EKBIS

Penggunaan Yuan di Selat Hormuz Tandai Babak Baru Perdagangan Energi Global

Transaksi perdagangan minyak mentah yang melintasi Selat Hormuz mulai beralih menggunakan mata uang Yuan Tiongkok, mengikis dominasi US Dollar yang telah bertahan selama puluhan tahun di kawasan Teluk.
Arsip - Kapal tanker Suezmax Shenlong berbendera Liberia terlihat di Pelabuhan Mumbai, India, pada 12 Maret 2026, setelah berlayar melalui Selat Hormuz dari pelabuhan Ras Tanura di Arab Saudi. Foto: ANTARA
Arsip - Kapal tanker Suezmax Shenlong berbendera Liberia terlihat di Pelabuhan Mumbai, India, pada 12 Maret 2026, setelah berlayar melalui Selat Hormuz dari pelabuhan Ras Tanura di Arab Saudi. Foto: ANTARA
apakabar.co.id, JAKARTA Kawasan Teluk kembali memanas, tapi kali ini bukan karena konflik senjata, melainkan karena perang mata uang. Kabar terbaru menyebutkan bahwa transaksi perdagangan yang melintasi Selat Hormuz, jalur air paling krusial bagi pasokan minyak dunia, mulai beralih menggunakan mata uang Yuan Tiongkok.

Alasannya, sejumlah negara eksportir energi mulai merasa nyaman menerima Yuan sebagai alat pembayaran sah untuk minyak mentah dan gas mereka.

Selat Hormuz bukan sekadar perairan biasa. Terletak di antara Oman dan Iran, jalur ini menghubungkan produsen minyak terbesar di Timur Tengah dengan pasar di seluruh dunia. 

Hampir seperlima dari konsumsi minyak cair dunia melintasi selat ini setiap harinya. Jika ada gangguan di sini, harga bensin di pinggir jalan pun bisa melonjak dalam hitungan jam.

Laporan terbaru yang dihimpun Reuters dan CNN International mengungkapkan bahwa transaksi perdagangan minyak mentah yang melintasi jalur tersebut mulai beralih menggunakan mata uang Yuan Tiongkok, mengikis dominasi US Dollar yang telah bertahan selama puluhan tahun di kawasan Teluk.

Langkah itu dipicu oleh meningkatnya hubungan dagang antara negara-negara Timur Tengah dengan Tiongkok sebagai importir energi terbesar dunia. Mengutip laporan Associated Press (AP) yang dirilis di Washington pada Rabu (25/03), sanksi ekonomi yang dijatuhkan Barat terhadap beberapa negara produsen minyak telah mempercepat pencarian mata uang alternatif. 

Selat Hormuz, yang menghubungkan produsen utama seperti Iran dan Arab Saudi ke pasar global, kini menjadi garis depan dalam gerakan "dedolarisasi" ini.

Dalam sebuah konferensi pers di Abu Dhabi pada Selasa (24/03), Hassan Al-Mansoori, pakar ekonomi dari Institute of Gulf Affairs, memberikan pernyataan tegas mengenai fenomena ini. 

"Kita sedang menyaksikan lahirnya era 'Petroyuan'," ujar Al-Mansoori.

Bagi negara-negara di kawasan Teluk, bertransaksi langsung dengan mata uang pembeli utama merupakan langkah efisiensi yang logis. "Penggunaan Yuan di Selat Hormuz bukan lagi sekadar eksperimen, melainkan kebutuhan strategis untuk stabilitas ekspor," ungkap Al-Mansoori.

Dukungan terhadap pergeseran ini juga datang dari analisis pasar internasional. Sarah Jenkins, Kepala Analis Komoditas di London, dalam catatan mingguan yang dipublikasikan pada Senin (23/03), menekankan bahwa ketergantungan dunia pada satu mata uang tunggal mulai memudar. 

Penerimaan Yuan di jalur nadi energi seperti Hormuz memberikan sinyal kuat bahwa pasar global menginginkan sistem yang lebih multipolar. "Ini akan memberikan perlindungan bagi negara eksportir dari fluktuasi kebijakan moneter Amerika Serikat yang seringkali tidak menentu," ungkap Jenkins dalam laporan CNN.

Meskipun US Dollar masih memegang kendali besar dalam infrastruktur keuangan dunia, tren di Selat Hormuz ini dipandang sebagai titik balik yang signifikan. Tiongkok terus memperkuat posisinya dengan menawarkan sistem pembayaran lintas batas yang lebih cepat dan murah bagi para mitra dagangnya di Timur Tengah. 

Hal itu menciptakan persaingan baru yang sehat sekaligus menantang tatanan ekonomi lama yang sebelumnya hanya berkiblat pada New York dan London.

Bagi ekonomi global, pergeseran ini diharapkan dapat membawa keseimbangan baru dalam penentuan harga komoditas energi. Jika lebih banyak mata uang digunakan dalam perdagangan minyak, risiko guncangan ekonomi akibat penguatan Dollar secara sepihak dapat diminimalisir. 

Kini, mata dunia tertuju pada Selat Hormuz, bukan hanya untuk memantau keamanan navigasi kapal tanker, tetapi juga untuk melihat bagaimana Yuan mulai mengukir sejarah baru dalam peta kekuatan finansial dunia.