EKBIS
IHSG Menguat tapi Pasar Belum Aman: Rebound di Tengah Ujian Kepercayaan
IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) mengawali perdagangan Jumat dengan penguatan signifikan dengan dibuka naik 88,88 poin atau 1,08 persen ke level 8.321,08.
apakabar.co.id, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengawali perdagangan Jumat (30/1) dengan penguatan signifikan. IHSG dibuka naik 88,88 poin atau 1,08 persen ke level 8.321,08.
Sejalan dengan itu, indeks saham unggulan LQ45 juga menguat 11,59 poin atau 1,43 persen ke posisi 824,60. Penguatan ini memberi sinyal awal pemulihan, namun pasar menilai kondisi masih jauh dari kata stabil.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai pasar modal Indonesia saat ini berada dalam fase yang sangat krusial. Dalam dua hari terakhir, IHSG sempat mengalami tekanan tajam hingga memicu trading halt dua kali berturut-turut.
Trading halt adalah penghentian sementara perdagangan oleh bursa ketika indeks jatuh terlalu dalam dalam waktu singkat, sebagai mekanisme darurat untuk meredam kepanikan investor.
“Situasi ini mencerminkan tingkat kepanikan pasar yang cukup tinggi, dipicu kombinasi sentimen global dan kekhawatiran terhadap transparansi serta tata kelola pasar domestik,” ujar Hendra di Jakarta, Jumat (30/1).
Di tengah kondisi pasar yang rapuh, pelaku pasar dikejutkan oleh pengunduran diri Direktur Utama BEI, Iman Rachman, pada Jumat (30/1) pagi. Langkah ini langsung menjadi sorotan karena terjadi saat kepercayaan investor sedang diuji.
Pengunduran diri pimpinan tertinggi bursa dinilai bukan sekadar peristiwa personal, melainkan sinyal adanya tekanan serius dalam tata kelola pasar modal. Namun di sisi lain, momentum ini juga dipandang sebagai peluang untuk mendorong reformasi struktural yang lebih kredibel.
Dari sisi regulator, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI mencoba merespons kegelisahan pasar. Menyusul masukan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI), regulator akan merevisi aturan batas minimal saham publik atau free float dari 7,5 persen menjadi 15 persen, yang dijadwalkan berlaku mulai Februari 2026. Aturan ini akan menyasar emiten baru maupun emiten yang sudah tercatat.
Free float penting karena mencerminkan seberapa besar saham perusahaan benar-benar beredar dan bisa diperdagangkan publik. Free float yang kecil membuat saham mudah digerakkan oleh segelintir pihak, meningkatkan volatilitas, dan menurunkan kredibilitas pasar.
Bagi saham-saham big cap seperti perbankan besar dan BUMN, isu ini krusial karena memengaruhi bobot mereka di indeks global seperti MSCI dan aliran dana investor asing.
Jika emiten tidak memenuhi ketentuan tersebut, regulator menyiapkan skema exit policy, meski bentuk pastinya masih dikaji. Selain itu, BEI dan Self-Regulatory Organization (SRO) juga akan menyampaikan proposal lanjutan kepada MSCI terkait transparansi data free float saham di Indonesia.
Pemerintah pun menargetkan aturan demutualisasi BEI terbit pada kuartal I 2026 sebagai bagian dari pembenahan jangka panjang.
Dari eksternal, sentimen global masih campuran. Bursa Eropa dan Wall Street ditutup variatif, sementara mayoritas bursa Asia pagi ini bergerak melemah. Artinya, dukungan eksternal terhadap IHSG masih terbatas.
Pada perdagangan Kamis (29/1), bursa Eropa ditutup bervariasi. Tekanan terlihat di indeks-indeks utama kawasan, meski sebagian pasar masih mampu bertahan di zona hijau. Kondisi serupa terjadi di Wall Street, di mana investor cenderung selektif dan belum berani mengambil risiko besar di tengah ketidakpastian arah kebijakan dan valuasi pasar.
Sementara itu, mayoritas bursa Asia pagi ini justru bergerak melemah. Tekanan di pasar regional mencerminkan sikap wait and see investor global, yang masih mencermati arah ekonomi dunia serta stabilitas pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Situasi ini menegaskan bahwa penguatan IHSG lebih banyak ditopang sentimen domestik jangka pendek, bukan dukungan eksternal yang solid. Penguatan juga menjadi penanda bahwa tanda krisis telah selesai, melainkan ujian apakah reformasi tata kelola benar-benar bisa mengembalikan kepercayaan pasar.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK