NEWS

Ziarah Kubur dan Denyut Rezeki Lebaran

Peziarah membeli bunga rampai di areal Tempat Pemakanan Umum (TPU) Karang Kelok, Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Sabtu (21/3-2026). Foto: ANTARA
Peziarah membeli bunga rampai di areal Tempat Pemakanan Umum (TPU) Karang Kelok, Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Sabtu (21/3-2026). Foto: ANTARA
apakabar.co.id - Pagi itu, selepas gema takbir mereda, arus manusia tidak langsung pulang. Sebagian bergerak ke rumah keluarga, sebagian lain menuju tempat yang lebih sunyi: pemakaman umum. 

Di sana, ziarah kubur menghadirkan suasana yang berbeda. Haru, doa, dan kenangan bercampur dalam langkah-langkah pelan para peziarah. Di balik kesyahduan itu, ada denyut ekonomi kecil yang menguat, menghadirkan makna lain dari Idul Fitri yang sering luput dibaca.

Di Nusa Tenggara Barat (NTB), Lebaran bukan sekadar perayaan spiritual. Ia menjadi ruang pertemuan antara nilai keagamaan, tradisi sosial, dan dinamika ekonomi rakyat.

Di titik inilah, berkah Idul Fitri menemukan bentuknya yang paling nyata. Tidak hanya dalam doa dan maaf, tetapi juga dalam perputaran rezeki yang menghidupi banyak orang.

Ziarah rakyat

Tradisi ziarah kubur setelah Shalat Id telah menjadi praktik sosial yang mengakar di NTB. Ribuan warga mendatangi pemakaman untuk mendoakan keluarga yang telah wafat. Aktivitas ini sekaligus menciptakan ekosistem ekonomi musiman yang melibatkan banyak lapisan masyarakat.

Pedagang bunga rampai menjadi salah satu aktor utama. Dalam momentum Lebaran 2026, omzet mereka meningkat signifikan. Dalam hitungan setengah hari, pendapatan bisa mencapai tiga hingga empat kali lipat dibanding hari biasa.

Harga satu bungkus bunga rampai yang tetap terjangkau menjadi strategi adaptif di tengah kenaikan harga bahan baku akibat faktor cuaca dan tingginya permintaan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa ekonomi rakyat memiliki fleksibilitas tinggi. Ketika harga bahan naik, pedagang tidak serta-merta menaikkan harga jual secara drastis.

Mereka justru menyesuaikan volume atau isi produk agar tetap dapat dijangkau pembeli. Ini adalah bentuk kearifan ekonomi yang lahir dari pengalaman panjang bertahan di sektor informal.
Selain pedagang bunga, muncul pula layanan-layanan pendukung yang bersifat spontan. 

Penjualan air bersih dalam botol bekas, misalnya, menjadi solusi praktis bagi peziarah yang tidak sempat membawa perlengkapan dari rumah. Hal kecil seperti ini mencerminkan kemampuan masyarakat membaca kebutuhan pasar secara cepat.

Di sisi lain, profesi juru parkir dadakan juga mengalami lonjakan permintaan. Di sejumlah titik pemakaman di Lombok Tengah, pendapatan harian juru parkir bisa melampaui Rp100 ribu, angka yang cukup berarti bagi pekerja sektor informal. Aktivitas ini memang bersifat temporer, tetapi memberikan bantalan ekonomi tambahan bagi keluarga.

Lebaran, dengan demikian, menciptakan efek pengganda ekonomi yang nyata. Ia membuka ruang bagi ekonomi mikro untuk bergerak, bahkan dalam waktu yang sangat singkat.

Di balik itu, muncul pertanyaan: sejauh mana potensi ini dapat dikelola lebih sistematis agar manfaatnya tidak hanya bersifat sesaat?
Fitrah sosial

Berkah Idul Fitri di NTB tidak hanya tercermin dalam aktivitas ekonomi, tetapi juga dalam penguatan nilai sosial. Shalat Id yang digelar di lapangan terbuka dan masjid menjadi simbol kesetaraan. Ribuan orang berdiri dalam satu saf tanpa sekat status sosial, menegaskan kembali esensi fitrah manusia.

Momentum ini kemudian berlanjut dalam praktik saling memaafkan. Tradisi halal bihalal, kunjungan keluarga, hingga pertemuan komunitas menjadi ruang rekonsiliasi sosial. Dalam konteks masyarakat NTB yang majemuk, momen ini memiliki arti penting dalam menjaga harmoni.

Lebih jauh, nilai solidaritas juga terlihat dalam kebijakan negara. Pemberian remisi kepada ribuan warga binaan di berbagai lembaga pemasyarakatan di NTB menjadi simbol bahwa Idul Fitri adalah momentum memberi kesempatan kedua.

Lebih dari seribu narapidana menerima pengurangan masa hukuman, bahkan sebagian di antaranya langsung bebas dan kembali ke tengah keluarga. Kebijakan ini bukan sekadar administrasi hukum. Ia adalah representasi dari nilai kemanusiaan yang ingin ditegakkan negara—bahwa setiap individu memiliki peluang untuk berubah dan memperbaiki diri.

Idul Fitri menjadi titik refleksi, tidak hanya bagi masyarakat umum, tetapi juga bagi mereka yang sedang menjalani masa pembinaan. Meskipun demikian, makna sosial ini tidak selalu berjalan mulus. Di tengah euforia Lebaran, potensi kesenjangan tetap ada. Tidak semua kelompok masyarakat merasakan berkah yang sama.

Sebagian masih bergulat dengan keterbatasan ekonomi, bahkan di tengah perayaan yang identik dengan kelimpahan. Di sinilah pentingnya melihat Idul Fitri tidak hanya sebagai ritual tahunan, tetapi sebagai momentum evaluasi sosial. Apakah semangat berbagi benar-benar menjangkau semua lapisan? Ataukah tradisi yang ada justru berisiko menciptakan eksklusivitas?

Mengelola berkah

Berkah Idul Fitri di NTB menyimpan potensi besar yang belum sepenuhnya dioptimalkan. Tradisi ziarah, misalnya, dapat dikembangkan sebagai bagian dari penguatan ekonomi lokal yang lebih terstruktur. 

Pemerintah daerah dapat memfasilitasi pedagang kecil dengan penyediaan ruang usaha yang tertata, akses bahan baku yang lebih stabil, serta pelatihan sederhana terkait pengemasan dan pemasaran.

Selain itu, pengelolaan kawasan pemakaman sebagai ruang publik juga perlu diperhatikan. Lonjakan pengunjung saat Lebaran kerap menimbulkan persoalan klasik, seperti sampah, kemacetan, dan keterbatasan fasilitas. Intervensi kebijakan yang tepat dapat mengubah tantangan ini menjadi peluang peningkatan kualitas layanan publik.

Di sektor sosial, momentum pemberian remisi dapat diikuti dengan program reintegrasi yang lebih kuat. Narapidana yang kembali ke masyarakat membutuhkan dukungan nyata, baik dalam bentuk pelatihan keterampilan maupun akses pekerjaan. Tanpa itu, peluang untuk kembali ke siklus lama tetap terbuka.

Lebaran juga dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat ekonomi berbasis komunitas. Tradisi berbagi makanan, zakat, dan sedekah dapat diintegrasikan dengan program pemberdayaan yang lebih berkelanjutan, misalnya melalui koperasi atau kelompok usaha bersama yang memanfaatkan momentum Lebaran sebagai titik awal.

Lebih jauh, nilai-nilai yang terkandung dalam Idul Fitri perlu diterjemahkan dalam kebijakan 
pembangunan. Semangat kesetaraan, keadilan, dan solidaritas seharusnya tidak berhenti pada simbol, tetapi menjadi prinsip dalam perencanaan program pemerintah.

Berkah Idul Fitri tidak hanya tentang meningkatnya pendapatan pedagang atau ramainya pemakaman. Ia adalah cermin dari bagaimana masyarakat memaknai kehidupan, hubungan sosial, dan harapan akan masa depan.

Lebaran mengajarkan bahwa keberkahan sejati lahir dari keseimbangan antara spiritualitas dan keberpihakan pada sesama. Pertanyaannya, apakah momentum ini akan terus berulang sebagai rutinitas tahunan, atau mampu ditransformasikan menjadi kekuatan yang mendorong perubahan nyata?

Di situlah letak tantangan. Merawat berkah agar tidak sekadar hadir, tetapi juga berkelanjutan. (Ant)