OPINI
Sastra untuk Penyadaran Kebangsaan
Oleh: Sutejo*
Bulan Agustus adalah bulan "kenang juang" bagi bangsa Indonesia yang dapat dimanfaatkan untuk melipatgandakan nasionalisme. Cinta kebangsaan yang mengakar, laten ke dalam jiwa, kemudian menjadi roh bangsa sehingga kokoh laksana akar pohon besar bernama Indonesia. Bagi saya, salah satu akar terkuat itu berupa seperangkat mental spiritual bangsa yang bisa ditumbuhkan melalui budaya cinta sastra.
Bangsa besar sejatinya dibangun oleh dua kekuatan yang saling melengkapi. Pertama, kekuatan "fisik" berupa wilayah, pemerintahan, ekonomi, teknologi, partai politik, dan pertahanan. Kedua, kekuatan batin berupa nilai, keyakinan, memori kolektif, cita-cita, dan rasa cinta tanah air. Persoalan kedua itulah justru menjadi wilayah yang tiada batas: samudera tak bertepi.
Bangsa yang hanya mengandalkan pembangunan fisik, terlihat megah tetapi bisa jadi rapuh dari dalam. Sebaliknya, bangsa pemilik kekuatan batin dengan seperangkat kecerdasan mental yang kuat akan mampu bertahan menghadapi berbagai krisis di depannya. Sebab, rakyatnya telah berkesadaran. Mereka adalah bagian "yang hidup" dari sebuah perjalanan sejarah dan kebudayaan bangsa. Contoh mutakhir adalah bangsa Iran (Persia), yang merawat ketahanan militernya berbasis simbol-simbol literasi kesastraan mereka.
Membangun kekuatan batin bangsa butuh kehadiran sastra. Sastra memiliki kontribusi besar, sastra bukan sekadar kumpulan cerita, puisi, novel, atau drama yang ditulis sebagai hiburan belaka.
Sastra adalah ruang belajar untuk menjadi manusia berkarakter kuat. Melalui kisah-kisah rekaan, sastra mengajarkan empati, keberanian, pengorbanan, kejujuran, keadilan, dan cinta kasih.
Dari kumpulan puisi Taufiq Ismail, Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (2000), misalnya, kita akan menemukan kembali rasa malu ketika melihat realitas bangsa Indonesia yang penuh paradoks dan ironi. Arafat Nur dengan sejumlah novel kritiknya terhadap militerisme di Aceh, dengan tonggak novel Lampuki (2011), menyentakkan kesadaran akan pentingnya penataan ulang mentalitas berbangsa agar terbangun sebuah harmoni yang indah suatu negara.
Kumpulan puisi KH Mustofa Bisri atau Gus Mus, Pahlawan dan Tikus (2019) mengingatkan akan realitas korupsi tanah air di satu sisi dan di sisi lain bagaimana pentingnya modal mental spiritualitas bangsa yang arif dibangun. Sebuah kritik atas kerakusan dan kepalsuan akan hilangnya nilai kejujuran di masyarakat. Tentu, ini sebuah refleksi empirik dan estetik yang bisa melahirkan kesadaran kita dalam memantik ulang kesadaran akan nilai moralitas berbangsa.
Nilai-nilai moralitas dalam karya sastra jelas dapat dijadikan "cara sentuh yang lembut" untuk membangun fondasi utama akan tumbuhnya nilai luhur: cinta kebangsaan. Bayangkan, jika para politikus, pejabat, dan negarawan kita gila sastra, maka akan lahir rakyat dengan kegilaan sama. Jiwa bangsa terawat dengan sendirinya, alami dan menyemesta.
Cinta kebangsaan tidak bisa lahir via indoktrinasi. Sebaliknya, cinta kebangsaan justru akan tumbuh melalui pengalaman batin berulang. Ketika seseorang bangga pada budayanya, tersentuh oleh sejarah kearifan bangsanya, memahami derita sesama warga negara, serta ikut merasakan dan menyalakan harapan mereka; di situlah rasa dan sadar cinta bangsa mulai berakar. Sastra punya kemampuan unik menghadirkan pengalaman batin tanpa pemaksaan, apalagi "pemerkosaan".
Berbicara kontribusi sastra kepada bangsa, tentu, akan begitu banyak yang mempertanyakan, termasuk para pendidik bangsa ini, tidak terkecuali guru bahasa dan sastra Indonesia. Namun, mari berenung sejenak, dari mana sesungguhnya kesadaran manusia laten bisa dibangun. Salah satunya lewat cerita dan puisi. Berbicara keduanya, jelas kita sedang "menyetubuhi" karya sastra untuk melahirkan nilai dan karakter kehidupan.
Sementara, “persetubuhan” akan melahirkan orok atau janin. Janin yang dilahirkan dari rahim sastra adalah bayi kesadaran: roh cinta kemanusiaan. Berbicara nasionalisme (cinta bangsa) sejatinya berbicara masalah cinta kemanusiaan. Itu, hal hakiki dalam hidup kesemestaan kita.
Maka, kontribusi itu nyata bagi pembaca: mengilhami pikiran dan jiwa; menjadi obor internalisasi nilai karakter; mempengaruhi perilaku; dan menjadi adab dan budaya yang melekat pada pribadi kita. Jika dikaitkan dengan nilai cinta kebangsaan, maka akan lahir manusia Indonesia yang memiliki pikiran, kepedulian, pengorbanan, gairah, rasa memiliki, takut kehilangan, dan kecemburuan tinggi pada bangsanya.
Mari disadari kontribusi sastra bagi suatu bangsa itu nyata adanya. Sastra menjadi rumah kesadaran untuk menemukan kembali hakikat cinta, kemanusiaan, keadilan, dan kebangsaan hakiki. Sastra berangkat dari kegelisahan, kegetiran, bahkan tragedi bangsa, kemudian direfleksikan secara estetis dan imajinatif oleh sastrawan.
Dengan begitu, sastra menjelma pengetuk pintu hati manusia, simulator pikiran dan jiwa, dan kesaksian suara cinta bangsa yang sesungguhnya. Dalam konteks hidup berbangsa, sastra adalah corong nasionalisme sejati untuk memerdekakan jiwa manusia.
Kalau era digital dipenuhi banjir informasi, media sosial, dan cenderung berpikir cepat; sastra hadir mengajak kita berjeda sejenak untuk mendengarkan suara hati dan dengung kesadaran lain. Sastra melatih kesabaran membaca, berenung, memaknai ulang secara holistik, sehingga kita berani melihat kehidupan dari sudut pandang berbeda. Ragam kecerdasan demikian, kiranya makin dibutuhkan dalam kehidupan kebangsaan Indonesia.
Kematangan Emosi
Psikologi modern menjelaskan bahwa keputusan manusia tidak sepenuhnya ditentukan oleh logika. Perasaan, pengalaman emosional, dan memori kita justru punya pengaruh besar terhadap perilaku manusia.
Pendidikan karakter yang hanya mengandalkan ceramah dan indoktrinasi akan mengalami kegagalan. Kumpulan cerpen karya Sapta Arif, Pohon Hayat dan Cinta Martina (JBD, 2026), menyadarkan kita tentang bagaimana cara merawat nasionalisme dengan mengajak untuk bercermin pada sejumlah kisah di balik tragedi 1965.
Ajakan itu dipertegas dengan pertanyaan, "Masih menarikkah sejarah kelam bangsa Indonesia akibat peristiwa berdarah pada 1965 diceritakan kembali?" Dengan kacamata nasionalisme politis, hampir pasti, jawabnya masih menarik, bahkan sangat penting untuk mengingatkan generasi muda mengenai kisah pengkhianatan atas nama ideologi, meskipun banyak pihak mempertanyakan kemurnian fakta atas semua tuduhan yang tidak menyisakan celah pembelaan terhadap pelaku dan beberapa pihak yang dituduh terkait dengan pelaku pengkhianatan tersebut.
Sapta Arif sendiri secara estetik naratif mengajak kita berenung kembali tentang pentingnya belajar dari tragedi bangsa untuk menyentuh kembali hakikat nilai kesadaran cinta kemanusiaan yang dilesapkan ke dalam sejumlah cerita pendek di dalamnya.
Dia tidak terjebak dalam motif untuk mengajak pembaca membenci penguasa Orde Baru, sekaligus membela orang-orang yang terlibat atau dilibatkan dalam pemberontakan berdarah itu. Sebaliknya, sang cerpenis mengajak untuk menemukan kembali akan pentingnya "tapak kemanusiaan" yang menjadi akar dasar nasionalisme sebuah bangsa.
Beragam nilai moral dan spiritual yang ditanamkan melalui karya sastra akan lebih mudah lindap, kala seseorang menikmati sendiri pergulatan emosi, sekalipun hanya pengalaman imajinatif dengan membaca sastra. Bagi saya, di sinilah, kontribusi sastra sebagai simulator pikiran dan jiwa menarik dieksplorasi, dinikmati bagi generasi muda Indonesia (Sutejo, 2026).
Saat kita membayangkan perjalanan hidup tokoh yang berjuang bagi keluarga, sesungguhnya kita ikut merasakan kecemasan, harapan, dan penderitaannya. Kala membaca kisah guru Muslimah dalam novel Laskar Pelangi (Andrea Hirata), misalnya, kita tidak saja mengenal fakta, tetapi merasakan makna pengabdian dan perjuangan tulus yang dilakukan Ibu Muslimah bagi bangsanya. Sebuah pengalaman emosional yang bisa membentuk empati semakin dalam dibandingkan sekadar nasihat yang dikhotbahkan.
Proses ini dikenal sebagai identifikasi emosional jika ditilik dari psikologi sastra. Kita tak sadar menempatkan diri pada posisi tokoh, sehingga mampu memahami kehidupan orang lain. Makin sering kita mengalami identifikasi demikian, maka akan makin berkembang pula kemampuan empati kita. Empati tentu, sebuah fondasi besar bagi hidup berbangsa dan bernegara. Kita mampu rasakan penderitaan sesama tidak mudah terjebak dalam retorika kebencian, intoleransi, dan kekerasan.
Sementara, dari sisi psikologi humanistik, manusia dipandang sebagai makhluk pemilik kecenderungan alami untuk berkembang dan hidup bermakna. Manusia tidak hanya butuh makanan, keamanan, dan penghargaan, tetapi juga membutuhkan makna hidup, cinta, dan kesempatan memberikan kontribusi kepada orang lain dan bangsanya. Lima kebutuhan dasar jiwa dalam Piramida Kebutuhan Abraham Maslow sesungguhnya nyata jika dikaitkan dengan nilai cinta pada sebuah bangsa.
Di sinilah, sastra menjadi media bantu dalam menemukan makna kemanusiaan dan kemerdekaan sejati. Tokoh-tokoh dalam teks sastra sering kali menghadapi pilihan-pilihan moral yang sulit. Bergulat antara kepentingan pribadi dan umum, bertarung antara rasa takut dan keberanian, tertarik-tarik antara kebencian dan cinta kasih. Sebuah pergulatan hidup tokoh ini kemudian mengintervensi jiwa kita, sehingga terjadi refleksi secara terus-menerus.
Cinta kebangsaan yang lahir via sastra bukan nasionalisme sempit. Sebaliknya, nasionalisme yang humanistik: kesediaan diri dalam mencintai bangsanya, tanpa hilang rasa hormat kepada nilai kemanusiaan secara universal. Kita mencintai Indonesia bukan untuk membenci bangsa lain. Sebaliknya, sebuah kesadaran hakiki bahwa tanah air itu sebagai tempat bertumbuh, belajar, berkarya, dan mengabdikan jiwa kemanusiaan.
Cerita rakyat, legenda, hikayat, novel sejarah, puisi perjuangan, cerpen paling kontemporer pun akan memperkenalkan wajah Indonesia dalam dimensi ragaman yang indah dan bermanfaat. Menjadi orang Indonesia berarti hidup bersama ribuan budaya, ratusan bahasa daerah, serta beragam keyakinan dan agama. Perbedaan bisa menjadi dasar untuk saling memperkaya dan menyadarkan.
Pada hakikatnya, memperkuat budaya baca, menulis, dan mengapresiasi sastra mestinya bukan pekerjaan sampingan dalam pembangunan bangsa. Sebab, sastra adalah investasi peradaban. Selama cerita dan puisi masih dibaca, novel masih direnungkan, dan kisah-kisah kemanusiaan masih diwariskan, maka api cinta kebangsaan akan tetap menyala di hati rakyat Indonesia.
Hanya bangsa yang menjaga api kesadaran nasionalisme dengan beragam nilai kesadaran, keadilan, kebijaksanaan, dan kasih sayang, yang akan memiliki harapan untuk berdiri tegak menghadapi perubahan zaman, tanpa kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang berbudaya, beradab, dan berperikemanusiaan penuh dengan cinta.
*) Ketua Perwakilan YPLP PGRI Ponorogo, dosen sastra di lingkungan LLDIKTI VII Jawa Timur
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY