EKBIS
Tekan Angka Kemiskinan: INDEF: Tingkatkan Kualitas Pendidikan
apakabar.co.id, JAKARTA - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengungkapkan pemerintah perlu mendorong peningkatan kualitas pendidikan bila ingin menekan angka kemiskinan.
Peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan dinilai dapat memberi potensi peningkatan pendapatan. Sebab, masyarakat akan dapat memperoleh pekerjaan yang lebih baik.
“Solusi pengentasan kemiskinan adalah peningkatan kualitas pendidikan dan pengembangan skill,” ujar Direktur Eksekutif INDEF, Esther Sri Astuti di Jakarta, Kamis (5/2).
Ia menyoroti sekolah di Indonesia yang menggratiskan SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan), namun siswa tetap harus membeli buku dan lain-lain. Semestinya, menurut Esther, sekolah gratis sampai di tingkat SMA meliputi buku dan lain-lainnya, bukan hanya SPP.
“Kemudian, kesejahteraan guru dan sarana prasarana pendidikan harus diperbaiki agar para guru semangat membantu muridnya,” ujarnya.
Esther juga menyampaikan standar kemiskinan sebenarnya bisa diukur melalui aspek lainnya, tidak hanya berdasarkan jumlah pendapatan per kapital.
“Bisa juga diukur melalui aspek multidimensional, seperti pendidikan, kesehatan, dan standar kelayakan hidup,” kata dia.
Menurut Esther, terkadang masyarakat dikatakan miskin ketika diukur dari pendapatan per kapita, tetapi dilihat dari aspek multidimensional belum tentu masuk kategori miskin. Lebih lanjut, ia juga menyampaikan pemerintah perlu menyesuaikan garis kemiskinan.
“Berdasarkan Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional), garis kemiskinan per September 2025 tercatat sebesar Rp641.443 per kapita per bulan, atau setara Rp3.053.269 per rumah tangga miskin,” ucapnya.
Diwartakan sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan angka kemiskinan Indonesia pada September 2025 tercatat sebesar 8,25 persen, turun 0,22 poin persen dibandingkan Maret 2025 yang berada di level 8,47 persen.
“Jumlah penduduk miskin pada September 2025 sebanyak 23,36 juta orang atau turun sekitar 490 ribu orang dibandingkan Maret 2025,” kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis.
Secara tren, Amalia menyampaikan bahwa jumlah maupun persentase penduduk miskin terus menunjukkan penurunan.
BPS mencatat, jumlah penduduk miskin pada Maret 2025 masih berada di angka 23,85 juta orang, sebelum turun menjadi 23,36 juta orang pada September 2025.
Sementara itu, jumlah rumah tangga miskin secara nasional pada September 2025 tercatat sebanyak 4,91 juta rumah tangga. Meski demikian, Amalia memandang pentingnya pemahaman publik terhadap metode penghitungan angka kemiskinan.
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY


