NEWS

Selat Hormuz Dibuka Dua Pekan, Gencatan Senjata Iran–AS Masih Ujian Awal

Iran secara resmi membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz selama dua pekan, menyusul kesepakatan gencatan senjata sementara dengan Amerika Serikat.
Foto udara Selat Hormuz - Iran menyatakan masih mempertahankan kendali penuh atas wilayah darat, bawah laut, dan udara Selat Hormuz. Foto: ANTARA
Foto udara Selat Hormuz - Iran menyatakan masih mempertahankan kendali penuh atas wilayah darat, bawah laut, dan udara Selat Hormuz. Foto: ANTARA
apakabar.co.id, JAKARTA - Iran secara resmi membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz selama dua pekan, menyusul kesepakatan gencatan senjata sementara dengan Amerika Serikat. Kebijakan itu langsung disambut sebagai sinyal deeskalasi dalam konflik Iran vs AS yang sempat memicu kekhawatiran global, terutama di sektor energi.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa jalur aman tersebut tetap berada di bawah kendali penuh Iran dan hanya dapat diakses melalui koordinasi dengan angkatan bersenjata.

"Selama 2 pekan, lintasan aman di Selat Hormuz akan dimungkinkan dengan koordinasi bersama Angkatan Bersenjata Iran dan memperhatikan keterbatasan teknis," tulis Araghchi dalam pernyataannya di platform X, Rabu (8/4). 

Langkah itu menjadi bagian dari kesepakatan gencatan senjata Iran Amerika yang diumumkan sehari sebelumnya oleh Presiden AS, Donald Trump pada Selasa (7/4). Kesepakatan tersebut memberi jeda sementara dari eskalasi militer yang sebelumnya sempat meningkat tajam.

Namun, pembukaan Selat Hormuz tidak sepenuhnya tanpa syarat. Iran menegaskan bahwa kontrol atas jalur strategis tersebut tetap berada di tangan Teheran. Artinya, meski akses dibuka, pengaturan lalu lintas kapal tetap berada dalam pengawasan ketat militer Iran. 

Selat Hormuz sendiri memiliki peran krusial dalam peta energi global. Sekitar 20–30 persen distribusi minyak dunia melewati jalur ini. Untuk itu, setiap perubahan kebijakan di kawasan ini hampir selalu berdampak langsung pada stabilitas harga energi dan rantai pasok global.

Di sisi lain, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyatakan bahwa perundingan lanjutan dengan Amerika Serikat akan dimulai dalam waktu dekat di Islamabad, Pakistan. Agenda tersebut mencakup sejumlah isu strategis, mulai dari sanksi ekonomi hingga keberlanjutan program nuklir Iran.

Meski terlihat sebagai kemajuan diplomatik, sejumlah indikator menunjukkan bahwa kesepakatan tersebut masih berada pada tahap awal dan bersifat sementara. Durasi dua pekan dinilai lebih sebagai 'ruang jeda' ketimbang solusi jangka panjang dalam konflik Iran vs AS.

Bahkan, laporan terbaru menyebutkan Iran memiliki sejumlah prasyarat untuk mencapai perdamaian permanen, termasuk jaminan penghentian serangan dan kompensasi atas kerugian perang. 

Kondisi demikian memperlihatkan bahwa gencatan senjata Iran Amerika belum sepenuhnya menghapus ketegangan mendasar antara kedua negara. Sebaliknya, Selat Hormuz justru kembali menegaskan posisinya sebagai titik tawar strategis dalam negosiasi geopolitik.

Bagi pasar global, kabar dibukanya Selat Hormuz memang memberi ruang bernapas, meski belum cukup untuk menghapus ketidakpastian. Stabilitas jalur energi masih sangat bergantung pada dinamika negosiasi yang belum tentu berjalan mulus.

Dalam konteks ini, pembukaan akses selama dua pekan bisa dibaca sebagai langkah taktis: cukup untuk meredakan tekanan jangka pendek, namun belum tentu cukup kuat untuk menjamin stabilitas jangka panjang.

Dengan kata lain, dunia mungkin sedang menyaksikan jeda dalam konflik, bukan akhir dari ketegangan.