EKBIS
Kendaraan Listrik Dinilai Jadi Alternatif Lain BBM yang Lebih Irit
apakabar.co.id, JAKARTA - Managing Director Energy Shift Institute Putra Adhiguna menilai kendaraan listrik (electric vehicle/ev) merupakan alternatif yang lebih irit untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap minyak bumi, apabila dibandingkan dengan biodiesel dan bioetanol.
Putra menyampaikan elektrifikasi merupakan jalan utama ke depan dan salah satu alasan China mendorong kuat industri kendaraan listrik mereka. Terlebih, China mengimpor sekitar 70 persen dari kebutuhan minyak mereka.
“Saat ini, Indonesia menggantikan setidaknya 3 ribu barel minyak per hari dengan kendaraan listrik,” katanya di Jakarta, Rabu (11/3).
Ia menekankan bahwa ketahanan energi sangat penting, namun yang perlu menjadi perhatian dari pemerintah adalah perbandingan biaya antara opsi yang ada.
Apabila perbandingan harga tidak dihitung dengan jelas, maka terdapat risiko Indonesia terjebak di dalam ekonomi berbiaya tinggi (high cost economy). Risiko tersebut dapat menjadi beban bagi masyarakat Indonesia dan mengurangi daya saing Indonesia di pasar global.
Oleh karena itu, meskipun biodiesel menggantikan setidaknya 270 ribu barel minyak per hari, Putra tetap menilai industri kendaraan listrik perlu lebih didorong. Ia menyampaikan, biodiesel bergantung kepada topangan subsidi berlipat, karena harganya lebih mahal daripada diesel biasa.
“Subsidi tambahan biodiesel sudah melejit menjadi sekitar Rp35–40 triliun dan akan naik terus bila pemerintah mendorong terus,” ucapnya.
Selaras dengan itu, bioetanol menurut Putra bisa 20 persen lebih mahal daripada bensin. Selain itu, bioetanol tidak memiliki industri besar seperti sawit untuk menyubsidinya.
“Sehingga belum jelas pos anggaran dari mana yang akan pemerintah gunakan, terutama dengan APBN yang tertekan,” jelasnya.
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY

