EKBIS

Ekonomi Tumbuh, Tapi Rupiah Terus Melemah, Primus ke Gubernur BI: Saatnya Mundur

Gubernur BI Perry Warjiyo memberikan pemaparan kepada media terkait hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Selasa (21/8/2024). Foto: ANTARA
Gubernur BI Perry Warjiyo memberikan pemaparan kepada media terkait hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Selasa (21/8/2024). Foto: ANTARA
apakabar.co.id, JAKARTA - Rapat Komisi XI DPR RI memanas setelah anggota DPR dari Fraksi PAN, Primus Yustisio, melontarkan desakan agar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengundurkan diri menyusul terus melemahnya kurs rupiah terhadap dolar AS.

Menurutnya, pelemahan rupiah tersebut menjadi anomali mengingat klaim pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen pada kuartal I 2026.

"Pak Perry yang saya hormati, kadang pak kalau kita mengambil tindakan gentleman, itu bukan penghinaan, Pak. Saya berikan contoh mungkin saatnya sekarang bapak mengundurkan diri. Tidak ada salah. Selanjutnya terserah Bapak, tentu saja. Tapi itu bukan sikap penghinaan," tegas Primus dalam rapat kerja dengan BI di Kompleks DPR RI, Jakarta, Senin (18/5).
Diketahui, nilai tukar rupiah sempat menyentuh level terendah di angka 17.648 per dolar AS.
Primus lantas menyebut langkah mundur bisa menjadi bentuk tanggung jawab moral ketika institusi dinilai gagal menjaga stabilitas moneter.

Ia kemudian membandingkan sikap pejabat publik di sejumlah negara seperti Jepang dan Korea Selatan yang memilih mundur saat dianggap tidak mampu menjalankan tugas secara optimal.

"Anda akan lebih dihormati seperti di Korea ataupun di Jepang. Kalau Anda tidak bisa melakukan tugas Anda dengan baik, seperti itu, tidak ada salahnya," sambung Primus.

Primus juga menyoroti kontradiksi antara klaim pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,61 persen pada kuartal I 2026 dengan kondisi rupiah yang justru terus melemah terhadap berbagai mata uang asing.

Menurut dia, tekanan terhadap rupiah bukan hanya terjadi terhadap dolar AS, tetapi juga terhadap dolar Singapura, ringgit Malaysia, dolar Australia hingga euro.

“Kalau ekonomi tumbuh tinggi, seharusnya ada kekuatan fundamental yang tercermin juga pada mata uang kita. Tapi sekarang rupiah justru terus melemah,” katanya.

Dalam kritiknya, Primus turut mengutip sebuah hadis mengenai pentingnya kompetensi dalam menjalankan amanah jabatan.

Sementara itu, Perry Warjiyo menegaskan bahwa fokus utama BI bukan mempertahankan angka kurs tertentu, melainkan menjaga stabilitas pergerakan nilai tukar rupiah.
Menurut Perry, indikator utama yang digunakan BI adalah tingkat volatilitas atau fluktuasi rupiah dalam periode tertentu, bukan semata-mata posisi nominal kurs terhadap dolar AS.

“Kami berbicara soal stabilitas nilai tukar, bukan level nilai tukarnya,” ujar Perry.

Ia menjelaskan, BI menggunakan pendekatan rata-rata pergerakan 20 hari untuk mengukur apakah gejolak rupiah masih berada dalam batas yang terkendali.