LINGKUNGAN HIDUP

KKP Perkenalkan Ocean Calculator Hitung Nilai Ekonomi Ekosistem Laut

Foto udara kawasan hutan mangrove di Desa Waworaha, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, Senin (23/3/2026). Foto: ANTARA
Foto udara kawasan hutan mangrove di Desa Waworaha, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, Senin (23/3/2026). Foto: ANTARA
apakabar.co.id, JAKARTA - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama World Resources Institute (WRI) Indonesia memperkenalkan Ocean Calculator, platform geospasial berbasis Neraca Sumber Daya Laut (NSDL) yang dirancang untuk menghitung nilai ekonomi ekosistem laut dan pesisir berbasis data ilmiah.

Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP Koswara mengatakan platform tersebut dikembangkan sebagai bagian dari upaya membangun ocean accounting, yakni sistem yang mengintegrasikan informasi lingkungan dan ekonomi untuk mendukung perencanaan pembangunan kelautan yang berkelanjutan.

"Kami berharap platform ini terus berkembang dan menjadi bagian dari penguatan kebijakan kelautan yang berbasis bukti ilmiah," kata Koswara dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa.

Ia memaparkan platform tersebut membantu menghitung nilai ekonomi dan manfaat berbagai ekosistem laut, seperti mangrove, padang lamun dan terumbu karang.

Dengan memanfaatkan data geospasial, citra satelit, serta hasil riset, Ocean Calculator menyajikan informasi mengenai kondisi ekosistem pesisir beserta kontribusinya terhadap perlindungan pantai, penyimpanan karbon biru dan penghidupan masyarakat, kata dia.

Informasi yang dihasilkan diharapkan menjadi dasar bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan dalam menyusun kebijakan, perencanaan pembangunan, serta pengelolaan sumber daya laut yang lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.

Ocean Calculator dikembangkan sejak 2024 oleh WRI Indonesia bersama sejumlah perguruan tinggi di Indonesia dan Australia dengan dukungan Pemerintah Australia melalui Program Koneksi.

Direktur Konservasi Ekosistem KKP Firdaus Agung mengatakan platform tersebut telah menjalani uji coba awal pada Februari 2026.

Saat ini, Ocean Calculator telah terintegrasi dengan Sistem Informasi Data Konservasi (Sidako) dan dapat diakses publik melalui laman sidako.kkp.go.id.

"Ocean Calculator juga membantu berbagai pemangku kepentingan memahami nilai strategis ekosistem laut serta kontribusinya terhadap keberlanjutan lingkungan, kesejahteraan masyarakat dan aktivitas ekonomi di wilayah pesisir," ujar Firdaus.

Selain menyajikan data ekologi dan ekonomi, platform tersebut mengintegrasikan aspek Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) sehingga pengguna dapat memahami hubungan antara kondisi ekosistem dengan kelompok masyarakat yang bergantung pada sumber daya laut.

Sementara itu, Country Director WRI Indonesia Nirarta Samadhi mengatakan Ocean Calculator diharapkan menjadi sumber informasi bagi pemerintah, akademisi, masyarakat, dan sektor swasta dalam mendukung investasi dan pembangunan wilayah pesisir yang berkelanjutan.

Perwakilan Australia Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Jacqui Lord menambahkan instrumen tersebut diharapkan dapat membantu menilai manfaat ekosistem laut secara lebih komprehensif di tengah meningkatnya tekanan terhadap wilayah pesisir akibat perubahan iklim dan aktivitas manusia.