SPORT
John Herdman Tangani Timnas Indonesia, DPR Soroti Pembinaan Jangka Panjang PSSI
apakabar.co.id, JAKARTA — Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menilai penunjukan John Herdman sebagai pelatih baru timnas Indonesia oleh PSSI merupakan langkah strategis yang mencerminkan keseriusan federasi dalam membangun arah baru sepak bola nasional yang lebih profesional, terukur, dan berkelanjutan.
Menurut Hetifah, keputusan PSSI menunjuk pelatih dengan pengalaman internasional kuat menjadi sinyal bahwa pengelolaan tim nasional tidak lagi berorientasi pada pendekatan jangka pendek, melainkan diarahkan pada pembenahan sistem secara menyeluruh.
“Penunjukan John Herdman mencerminkan keseriusan PSSI dalam membangun sepak bola Indonesia dengan arah yang lebih jelas, profesional, dan berbasis perencanaan jangka panjang,” ujar Hetifah seperti dikutip dari antara, Minggu (4/1).
Rekam jejak Herdman dinilai menjadi modal penting bagi tim nasional Indonesia. Pelatih asal Inggris itu tercatat sukses membawa tim nasional putra dan putri Kanada tampil di ajang Piala Dunia, sebuah capaian yang menunjukkan kapasitasnya dalam membangun tim secara sistemik, bukan hanya mengandalkan talenta sesaat.
“John Herdman diharapkan tidak hanya menghadirkan peningkatan prestasi dalam jangka pendek, tetapi juga mampu meletakkan fondasi pembinaan sepak bola nasional yang kokoh dan berkesinambungan,” kata Hetifah.
Komisi X DPR RI berharap kepemimpinan Herdman mampu mendorong peningkatan kualitas permainan tim nasional, mulai dari disiplin taktik, profesionalisme latihan, hingga penguatan mental bertanding pemain di semua level kompetisi.
Namun demikian, Hetifah menegaskan bahwa peningkatan prestasi tidak bisa dilepaskan dari pendekatan pembinaan jangka panjang yang konsisten dan terencana. Ia mengingatkan, pergantian pelatih seharusnya menjadi momentum pembenahan ekosistem sepak bola nasional secara menyeluruh.
Dalam pandangan Komisi X, terdapat sejumlah hal krusial yang perlu menjadi perhatian utama pelatih baru tim nasional Indonesia. Pertama, regenerasi dan pembinaan pemain muda harus ditempatkan sebagai prioritas agar kesinambungan prestasi tim nasional dapat terjaga, bukan sekadar mengandalkan pemain yang sudah matang.
Kedua, proses pemilihan pemain harus dilakukan secara objektif, adil, dan transparan, baik terhadap pemain lokal maupun diaspora yang berkarier di luar negeri, dengan parameter teknis yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Ketiga, Komisi X menilai sinergi antara tim nasional, klub-klub lokal, dan sistem kompetisi nasional menjadi faktor mutlak dalam menciptakan pemain berkualitas dan kompetitif secara berkelanjutan.
Keempat, pencarian serta pembinaan bakat secara inklusif hingga ke daerah-daerah perlu diperkuat agar pengembangan sepak bola nasional tidak terpusat pada wilayah tertentu saja.
Hetifah juga mengingatkan bahwa padatnya agenda tim nasional sepanjang 2026 tidak seharusnya mendorong orientasi pada hasil instan.
Evaluasi terhadap kinerja pelatih dan tim nasional, menurut Hetifah, harus dilakukan secara objektif, berbasis proses, dan berorientasi pada penguatan ekosistem sepak bola nasional.
“Sepak bola Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar kemenangan. Yang dibutuhkan adalah sistem yang kuat, visi jangka panjang, serta komitmen bersama untuk berkembang secara konsisten,” pungkas Hetifah.
Editor:
RAIKHUL AMAR
RAIKHUL AMAR

