SPORT

Tak Gentar Sejarah, Putri KW Siap Tampil Lepas di All England 2026

Tunggal putri Indonesia, Putri Kusuma Wardani. Foto: PBSI
Tunggal putri Indonesia, Putri Kusuma Wardani. Foto: PBSI
apakabar.co.id, JAKARTA – Tunggal putri Indonesia, Putri Kusuma Wardani, menatap All England Open Badminton Championships 2026 dengan semangat baru. Turnamen bulu tangkis tertua dan paling prestisius itu akan berlangsung di Utilita Arena Birmingham, Inggris, 3–8 Maret mendatang.

Bagi sektor tunggal putri Indonesia, All England menyimpan catatan sejarah panjang. Gelar terakhir diraih legenda bulu tangkis Indonesia, Susi Susanti, pada 1993 yang bahkan sebelum Putri lahir.

Menyadari fakta tersebut, Putri tetap mencoba bersikap tenang. Ia mengaku antusias bisa kembali tampil di Birmingham tahun ini. “Cukup excited bisa tampil di All England lagi,” ujarnya.


Pada edisi kali ini, Putri menjadi satu-satunya wakil Indonesia di sektor tunggal putri. Situasi tersebut berpotensi menghadirkan tekanan tersendiri, namun atlet yang akrab disapa KW itu menegaskan dirinya tak ingin terlalu memikirkan beban tersebut.

“Biasa aja karena juga dari kemarin juga sendiri kan. Cuma ya pasti ada pressure tersendiri. Tapi saya tidak terlalu memikirkan pressure, lebih buat motivasi juga supaya bisa tampil baik dan membawa hal-hal positif di setiap pertandingan,” tuturnya.

Putri memilih menjadikan tekanan sebagai bahan bakar motivasi, bukan beban yang menghambat. Soal target, ia memasang sasaran realistis. “Target bisa masuk 8 besar dulu aja,” katanya.

Target tersebut bukan tanpa perhitungan. Ia menyadari persaingan di level Super 1000 sangat ketat, terutama ketika berhadapan dengan pemain Top 4 dunia.
Menurutnya, perbedaan terbesar antara pemain Top 10 dan Top 4 terletak pada konsistensi.

“Kalau Top 4 itu harus benar-benar dari awal konsisten, dari pola permainan dan ketahanan pikiran juga. Kalau agak lepas sedikit, mereka langsung masuk polanya. Susah dikejar, lebih konsisten aja sih,” jelasnya.

Evaluasi tersebut menjadi bahan pembenahan bagi Putri dalam menghadapi lawan-lawan elite dunia.


Dari sisi teknis, Putri mengungkapkan arahan dari tim pelatih, termasuk Imam Tohari dan Nunung Subandoro, lebih menitikberatkan pada penyempurnaan bola-bola atas serta detail permainan yang masih menjadi kekurangan.

Selain itu, program aklimatisasi di Inggris akan dimanfaatkan untuk menyesuaikan diri dengan udara musim dingin, pemanasan tubuh, serta atmosfer lapangan.

“Ingin dari udara dulu karena musim dingin kan, terus dari pemanasan juga, sama dari atmosfer lapangan,” ujarnya.