NEWS
AMPB: Polisi Hambat Keberangkatan Armada Bus Massa Aksi Agustus
apakabar.co.id, Jakarta- Rencana keberangkatan rombongan warga dari Pati, Jawa Tengah, menuju Jakarta untuk mengawal aksi demonstrasi 27 Agustus diwarnai dugaan intimidasi dan tekanan terstruktur. Sejumlah armada bus yang rencananya mengangkut massa berulang kali batal mengaspal akibat tekanan yang diduga dilakukan pihak kepolisian.
Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) Supriyono alias Botok mengungkapkan usaha massa aksi untuk mengamankan sarana transportasi umum dari daerah asal berulang kali membentur tembok tebal. Kendati kesepakatan uang muka (DP) telah diserahkan kepada pihak Perusahaan Otobus (PO), pembatalan sepihak terus terjadi secara mendadak dan sepihak.
"Kita sudah DP, ternyata dua hari dibatalkan. Karena diintervensi oleh pihak kepolisian," ungkap Supriadi, atau yang akrab disapa Boto, di hadapan awak media di depan gerbang Kompleks Senayan, Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Botok memaparkan pembatalan yang terjadi lebih satu kali tersebut kemudian membentuk pola adanya dugaan perintangan masyarakat menyampaikan aspirasi. Upaya pemesanan susulan melalui dana swadaya warga juga bernasib sama akibat bayang-bayang tekanan aparat. "Belum. Sebentar ya, berkat hasil swadaya bus lagi 6 kita DP. Satu hari dibatalkan," lanjut Botok.
Mengunci Perjanjian dengan PO Bus
Botok memaparkan menghadapi pembatalan sistematis yang diduga dilakukan kepolisian, panitia pergerakan mengubah taktik transaksi. Demi membentengi pemilik armada bus agar tidak goyah atau mundur akibat tekanan eksternal, draf perjanjian sewa dibuat ekstra ketat dengan skema pembayaran lunas dan sanksi finansial berat.
"Terus alhamdulillah kemarin kita dapat masukan, kita bayar kontan, kita membuat surat perjanjian. Kalau pihak bus membatalkan, harus berani menanggung atau didenda tiga kali lipat dari biaya sewa," ujarnya.
Langkah taktis ini terbukti ampuh melumpuhkan efek intervensi. Pemilik armada yang terikat klausul denda tidak berani membatalkan pesanan meski tekanan dari pihak kepolisian dilaporkan masih terus dirasakan.
"Selain itu ternyata masih diintervensi oleh kepolisian, tapi mereka tidak berani membatalkan karena sudah ada surat perjanjian," ungkapnya.
Rombongan Massa Aksi Mengalami Penyekatan
Dugaan perintangan oleh aparat tidak berhenti pada urusan administrasi armada. Pada siang hari sekitar pukul 13.00 WIB, sebanyak lima bus rombongan warga yang meluncur dari Pati menuju Jakarta dihadang dan dicegat oleh aparat kepolisian di jalan raya. Rombongan sempat dilarang melanjutkan perjalanan.
Tim Advokasi AMPB, Vender Waruwu mengecam aksi penyekatan lima bus yang mengangkut massa aksi 27 Agustus di Jakarta.
Aksi penyekatan ini langsung mendapat respons keras dari tim advokasi pendamping di lapangan. "Temen-temen pada hari ini sempat dihadang dari Pati ke Jakarta. Hari ini di Pati, lima bus itu," kata Tim Advokasi AMPB, Vender Waruwu yang mendampingi rombongan.
Pentolan lainnya Aliansi Masyarakat Pati Bergerak (AMPB), Teguh Istiyanto memastikan bahwa tindakan pencegatan dan pelarangan jalan di lokasi tersebut murni dilakukan oleh aparat kepolisian di lapangan.
"Siang tadi Pati lima bus berangkat tapi dicegat di jalan, tidak boleh melanjutkan perjalanan, aparat pasti," tegas Teguh.
Di tengah situasi penghadangan fisik tersebut, tim advokasi AMPB dan massa di lokasi langsung melakukan negosiasi secara alot. Hasilnya, rombongan massa aksi dari Pati kemudian dapat melanjutkan perjalanan menuju ke Jakarta.
"Tadi jam 1 siang, 5 bus berangkat dari Pati sudah ditahan ya. Di apa ya, dicegatlah. Dicegat oleh pihak kepolisian. Tadi kita koordinasi, akhirnya teman-teman sekarang sudah mulai jalan lagi," ujar Botok.
Mengenai apa yang dialami oleh massa aksi dari Pati, apakabar.co.id sudah berupaya mengonfirmasi Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko. Namun hingga berita terbit, tak ada jawaban yang diberikan.
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY

