SPORT

Menpora Pilih Rapikan Anggaran Ketimbang Bicarakan Hasil SEA Games 2025

Menpora Erick Thohir saat bertemu dengan NPC Indonesia mengenai persiapan menjelang Asean Para Games 2026 di Kantor Kemenpora, Senayan, Jakarta, Senin (10/11). Foto: Kemenpora
Menpora Erick Thohir saat bertemu dengan NPC Indonesia mengenai persiapan menjelang Asean Para Games 2026 di Kantor Kemenpora, Senayan, Jakarta, Senin (10/11). Foto: Kemenpora
apakabar.co.id, JAKARTA – Menpora Erick Thohir masih enggan membeberkan secara terbuka hasil evaluasi kontingen Indonesia di SEA Games Thailand 2025. 

Di awal tahun, Erick memilih menahan diri untuk tidak berbicara banyak soal capaian teknis maupun catatan kritis dari ajang olahraga dua tahunan tersebut.

Alih-alih mengulas performa atlet, Erick justru menegaskan bahwa prioritas utamanya saat ini adalah merapikan urusan internal Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), khususnya terkait administrasi dan penyusunan anggaran. 

Saat ditanya mengenai peninjauan ulang SEA Games Thailand, Erick lebih fokus pada pembenahan “dapur” kementerian sebelum melangkah ke pembahasan teknis yang lebih luas.


“Enggak-enggak, baru ngantor sehari. Baru review anggaran. Selamat tahun baru,” ujar Erick di kantor Kemenpora, Jakarta, Jumat (2/1).

Meski demikian, sikap irit bicara tersebut bukan berarti Pemerintah menutup mata terhadap capaian kontingen Indonesia. 

Pada SEA Games Thailand 2025, Merah Putih berhasil mencatatkan prestasi impresif dengan mengoleksi 91 medali emas, 111 perak, dan 131 perunggu, yang mengantarkan Indonesia finis di peringkat kedua klasemen akhir. Hasil ini menjadi capaian terbaik Indonesia di luar kandang dalam kurun waktu hampir tiga dekade terakhir.

Namun Erick menegaskan, capaian tersebut tidak boleh membuat semua pihak terlena. Ia menilai SEA Games harus ditempatkan sebagai ajang evaluasi dan pemetaan kekuatan, bukan tujuan akhir pembinaan prestasi nasional.

Sebelumnya, Erick sudah menekankan bahwa evaluasi menyeluruh merupakan harga mati untuk menentukan arah pembinaan cabang olahraga (cabor), terutama menjelang event yang levelnya jauh lebih tinggi seperti Asian Games dan Olimpiade.

“Kita bergerak cepat, kita tidak mau terlena dengan hasil positif ini. Saya bersama tim evaluasi duduk bersama untuk membahas garis besar bagaimana performa kontingen kita,” ujar Erick dalam pernyataan sebelumnya.

Lebih lanjut, Erick menargetkan peta kekuatan atlet Indonesia sudah harus terbentuk pada pertengahan Januari. Target waktu ini dinilai krusial mengingat kalender olahraga internasional yang padat, termasuk Asian Games 2026 di Aichi–Nagoya, Jepang.

Menurut Erick, akurasi dalam menilai kontribusi masing-masing cabor akan menjadi faktor penentu dalam penetapan kuota atlet yang akan dikirim ke ajang-ajang besar mendatang. 


Ia menyadari bahwa waktu persiapan yang tersedia terbilang singkat dan tidak memberi ruang untuk kesalahan strategi.

“Di pertengahan Januari, saya ingin kita sudah bisa memetakan potensi emas kita di Asian Games. Waktu yang kita miliki tidak lama lagi, kurang dari sembilan bulan menuju agenda besar. Kita harus segera merumuskan strategi dan perencanaan yang matang,” tegasnya.