EKBIS

Penilaian ESG Jadi Faktor Penting bagi Keberlanjutan Bisnis

JETOUR Auto dinobatkan sebagai Program ESG Terbaik 2024 dengan fokus pada perlindungan Citah. Foto: dok. Jetour
JETOUR Auto dinobatkan sebagai Program ESG Terbaik 2024 dengan fokus pada perlindungan Citah. Foto: dok. Jetour
apakabar.co.id, JAKARTA - Ketua Umum Asosiasi Ahli Emisi Karbon Indonesia (ACEXI) Lastyo Lukito mengatakan, Penilaian Risiko Lingkungan, Sosial dan Tata Kelola (ESG Risk Rating) telah menjadi faktor krusial dalam penilaian kinerja perusahaan di Indonesia.

Lastyo mengatakan adopsi ESG Risk Rating semakin meningkat seiring dengan meningkatnya tuntutan dari investor global, regulator, dan pemangku kepentingan untuk memastikan keberlanjutan dan transparansi bisnis.

“Tujuannya untuk pelaporan dan perbaikan. Perusahaan yang mampu mengelola risiko ESG dengan baik akan lebih tahan terhadap disrupsi industri, krisis lingkungan, dan perubahan sosial yang dinamis,” ujarnya dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (29/1).
Lebih lanjut, ia juga mengatakan bahwa Indonesia saat ini tengah mengalami pergeseran menuju praktik bisnis yang lebih transparan dan berkelanjutan.

“Skor ESG Risk Rating tak hanya mempengaruhi akses terhadap pendanaan internasional, tetapi juga membangun reputasi perusahaan dalam jangka panjang, terutama perusahaan di sektor energi, manufaktur, dan keuangan,” katanya.

Lastyo memberi contoh bahwa Pertamina merupakan salah satu perusahaan di sektor energi yang dinilai memiliki ESG Risk Rating yang cukup baik.

Per 31 Desember 2025, Pertamina meraih peringkat tertinggi di sub-industri migas terintegrasi dunia menurut Sustainalytics (skor 23,1, Medium Risk) dan MSCI (BBB, naik dari BB), serta sub-entitasnya seperti Pertamina Patra Niaga meraih rating A untuk emisi karbon.

“Ini menandakan bahwa Pertamina memiliki komitmen kuat terhadap keberlanjutan dan transisi energi di tengah tantangan industri,” kata Lastyo.

Sementara itu, Anggota Dewan Pengawas Komunitas Profesional Keberlanjutan (IS2P) sekaligus penasihat senior Social Investment Indonesia Sonny Sukada mengatakan, ESG Risk Rating memiliki dampak terhadap masa depan bisnis perusahaan.
Sonny mengatakan bahwa investor kini semakin mempertimbangkan ESG sebagai faktor utama dalam pengambilan keputusan investasi.

“Perusahaan dengan ESG Risk Rating yang baik memiliki akses lebih besar terhadap dana investasi berkelanjutan dan obligasi hijau. Tahun 2026 merupakan tahun persiapan terakhir bagi perusahaan untuk comply atau patuh terhadap regulasi,” ujarnya.

Menurut Sonny, standar keberlanjutan yang akan dipakai oleh Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bank Indonesia (BI) yang disebut sebagai Standar Pengungkapan Keberlanjutan (SPK) akan berlaku efektif mulai 1 Januari 2027.

“Ke depan, peringkat ESG akan semakin berperan dalam membentuk lanskap bisnis di Indonesia,” jelasnya.