EKBIS

Kadin Pede Indonesia Mampu Bertahan dari Krisis

Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie (kiri) bersama dengan Ketua Umum BPP HIPMI Akbar Himawan Buchari (kanan) melakukan pertemuan di Jakarta. Foto: Kadin
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie (kiri) bersama dengan Ketua Umum BPP HIPMI Akbar Himawan Buchari (kanan) melakukan pertemuan di Jakarta. Foto: Kadin
apakabar.co.id, JAKARTA - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) menegaskan bahwa Indonesia memiliki rekam jejak kuat dalam menghadapi berbagai krisis ekonomi global dan menjadi lebih kuat setelah melewatinya.

Ketua Umum Kadin, Anindya Bakrie mengungkapkan setiap tekanan yang terjadi justru menjadi momentum untuk memperkuat fundamental ekonomi dan mendorong perbaikan ke depan.

"Kita di dunia usaha melihat dari krisis ke krisis, Indonesia faktanya, terlepas dari kritik, selalu survive dan jadi lebih baik," katanya dalam konferensi pers Kadin Business Pulse Q1 2026 di Jakarta, Jumat (24/4).
Anindya menyampaikan tantangan seperti pelemahan nilai tukar rupiah saat ini tidak terlepas dari dinamika global, terutama terkait pergerakan dolar AS dan perubahan perilaku investor dalam mencari likuiditas.

Bahkan, aset yang selama ini dianggap sebagai safe haven seperti emas juga mengalami tekanan akibat dinamika di pasar global.

Ia menilai kondisi itu lebih disebabkan oleh penarikan likuiditas, bukan karena memburuknya fundamental ekonomi.

“Karena yang dicari oleh pasar adalah mana saja yang bisa memberikan likuiditas. Jadi selama dilihat ada likuiditas di suatu mata uang termasuk rupiah pasti menjadi suatu kemungkinan untuk menarik dalam," katanya.
Menghadapi situasi ini, Kadin mendorong pemerintah dan pelaku usaha untuk memperkuat sektor ekspor sebagai sumber devisa. Produk-produk nonmigas seperti tekstil, garmen, furnitur, alas kaki, hingga elektronik dinilai memiliki potensi besar untuk terus didorong ke pasar global.

“Apapun pokoknya yang bisa menghasilkan devisa harus didorong," katanya.

Selain ekspor, investasi juga menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi. Anindya menekankan bahwa arus investasi tidak hanya membawa devisa, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan memperkuat aktivitas ekonomi domestik.

Di sisi lain, ia menyoroti pentingnya menjaga arus kas (cash flow) di tengah tekanan ekonomi global. Menurut dia, meskipun neraca keuangan (balance sheet) Indonesia masih relatif kuat, namun tekanan pada sisi pendapatan dirasakan hampir di seluruh dunia.
Ia mencontohkan seperti tekanan pada sisi harga minyak dunia yang memberikan dampak terhadap porsi subsidi yang diberikan oleh pemerintah.

Lebih lanjut, dalam konteks dunia usaha, Anindya melihat adanya dua respons utama terhadap kondisi saat ini. Sebagian pelaku usaha memilih melakukan efisiensi sekaligus memanfaatkan momentum untuk berinvestasi, sementara sebagian lainnya cenderung menahan ekspansi dan fokus bertahan.

"Sebagai mitra strategis pemerintah, Kadin terus berupaya memberikan masukan sekaligus membuka peluang baru di sektor perdagangan dan investasi," katanya.