NEWS
BRIN Usul Data Risiko Bencana Perlu Model Keterpaparan Terpadu
apakabar.co.id, JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut Indonesia masih menghadapi tantangan berupa fragmentasi data risiko bencana yang tersebar di berbagai instansi, sehingga diperlukan model keterpaparan multi-bahaya yang terpadu untuk memperkuat perencanaan pembangunan dan ketahanan bencana.
Wakil Kepala BRIN, Amarulla Octavian mengatakan berbagai data penting sebenarnya telah tersedia di sejumlah lembaga, seperti Kementerian Pekerjaan Umum, Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta perguruan tinggi.
"Saat ini lanskap data di Indonesia mulai dibangun melalui Kebijakan Satu Data dan Satu Data Bencana Nasional. Namun, data masih terfragmentasi. Data berharga tersedia di berbagai institusi, tetapi ketiadaan basis data keterpaparan nasional yang terpadu membatasi kemampuan kita untuk memproyeksikan dampak secara efektif," katanya dalam keterangan di Jakarta, Rabu (10/6).
Amarulla menilai belum adanya basis data keterpaparan nasional yang terintegrasi membuat kapasitas dalam memprediksi dampak bencana dan menyusun mitigasi yang efektif masih terbatas.
Ia menilai pengurangan risiko bencana tidak dapat dilakukan secara sektoral, karena pengembangan model keterpaparan berskala nasional memerlukan kontribusi berbagai pihak, mulai dari BPS, BMKG, Badan Geologi, BNPB, perguruan tinggi, hingga komunitas riset.
"Tidak ada satu institusi pun yang dapat membangun dan memelihara model keterpaparan skala nasional sendirian. Karena itu, kita perlu membuka ruang kolaborasi, mengatasi tantangan interoperabilitas data, dan berbagi keahlian untuk menghasilkan model keterpaparan multi-bahaya yang bermanfaat bagi perencanaan pembangunan dan pengurangan risiko bencana," ujar Amarulla Octavian.
Sementara itu, Wakil Menteri Pekerjaan Umum, Diana Kusumastuti mengungkapkan posisi Indonesia yang berada pada pertemuan lempeng tektonik utama dunia menjadikannya sebagai salah satu negara dengan tingkat risiko bencana tinggi.
Menurutnya, risiko bencana tidak hanya ditentukan oleh ancaman alam, tetapi muncul ketika ancaman tersebut berinteraksi dengan manusia, infrastruktur, aktivitas ekonomi, dan lingkungan yang rentan.
"Memahami keterpaparan dan kerentanan sama pentingnya dengan memahami ancaman itu sendiri," ujarnya.
Diana menyoroti kawasan Palung Jawa sebagai salah satu sistem tektonik paling signifikan di Indonesia yang berpotensi memicu gempa bumi dan tsunami.
Karena itu, penguatan informasi keterpaparan di kawasan tersebut dinilai penting untuk mendukung pengambilan keputusan dan prioritas investasi yang mampu melindungi masyarakat serta infrastruktur vital.
"Memahami dimana masyarakat tinggal, infrastruktur berada, dan aktivitas ekonomi terkonsentrasi merupakan fondasi penting untuk mengurangi risiko bencana dan meningkatkan kualitas perencanaan pembangunan," jelasnya.
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY