Diketahui, data sementara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) per 14 Januari 2026 menunjukkan bahwa terdapat 4.639 satuan pendidikan terdampak di tiga provinsi. Sebanyak 4.440 sekolah atau sebesar 96 persen satuan pendidikan sudah dapat digunakan kembali.
Selain itu, diketahui pula bencana tersebut juga berdampak pada 59.397 guru serta 683.259 siswa yang proses pembelajarannya terganggu. Adapun tingkat kerusakan sekolah meliputi 1.529 sekolah rusak sedang, 1.225 rusak berat, 1.642 rusak ringan, dan 180 sekolah mengalami rusak total.
“Dalam situasi darurat, keselamatan tentu menjadi prioritas utama. Namun hak anak untuk mendapatkan pendidikan tidak boleh terabaikan. Banyak anak terpaksa berhenti sekolah atau kesulitan belajar karena jarak sekolah yang jauh dari hunian sementara, atau karena sekolahnya rusak," ujarnya.
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY

