LIFESTYLE
Harga BBM Naik: Data jadi Kunci Efisiensi Tekan Emisi Perusahaan
Laporan terbaru Geotab Inc. menunjukkan, penggunaan data kendaraan terhubung mampu membantu perusahaan mengurangi pemborosan bahan bakar, menekan waktu kendaraan menyala tanpa bergerak (idling) hingga 30%, serta menurunkan risiko kecelakaan di jalan.
apakabar.co.id, JAKARTA -
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang belum stabil belakangan ini tidak hanya dirasakan masyarakat, tetapi juga menekan dunia usaha. Bagi perusahaan yang mengandalkan armada kendaraan, lonjakan biaya energi langsung berdampak pada margin bisnis.
Di tengah kondisi tersebut, banyak perusahaan mulai mengubah strategi. Bukan lagi sekadar menghemat, tetapi memanfaatkan data untuk mengatur operasional secara lebih cerdas dan efisien.
Laporan terbaru dari Geotab Inc. menunjukkan, penggunaan data kendaraan terhubung mampu membantu perusahaan mengurangi pemborosan bahan bakar, menekan waktu kendaraan menyala tanpa bergerak (idling) hingga 30%, serta menurunkan risiko kecelakaan di jalan.
Temuan itu dirangkum dalam Sustainability and Impact Report 2025, yang mengamati praktik penggunaan data di berbagai organisasi di lima benua.
Founder dan CEO Geotab, Neil Cawse, menyebut kondisi harga energi saat ini menjadi pengingat bahwa keberlanjutan tidak bisa lagi dipandang sebagai sekadar agenda lingkungan.
Menurutnya, langkah efisiensi yang dilakukan perusahaan hari ini bukan hanya berdampak pada pengurangan emisi, tetapi juga langsung terasa pada biaya operasional dan profit.
Dengan kata lain, keberlanjutan mulai bergeser dari "pilihan moral" menjadi "kebutuhan bisnis".
Di kawasan Asia Pasifik, tren ini semakin terlihat. Perusahaan-perusahaan mulai memanfaatkan data untuk mengatur pola berkendara, mengurangi waktu idling di kota besar yang padat, hingga menyusun strategi menuju kendaraan listrik.
Dari data ke dampak nyata
Sejumlah perusahaan di berbagai sektor sudah membuktikan bahwa pendekatan ini bukan sekadar konsep.
Di Belgia, perusahaan logistik bpost SA mampu menghemat sekitar €1,6 juta biaya bahan bakar—setara dengan 1 juta liter diesel—dengan mengoptimalkan lebih dari 10.000 kendaraan.
Di Inggris, perusahaan konstruksi Tarmac berhasil menurunkan waktu idling hingga 30% hanya dalam tiga bulan. Efisiensi bahan bakar meningkat 25%, sementara pelanggaran kecepatan turun hingga 50%.
Sementara itu di Italia, Autolinee Federico mencatat penurunan konsumsi bahan bakar sebesar 20% serta pengurangan denda hingga 40% berkat perbaikan perilaku berkendara.
Di Amerika Serikat, Richards Building Supply bahkan memproyeksikan penghematan lebih dari 195.000 dolar AS per tahun setelah uji coba berbasis data selama 90 hari.
Secara global, kendaraan listrik yang terhubung dengan sistem Geotab mencatat perjalanan lebih dari 1,4 miliar kilometer sepanjang 2025. Ini menunjukkan bahwa transisi menuju energi yang lebih bersih mulai bergerak, meski belum merata.
Tekanan energi dan realitas di lapangan
Di balik berbagai capaian tersebut, ada realitas yang menarik. Banyak perusahaan mulai beralih ke efisiensi berbasis data bukan semata karena dorongan lingkungan, tetapi karena tekanan biaya yang semakin sulit dihindari.
Harga bahan bakar yang fluktuatif, regulasi emisi yang terus berkembang, hingga risiko operasional membuat perusahaan tidak punya banyak pilihan selain beradaptasi.
Di titik ini, muncul pertanyaan yang lebih luas: apakah perubahan menuju praktik yang lebih ramah lingkungan akan tetap berjalan jika tekanan ekonomi mereda?
Atau sebaliknya, justru dibutuhkan tekanan seperti sekarang untuk mendorong percepatan perubahan?
Fenomena ini juga secara tidak langsung menyoroti peran kebijakan energi. Ketika harga dan regulasi mendorong efisiensi, perusahaan cenderung bergerak lebih cepat.
Namun di sisi lain, tanpa arah kebijakan yang konsisten, upaya transisi energi bisa berjalan tidak merata.
Saat ini, banyak inisiatif masih datang dari kebutuhan bisnis, bukan hasil dorongan sistem yang terintegrasi.
Padahal, jika didukung kebijakan yang lebih jelas dan berkelanjutan, potensi pengurangan emisi dan efisiensi biaya bisa jauh lebih besar.
Arah baru industri transportasi
Selain mendorong pelanggan, Geotab juga mencatat progres internal. Perusahaan ini berhasil menurunkan emisi Scope 2 sebesar 42,5% dalam setahun, serta mengurangi emisi Scope 3 sebesar 14%.
Geotab menargetkan pengurangan emisi hingga 50% pada 2030 dan mencapai net-zero pada 2040.
Perusahaan juga mengalokasikan lebih dari 2 juta dolar AS untuk mendorong penggunaan kendaraan listrik di kalangan karyawan, termasuk subsidi dan fasilitas pengisian daya.
Laporan ini memperlihatkan satu hal yang semakin jelas: di tengah ketidakpastian energi, data menjadi alat penting untuk bertahan sekaligus beradaptasi.
Dan ketika efisiensi mulai berjalan seiring dengan pengurangan emisi, batas antara kepentingan bisnis dan kepentingan lingkungan pun perlahan mulai menyempit.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK