EKBIS

Urai Antrean, ASDP Optimalkan Layanan Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk

Antrean kendaraan angkutan logistik di Pelabuhan Bulusan, Ketapang, Banyuwangi, jawa Timur. Foto: ANTARA
Antrean kendaraan angkutan logistik di Pelabuhan Bulusan, Ketapang, Banyuwangi, jawa Timur. Foto: ANTARA
apakabar.co.id, JAKARTA - PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) terus mengoptimalkan layanan penyeberangan di lintasan Ketapang (Banyuwangi)-Gilimanuk (Bali) dalam upaya mempercepat penguraian antrean kendaraan.

Sejak beberapa hari terakhir, jalur utama menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, kembali terjadi antrean panjang kendaraan angkutan logistik yang akan menyeberang ke Pelabuhan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali.

Sekretaris PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Windy Andale menyampaikan saat ini sebanyak 24 kapal dioperasikan dengan pola operasi yang disesuaikan secara dinamis berdasarkan kondisi cuaca, gelombang, angin, arus dan pasang surut serta kesiapan kapal dan dermaga.

"Dalam setiap penyesuaian pola operasi, aspek keselamatan menjadi pertimbangan utama dan krusial, semua keputusan operasional dilakukan melalui koordinasi dengan para regulator, KSOP dan BPTD," ujarnya dalam keterangannya diterima dikutip di Jakarta, Sabtu (19/9).
Dari sebanyak 24 kapal yang beroperasi di lintasan Ketapang-Gilimanuk itu, lanjut Windy, terdiri atas 22 kapal reguler dan dua kapal perbantuan, yakni KMP Jatra I dan KMP Portlink VII.

Menurutnya, kapal reguler dioperasikan melalui sejumlah dermaga, yakni lima kapal di Dermaga MB 1, lima kapal di Dermaga MB 3, tiga kapal reguler dan dua kapal perbantuan di Dermaga MB 4, dan sembilan kapal di Dermaga LCM.

Windy mengemukakan, optimalisasi armada dilakukan untuk meningkatkan jumlah kendaraan yang dapat diseberangkan dan mengurangi kepadatan secara bertahap.

"Fokus kami saat ini adalah menjaga produktivitas kapal dan dermaga agar kendaraan yang telah antre dapat diseberangkan secara konsisten, dan seluruh armada yang siap operasi terus dioptimalkan dengan memperhatikan kondisi cuaca dan perairan, dan pastinya keselamatan tetap menjadi prioritas utama dan tidak dapat dikompromikan dalam setiap pengaturan operasional," ucap Windy.
Ia menambahkan, kepadatan kendaraan angkutan logistik yang masih terjadi merupakan akumulasi kendaraan dari periode sebelumnya, sehingga proses penguraiannya membutuhkan waktu.

"Produktivitas penyeberangan tidak hanya ditentukan oleh jumlah kapal, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan perairan, dinamika pasang surut, proses manuver dan sandar, siklus bongkar muat, serta kesiapan dermaga," jelasnya.