LIFESTYLE
Cara Cerdas Kelola Uang THR agar Tak Habis Usai Lebaran
apakabar.co.id, JAKARTA – Edukator keuangan, Aliyah Nastasya, membagikan strategi mengelola Tunjangan Hari Raya (THR) agar tidak habis begitu saja saat momentum Lebaran. Menurut dia, kunci utama pengelolaan THR terletak pada niat, perencanaan, serta pembagian alokasi dana secara proporsional.
Aliyah mengatakan bahwa THR seharusnya diperlakukan sebagai dana strategis karena nilainya setara satu bulan gaji. “Untuk alokasi THR menurut saya ada porsi-porsi yang juga bisa kita bagi. Alokasinya harus ideal,” ujar Aliyah dikutip dari Antara, Selasa (24/2).
Ia menilai banyak orang mengalami pola berulang setiap tahun, yakni menerima THR dalam jumlah cukup besar, namun tidak memiliki rencana jelas sehingga dana tersebut cepat habis tanpa manfaat jangka panjang.
“Ini sebenarnya besar karena seukuran satu bulan gaji. Cuma kita kadang setelah terima, setiap Lebaran habis saja. Kenapa? Karena tidak ada niat untuk mengalokasikannya untuk hal yang penting,” katanya.
Aliyah menekankan bahwa langkah pertama sebelum membelanjakan THR adalah menetapkan niat untuk menabung dan menyusunnya berdasarkan prioritas kebutuhan. Dengan niat yang kuat, seseorang akan lebih mudah menyusun perencanaan yang matang dan terstruktur.
Menurut dia, pengaturan keuangan yang baik juga membantu individu memahami standar hidup yang realistis, terutama saat menghadapi momen kumpul keluarga di kampung halaman yang kerap memicu pengeluaran tambahan.
Ia mengingatkan bahwa dalam konteks investasi jangka panjang, waktu merupakan faktor penting. Semakin cepat dana dialokasikan, semakin besar peluang untuk mencapai tujuan finansial di masa depan.
Aliyah menyarankan pembagian THR ke dalam beberapa pos pengeluaran dengan persentase yang disesuaikan kebutuhan masing-masing individu.
Sebagai gambaran, ia merekomendasikan berbagai pembagian seperti 20 persen untuk zakat fitrah, infak, dan melunasi utang konsumtif, 20 persen untuk kebutuhan Lebaran seperti hidangan, pakaian, dan hampers, 30 persen untuk kebutuhan mudik dan transportasi, dan 30 persen untuk tabungan atau investasi jangka panjang.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa pembagian tersebut bukan angka baku, melainkan contoh yang bisa disesuaikan dengan kondisi finansial masing-masing.
Lebih lanjut, setiap pos pengeluaran perlu dirinci kembali ke dalam kategori jangka pendek, menengah, dan panjang. Langkah ini bertujuan agar dana yang telah dialokasikan tidak digunakan di luar rencana awal.
Aliyah juga menyoroti tantangan budaya dalam masyarakat Indonesia, khususnya saat momen Lebaran. Tekanan sosial dan rasa sungkan kerap membuat seseorang mengeluarkan uang di luar kemampuan.
“Yang susah di budaya Indonesia menurut saya adalah boundaries, terutama dalam masalah kekeluargaan. Kalau tidak dituruti dibilang tidak berbakti atau pelit,” ucapnya.
Ia menekankan pentingnya memahami bahwa uang merupakan hak individu yang menghasilkannya. Oleh karena itu, setiap orang berhak menentukan penggunaannya sesuai dengan kemampuan dan perencanaan yang telah dibuat.
Aliyah mengingatkan bahwa pencapaian finansial tidak bisa diraih secara instan. Setiap tujuan memiliki tahapan dan waktunya masing-masing.
“Semuanya itu tidak bisa didapatkan dalam satu waktu. Ada musimnya masing-masing,” ungkapnya.
Editor:
RAIKHUL AMAR
RAIKHUL AMAR

