NEWS

Kemensos Prioritaskan Program Makan Bergizi Gratis bagi Disabilitas Desil 1–4

Saifullah Yusuf usai menghadiri peringatan HUT ke-60 Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Minggu (25/1/2026). Foto: Andre
Saifullah Yusuf usai menghadiri peringatan HUT ke-60 Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Minggu (25/1/2026). Foto: Andre
apakabar.co.id, JAKARTA - Kementerian Sosial (Kemensos) mematangkan skema program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi penyandang disabilitas dan lanjut usia, seiring upaya penguatan basis data agar intervensi negara tepat sasaran. Hal itu disampaikan Menteri Sosial Saifullah Yusuf dalam peringatan HUT ke-60 Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Minggu (25/1/2026).

Saifullah Yusuf menegaskan, penyaluran MBG akan diprioritaskan bagi kelompok paling rentan, yakni masyarakat pada desil 1 hingga desil 4.

“Yang difokuskan tentu desil 1, desil 2, sampai desil 4. Kita prioritaskan mereka yang paling membutuhkan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, implementasi program MBG menyesuaikan dengan ketersediaan anggaran Kemensos. Saat ini, alokasi yang tersedia baru menjangkau sekitar 35 ribu penyandang disabilitas.

“Kita baru memiliki alokasi sekitar 35 ribu penyandang disabilitas yang memperoleh dukungan Makan Bergizi Gratis,” kata Saifullah Yusuf.

Selain memastikan bantuan berjalan, ia juga menekankan pentingnya penguatan data penyandang disabilitas. Menurutnya, data yang akurat dan komprehensif menjadi kunci agar program perlindungan dan pemberdayaan dari negara benar-benar tepat sasaran.

“Bangsa yang besar bukan bangsa yang paling cepat berlari, tetapi bangsa yang memastikan tidak ada satu pun warganya tertinggal di belakang,” ujarnya.

Berdasarkan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), jumlah penyandang disabilitas di Indonesia tercatat mencapai 15.262.448 orang, dengan 4.291.068 di antaranya merupakan penyandang disabilitas sensorik netra. Namun, data tersebut masih dalam proses verifikasi dan pemutakhiran.

“Data ini belum sempurna. Data bukan hanya angka, data adalah nama, alamat, dan kehidupan. Selama masih ada satu orang yang belum masuk data, maka tugas kita belum selesai,” tegasnya.

Saifullah Yusuf mengajak seluruh pihak, termasuk organisasi penyandang disabilitas, untuk bersama-sama menyempurnakan DTSEN melalui verifikasi dan koreksi data. Pemutakhiran tersebut menjadi dasar pembagian desil agar bantuan sosial diterima oleh mereka yang benar-benar membutuhkan.

“Ada penyandang disabilitas yang sudah mandiri, tetapi banyak pula yang masih memerlukan perlindungan dan jaminan sosial dari negara. Pada dasarnya, itu adalah upaya negara untuk memberikan perlindungan,” tuturnya.