NEWS

KP2MI Pastikan PMI di Timur Tengah Aman

Menteri P2MI Mukhtarudin (tengah) dan Wakil Menteri P2MI Christina Aryani usai acara penandatanganan dengan mitra strategis di Kementerian P2MI, Jakarta, Kamis. apakabar.co.id/Andrey
Menteri P2MI Mukhtarudin (tengah) dan Wakil Menteri P2MI Christina Aryani usai acara penandatanganan dengan mitra strategis di Kementerian P2MI, Jakarta, Kamis. apakabar.co.id/Andrey
apakabar.co.id, JAKARTA - Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) menandatangani enam nota kesepahaman dan tiga perjanjian kerja sama dengan tujuh mitra strategis untuk memperkuat peningkatan sumber daya manusia (SDM) dan sosialisasi tentang migran aman.

"Ini dalam rangka kita memperkuat sinergi antara Kementerian P2MI dengan stakeholders," kata Menteri P2MI Mukhtarudin usai acara penandatanganan tersebut di Kementerian P2MI, Jakarta, Kamis.

Dalam kesempatan itu, Kementerian P2MI menandatangani nota kesepahaman dengan Asosiasi DPRD Kabupaten Seluruh Indonesia (ADKASI), Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI), Korps HMI-Wati PB HMI, Pemuda Masjid Dunia, Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK Indonesia), dan PT Bama Berita Sarana Televisi (Garuda TV).

Selanjutnya, Kementerian P2MI juga menandatangani perjanjian kerja sama dengan Perkumpulan Purna Bakti Kepala Desa Seluruh Indonesia (Perpukadesi) dan Yayasan Pendidikan Adiluhung Nusantara.

Mukhtarudin menekankan bahwa penandatanganan kerja sama itu dilakukan dalam rangka menciptakan ekosistem perlindungan bagi pekerja migran Indonesia (PMI), baik dari hulu hingga hilir. Terutama, pada 2026, Kementerian P2MI mencanangkan kampanye nasional PMI aman. Kampanye itu dilakukan dalam rangka membenahi persoalan terkait pekerja migran.

"Ketika di hulunya ini kami benahi, maka hilirnya juga akan otomatis lebih bagus. Hulu inilah yang akan kami libatkan berbagai macam stakeholder, baik dalam konteks menciptakan sumber daya manusianya atau SDM, kemudian dalam konteks kami sosialisasi," jelas Mukhtarudin.

Kerja sama tersebut juga dibangun guna memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang cara-cara yang aman dalam bermigrasi dan tentang kondisi pekerja migran yang sebenarnya saat bekerja di luar negeri. Sosialisasi tersebut dinilai perlu dilakukan untuk menghindari kemungkinan masyarakat terjerat menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO), korban penipuan lowongan kerja palsu, dan hoaks yang kerap dialami masyarakat hampir setiap hari.

"Ini akibat ketidaktahuan masyarakat," ujar Mukhtarudin.

Dalam kesempatan yang sama, Mukhtarudin juga memastikan hingga kini belum ada permintaan evakuasi dari pekerja migran Indonesia (PMI) di Timur Tengah. Ia menyampaikan sejauh ini belum ada pekerja migran Indonesia yang terdampak akibat perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang kian memuncak.

“Alhamdulillah sampai hari ini belum ada permintaan evakuasi, baik dari pemerintah negara-negara Timur Tengah, maupun dari perwakilan kita di KBRI. Maksudnya semuanya masih di bawah kontrol,” tutur Mukhtarudin saat ditemui di Kantor KP2MI, Jakarta, pada Kamis, 5 Maret 2026.

Politikus Golkar ini menerangkan pekerja migran Indonesia yang berada di kawasan Teluk yang terdampak konflik, seperti Bahrain, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab, terpantau masih aman. Meski begitu, ia bercerita terdapat laporan bahwa beberapa pekerja di Kuwait terdampak secara psikologis. Mereka mengalami trauma akibat mendengar dentum bom yang berjatuhan di dekat apartemen tempat tinggalnya.

“Akhirnya traumatik ya. Tapi itu pun sudah dilakukan pembinaan-pembinaan dan pendampingan,” katanya.

Untuk mengantisipasi peningkatan eskalasi konflik, KP2MI telah membentuk tim crisis monitoring geopolitik untuk memutakhiran data secara realtime terhadap ribuan pekerja migran Indonesia di negara-negara terdampak.

Mukhtarudin juga meminta pekerja migran Indonesia untuk secara aktif melakukan pelaporan ke KBRI dan kanal resmi pemerintah apabila berada dalam kondidi darurat.

“Prinsipnya kami pemerintah, bersama perwakilan di KBRI dan KJRI akan all out memantau, dan mengikuti perkembangan day-to-day, detik-detik eskalasi yang terjadi di Timur Tengah,” tuturnya.