LIFESTYLE
Refleksi Akhir Tahun Tak Selalu Tentang Gagal
Menghargai pencapaian sederhana lebih menyehatkan batin dibanding terus berkutat pada kegagalan.
apakabar.co.id - Psikolog mengingatkan refleksi akhir tahun seharusnya menjadi ruang memahami dan menerima diri, bukan hanya mengulang daftar kegagalan dan target yang belum tercapai.
Psikolog dari Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Kalimantan Timur, Nur Aisyah Rahmani, mengajak masyarakat memaknai refleksi akhir tahun secara lebih sehat dan manusiawi.
Menurut dia, momen pergantian tahun kerap dipenuhi tekanan karena banyak orang terjebak menilai diri dari hal-hal yang belum berhasil dicapai. “Menghakimi diri sendiri secara berlebihan hanya akan menurunkan semangat dan kesehatan mental di tahun mendatang,” kata Aisyah dikutip dari ANTARA, Rabu (31/12).
Ia menilai refleksi tahunan sering kali melupakan proses panjang yang telah dilalui sepanjang tahun. Padahal, di balik target yang meleset, terdapat upaya, ketahanan, dan pencapaian kecil yang layak diapresiasi. “Mari melihat kembali kemenangan-kemenangan kecil yang mungkin terlupakan selama dua belas bulan terakhir,” ujarnya.
Aisyah menegaskan evaluasi diri seharusnya membantu seseorang memahami batas dan kemampuan diri, bukan menghukumnya. Menghargai pencapaian sederhana dinilai lebih menyehatkan batin dibanding terus berkutat pada kegagalan.
Menjelang tahun baru, ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru menetapkan resolusi yang terlalu tinggi dan kaku. “Target yang tidak realistis justru bisa menjadi beban pikiran di kemudian hari,” katanya.
Sebagai alternatif, Aisyah menyarankan penetapan niat yang lebih luwes dan masuk akal, agar proses perubahan tetap berjalan tanpa tekanan berlebihan. Menurut dia, refleksi akhir tahun yang sehat adalah kemampuan menutup lembaran lama dengan rasa syukur dan penerimaan diri.
“Sikap berbaik hati pada diri sendiri memberi ruang untuk tumbuh lebih positif di tahun yang baru,” ucap Aisyah.
Editor:
RAIKHUL AMAR
RAIKHUL AMAR
