LIFESTYLE

PFI Siapkan Strategi 2026, Dorong Filantropi jadi Motor Solusi Nasional

Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) menetapkan arah strategis tahun 2026 untuk memperkuat peran filantropi sebagai penggerak solusi berbagai tantangan pembangunan nasional.
PFI menetapkan arah strategis tahun 2026 untuk memperkuat peran filantropi sebagai penggerak solusi atas berbagai tantangan pembangunan nasional. Sumber: Istimewa untuk apakabar.co.id
PFI menetapkan arah strategis tahun 2026 untuk memperkuat peran filantropi sebagai penggerak solusi atas berbagai tantangan pembangunan nasional. Sumber: Istimewa untuk apakabar.co.id
apakabar.co.id, JAKARTA — Tekanan perubahan iklim kian nyata, ketimpangan ekonomi belum mereda, dan kerentanan sosial terus mengintai. Di tengah situasi itu, upaya menjawab persoalan pembangunan tidak lagi bisa berjalan sendiri-sendiri. 

Ada kebutuhan mendesak untuk menyatukan kekuatan, dan di sanalah filantropi mulai mengambil peran yang lebih besar.

Kesadaran itu mengemuka dalam Rapat Umum Anggota (RUA) Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) di Gedung IPMI, Jakarta. Forum tersebut menetapkan arah strategis 2026 yang menempatkan filantropi bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari solusi yang lebih terstruktur dan berdampak luas.

Di tengah tantangan yang semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim hingga ketimpangan ekonomi, PFI mendorong transformasi praktik filantropi menjadi lebih terintegrasi, kolaboratif, dan berdampak luas.

Ketua Badan Pengurus PFI, Rizal Algamar, menegaskan bahwa strategi 2026 merupakan kelanjutan dari penguatan peran PFI sebagai pusat kolaborasi filantropi nasional atau *Filantropi Hub*.

"Fokus ke depan bukan hanya memperluas kolaborasi, tetapi memastikan setiap inisiatif terhubung dalam satu ekosistem yang saling mendukung," ujar Rizal dalam keterangannya di JAKARTA, Sabtu (25/4). 

Dalam Rencana Strategis 2026, PFI menetapkan tiga pilar utama.

Pertama, memperkuat peran sebagai Filantropi Hub nasional yang tidak hanya menghubungkan berbagai pihak, tetapi juga menyelaraskan arah dan mendorong aksi kolektif lintas sektor.

Kedua, mengembangkan ekosistem kolaborasi melalui Multi-Stakeholder Forum (MSF) dan klaster tematik. Pendekatan ini difokuskan untuk mempercepat solusi bersama, terutama dalam isu kemiskinan, ketahanan ekonomi, dan perubahan iklim.

Ketiga, memperkuat infrastruktur pengetahuan serta inovasi pendanaan sosial. Langkah ini mencakup pemanfaatan data, publikasi strategis, hingga pengembangan model pembiayaan yang lebih adaptif dan berkelanjutan.

Untuk mendukung implementasi strategi tersebut, PFI juga mengembangkan tiga platform utama.

Platform Philanthropy Directory akan menjadi basis data terintegrasi yang memetakan aktor dan inisiatif filantropi di Indonesia. Tujuannya adalah memperkuat konektivitas dan kolaborasi.

Sementara itu, platform Impact difokuskan pada pengukuran dan pelaporan dampak, agar praktik filantropi semakin akuntabel dan berbasis data.

Adapun platform Learning yang ditargetkan rampung pada 2026 akan menjadi ruang pembelajaran bersama bagi anggota. Platform teesebut diharapkan mendorong peningkatan kapasitas, berbagi praktik baik, serta adopsi inovasi.

Ketiga platform ini diyakini dapat meningkatkan transparansi, efektivitas, dan kualitas kolaborasi dalam ekosistem filantropi nasional.

Kolaborasi jadi kunci
PFI menekankan pentingnya partisipasi aktif anggota dalam memperkuat kolaborasi. Sejumlah anggota mengaku telah merasakan manfaat dari pendekatan ini.

Dian A. Purbasari dari Yayasan Bakti Barito menjelaskab kolaborasi lintas lembaga membuka peluang sinergi yang lebih luas.

"Kami tidak hanya belajar dari praktik baik, tetapi juga memperkuat kapasitas dan memperluas jangkauan program," ujarnya.

Senada, Ahmad Juwaini dari Dompet Dhuafa menyebut kolaborasi melalui PFI membantu memperluas jejaring dan meningkatkan tata kelola lembaga.

Pengalaman tersebut menjadi dasar bagi PFI untuk memperkuat pendekatan kolaboratif yang lebih terintegrasi ke depan.

Makin kat menuju SDGs
Sepanjang 2025, PFI mencatat sejumlah capaian penting, mulai dari pertumbuhan anggota, penyelenggaraan puluhan forum diskusi, hingga penguatan chapter daerah.

Berbagai inisiatif seperti Filantropi Indonesia Festival, Piagam Budaya Filantropi, dan Multi-Stakeholder Forum (MSF) juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem.


Ke depan, PFI akan memperluas kemitraan dengan pemerintah, sektor swasta, organisasi masyarakat sipil, dan mitra internasional untuk mendorong kontribusi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

PFI meyakini bahwa masa depan filantropi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh besarnya dana yang dihimpun, tetapi oleh kemampuan mengelola dan mengarahkan sumber daya tersebut menjadi dampak nyata.

Melalui RUA 2026, PFI menegaskan komitmennya untuk memperkuat peran sebagai penggerak ekosistem filantropi nasional—di tengah krisis yang kian mendesak, sekaligus membuka ruang harapan bagi solusi yang lebih terarah dan berkelanjutan.