LIFESTYLE

Pengelolaan Sampah Tak Sekadar Kurangi Limbah, Kini Beri Manfaat Sosial bagi Masyarakat

Persoalan sampah masih menjadi tantangan besar di berbagai daerah di Indonesia. Volume sampah yang terus meningkat tidak hanya membebani tempat pembuangan akhir (TPA), tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak lingkungan dan sosial jika tidak dikelola dengan baik.
IKEA Social Entrepreneurship Accelerator (I-SEA) mendukung pertumbuhan social enterprise yang menghadirkan solusi bagi berbagai tantangan sosial dan lingkungan. Foto: Istimewa untuk apakabar.co.id
IKEA Social Entrepreneurship Accelerator (I-SEA) mendukung pertumbuhan social enterprise yang menghadirkan solusi bagi berbagai tantangan sosial dan lingkungan. Foto: Istimewa untuk apakabar.co.id
apakabar.co.id, JAKARTA - Persoalan sampah masih menjadi tantangan besar di berbagai daerah di Indonesia. Volume sampah yang terus meningkat tidak hanya membebani tempat pembuangan akhir (TPA), tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak lingkungan dan sosial jika tidak dikelola dengan baik. 

Di tengah kondisi tersebut, berbagai pihak mulai mencari cara agar pengelolaan sampah tidak hanya berfokus pada pengurangan limbah, tetapi juga mampu menciptakan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Pendekatan ini semakin relevan karena sampah sebenarnya memiliki nilai ekonomi dan sosial jika dikelola melalui sistem yang tepat. Mulai dari kegiatan daur ulang, pengomposan, hingga pemanfaatan kembali material bekas, seluruh proses tersebut dapat membuka peluang ekonomi, meningkatkan kesadaran lingkungan, sekaligus memperkuat partisipasi masyarakat.

Salah satu contoh penerapan pendekatan tersebut dilakukan oleh IKEA Indonesia melalui berbagai program pengelolaan sampah yang dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir. Program-program tersebut tidak hanya bertujuan mengurangi jumlah sampah yang berakhir di TPA, tetapi juga mendorong keterlibatan masyarakat dalam menciptakan manfaat sosial yang berkelanjutan.

Menurut Ahmad Alhamid, Sustainability Business Partner IKEA Indonesia, keberlanjutan seharusnya dapat dijalankan oleh siapa saja melalui langkah-langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami terus berupaya untuk menciptakan kehidupan sehari-hari yang lebih baik bagi banyak orang. Kami percaya bahwa keberlanjutan tidak seharusnya menjadi sesuatu yang rumit atau hanya dapat dilakukan oleh segelintir pihak,” ujar Ahmad dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (26/6).

Karena itu, kami terus berupaya menghadirkan berbagai solusi yang memudahkan pelanggan, komunitas, dan mitra untuk ikut andil dalam menciptakan manfaat bagi lingkungan maupun masyarakat

Pernyataan tersebut mencerminkan perubahan cara pandang terhadap pengelolaan sampah. Jika sebelumnya isu sampah lebih banyak dipandang sebagai masalah lingkungan semata, kini pengelolaan limbah juga diposisikan sebagai sarana membangun dampak sosial yang lebih luas.

Salah satu program yang dijalankan adalah Waste Diversion yang diterapkan di seluruh toko IKEA Indonesia. Program ini merupakan bagian dari target perusahaan untuk mengalihkan 80 persen sampah dari TPA pada tahun 2030 melalui berbagai metode seperti daur ulang (recycling), pengomposan (composting), dan pemulihan material (recovery).

Pendekatan pengalihan sampah menjadi penting karena dapat mengurangi tekanan terhadap kapasitas TPA yang semakin terbatas di banyak daerah. Selain itu, material yang masih memiliki nilai guna dapat kembali dimanfaatkan sehingga mengurangi kebutuhan penggunaan sumber daya baru.

Upaya pengelolaan sampah yang dilakukan secara konsisten tersebut telah menghasilkan capaian yang cukup signifikan. Sebagian besar sampah operasional IKEA Indonesia kini telah berhasil dialihkan dari TPA melalui berbagai sistem pengelolaan yang diterapkan.

Tidak hanya di lingkungan operasional perusahaan, pengelolaan sampah juga diperluas ke masyarakat melalui Zona Daur Ulang IKEA Kota Baru Parahyangan di Bandung yang dijalankan bersama Duitin. Fasilitas ini hadir untuk mempermudah masyarakat dalam menyalurkan sampah yang dapat didaur ulang.

Sejak diluncurkan pada 2023, fasilitas tersebut telah mengumpulkan lebih dari 63 ton material yang kemudian dikembalikan ke rantai daur ulang. Angka tersebut menunjukkan bahwa ketika masyarakat diberikan akses yang mudah dan sistem yang jelas, partisipasi dalam pengelolaan sampah dapat meningkat secara signifikan.

Menariknya, pendekatan yang digunakan tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan. Masyarakat yang berpartisipasi juga memperoleh manfaat langsung melalui skema insentif yang disediakan. Dengan demikian, kegiatan daur ulang tidak hanya menjadi aktivitas menjaga lingkungan, tetapi juga menghadirkan nilai ekonomi bagi warga.

Konsep seperti ini semakin penting dalam mendorong perubahan perilaku. Banyak studi menunjukkan bahwa masyarakat cenderung lebih aktif terlibat dalam pengelolaan sampah ketika mereka dapat melihat manfaat nyata yang dihasilkan, baik dalam bentuk insentif ekonomi maupun perbaikan kualitas lingkungan sekitar.

Dampak sosial dari pengelolaan sampah juga dapat terlihat melalui keterhubungannya dengan sektor ekonomi lokal. Ketika material bekas berhasil masuk kembali ke rantai produksi, peluang usaha baru dapat tercipta, mulai dari sektor pengumpulan sampah, pengolahan material, hingga industri kreatif berbasis daur ulang.

Dalam konteks yang lebih luas, keberlanjutan lingkungan juga berkaitan erat dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Karena itu, berbagai program sosial yang dijalankan turut diarahkan untuk memperluas partisipasi masyarakat dalam kegiatan ekonomi yang produktif.

Melalui program TERAS Indonesia, misalnya, lebih dari 1.000 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) telah memperoleh kesempatan memasarkan produknya secara gratis di area toko IKEA Indonesia sejak 2014. Sepanjang 2025, program tersebut menghasilkan estimasi penjualan sekitar Rp5 miliar bagi UMKM yang terlibat.

Selain itu, IKEA Indonesia bersama Instellar juga menjalankan IKEA Social Entrepreneurship Accelerator (I-SEA) yang mendukung pertumbuhan berbagai social enterprise atau perusahaan sosial. Sejak 2023, program ini telah mendampingi 30 social enterprise melalui pelatihan, mentoring, dan penguatan strategi bisnis, serta menjangkau lebih dari 14.000 penerima manfaat.

Berbagai inisiatif tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dan keberlanjutan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari upaya menciptakan manfaat sosial. Ketika masyarakat memiliki akses terhadap solusi yang mudah diterapkan, mulai dari memilah sampah hingga berpartisipasi dalam ekonomi sirkular, dampak yang dihasilkan tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga memperkuat kesejahteraan komunitas.

Pada akhirnya, tantangan sampah tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi antara masyarakat, sektor swasta, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. 

Dari langkah sederhana seperti mendaur ulang sampah rumah tangga, manfaat yang lebih besar bagi lingkungan dan masyarakat dapat mulai dibangun secara bersama-sama.