LINGKUNGAN HIDUP
Geopix Soroti Pembukaan Bandung Zoo, Desak Evaluasi Kesejahteraan Satwa
Organisasi pemantau lingkungan dan konservasi, Geopix, kembali menyampaikan keprihatinan serius terkait dibukanya Bandung Zoo untuk kunjungan publik.
apakabar.co.id, JAKARTA - Organisasi pemantau lingkungan dan konservasi, Geopix, kembali menyampaikan keprihatinan serius terkait dibukanya Bandung Zoo untuk kunjungan publik. Pembukaan tersebut dinilai dilakukan tanpa melalui proses evaluasi menyeluruh maupun audit pengelolaan yang transparan kepada masyarakat.
Di tengah konflik pengelolaan yang berkepanjangan, langkah ini dianggap berisiko terhadap keselamatan dan kesejahteraan satwa yang ada di dalamnya.
Geopix menemukan dugaan kondisi memprihatinkan pada sejumlah satwa liar dilindungi, seperti Orangutan, Gajah, dan Monyet Hitam. Satwa-satwa tersebut diduga membutuhkan perhatian khusus dan evaluasi mendesak, terutama terkait pola pemeliharaan dan lingkungan hidupnya di kebun binatang tersebut.
Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, menegaskan bahwa keselamatan dan kesejahteraan satwa seharusnya menjadi syarat utama sebelum kebun binatang dibuka kembali untuk publik. Menurutnya, pembukaan Bandung Zoo tidak boleh dilakukan secara tergesa-gesa tanpa memastikan seluruh standar pengelolaan benar-benar terpenuhi.
“Kami mendesak pengelola Bandung Zoo, Pemerintah Kota Bandung, serta Kementerian Kehutanan agar tidak membuka kembali kebun binatang sebelum kondisi satwa dan sistem pengelolaan dinyatakan layak,” ujar Annisa di Bandung, Sabtu (17/1).
Ia menambahkan, "Pemenuhan pakan saja tidak cukup. Aspek lain seperti kesejahteraan tenaga kerja dan, yang paling penting, kesejahteraan satwa harus dipastikan secara utuh."
Annisa juga menyoroti temuan lapangan terkait dugaan stres pada Orangutan, Gajah, dan Monyet Hitam yang dinilai sangat mengkhawatirkan. Menurutnya, kondisi tersebut tidak boleh diabaikan karena berpotensi memperburuk kesehatan fisik dan mental satwa.
Kekhawatiran Geopix diperkuat oleh pendapat Indira Nurul Qomariah, Senior Biologist sekaligus Wildlife Curator dari Center for Orangutan Protection. Indira menjelaskan bahwa pada primata, seperti Orangutan dan Monyet Hitam, kebotakan di bagian lengan dan kaki dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari penyakit kulit, malnutrisi, hingga stres akibat kebosanan atau perilaku kompulsif.
“Kondisi tersebut bisa juga dipicu oleh penyakit genetik seperti alopecia. Oleh karena itu, diperlukan pemeriksaan medis dan observasi perilaku lebih lanjut untuk memastikan penyebab pastinya,” jelas Indira.
Selain primata, Indira juga menyoroti kondisi Gajah yang diduga menunjukkan gejala stres serius. Ia menyebut adanya perilaku stereotip berupa swaying, yakni gerakan berulang tanpa tujuan, sebagai salah satu indikator stres pada gajah.
Perilaku ini umumnya muncul akibat lingkungan yang tidak mendukung kesejahteraan satwa, seperti minimnya pengayaan lingkungan dan kurangnya interaksi sosial dengan gajah lain.
Menurut Geopix, pembukaan kebun binatang di tengah indikasi gangguan kesejahteraan satwa justru berpotensi memperburuk kondisi mereka. Hal ini juga mencerminkan lemahnya tata kelola konservasi eksitu di Indonesia.
Otoritas publik dinilai memiliki tanggung jawab hukum dan moral untuk memastikan seluruh lembaga konservasi mematuhi standar kesejahteraan satwa, transparansi pengelolaan, serta pengawasan yang ketat.
Sebelum Bandung Zoo kembali dibuka secara penuh, Geopix mendesak dilakukannya evaluasi menyeluruh terhadap kondisi satwa dan fasilitas kandang, audit independen oleh tenaga ahli yang kompeten, serta keterbukaan informasi kepada publik terkait kesehatan dan perawatan satwa.
Selain itu, pembukaan kebun binatang sebaiknya ditunda hingga seluruh standar kesejahteraan satwa benar-benar terpenuhi.
Geopix menegaskan bahwa kondisi satwa di Bandung Zoo hanyalah puncak dari fenomena 'gunung es' persoalan kesejahteraan satwa di kebun binatang dan lembaga konservasi di Indonesia. Kepercayaan publik, menurut mereka, hanya dapat dibangun melalui komitmen nyata dan berkelanjutan terhadap perlindungan serta kesejahteraan satwa.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK