Jangan Sampai AI Menggantikan Manusia, Dewan Guru Besar Binus Dorong Konsep “AI for Life”
Dewan guru besar Universitas Binus menegaskan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), harus diarahkan untuk memperkuat kehidupan manusia, bukan menggantikannya.
Penulis:
Tim Redaksi
Kamis, 2 Juli 2026 | 10:31 WIB
Universitas Binus menegaskan kecerdasan buatan (AI) harus diarahkan untuk memperkuat kehidupan manusia, bukan menggantikannya. Foto: Binus
apakabar.co.id, JAKARTA - Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang semakin pesat telah mengubah banyak aspek kehidupan manusia. Mulai dari dunia pendidikan, industri, bisnis, hingga layanan publik kini mulai memanfaatkan teknologi AI untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
Namun di tengah kemajuan tersebut, muncul kekhawatiran bahwa teknologi tersebut justru akan menggantikan peran manusia.
Menanggapi hal itu, Dewan Guru Besar Universitas Binus menegaskan bahwa AI seharusnya dikembangkan untuk memperkuat kehidupan manusia, bukan menggantikannya. Melalui gagasan bertajuk “AI for Life”, perguruan tinggi tersebut ingin mendorong pemanfaatan AI yang lebih bermakna, etis, dan bertanggung jawab bagi masyarakat.
Ketua Dewan Guru Besar Universitas Binus, Prof. Harjanto Prabowo, menjelaskan bahwa AI tidak boleh hanya dipandang sebagai sekadar aplikasi atau teknologi canggih. Menurutnya, AI harus menjadi bagian dari transformasi yang mampu memberikan manfaat nyata dalam berbagai bidang kehidupan.
“AI harus dapat dimanfaatkan secara lebih bermakna, etis, dan bertanggung jawab, untuk mendukung kehidupan manusia, memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM), mendorong produktivitas, serta memperluas dampak positif bagi masyarakat dan bangsa,” ujar Prof. Harjanto di Tangerang, Banten, Kamis (2/7).
Ketua dewan guru besar BINUS University Prof Harjanto Prabowo (tengah) saat memberikan penjelasan mengenai peran kecerdasan buatan di era saat ini. Foto: ANTARA
Ia menjelaskan bahwa perkembangan AI saat ini telah memengaruhi berbagai sektor, mulai dari pendidikan, industri, kreativitas, tata kelola pemerintahan, hukum, hingga strategi pembangunan nasional. Karena itu, diperlukan arah yang jelas agar teknologi tersebut benar-benar memberikan manfaat yang luas.
Menurut Prof. Harjanto, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan perkembangan teknologi berjalan seiring dengan nilai-nilai kemanusiaan. Kampus tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai sumber pemikiran, penelitian, dan solusi yang dapat menjawab berbagai tantangan sosial.
Melalui konsep AI for Life, Dewan Guru Besar Binus ingin menegaskan bahwa kemajuan teknologi harus selalu berpihak pada manusia. AI, kata dia, bukan hanya soal kecanggihan sistem atau kemampuan komputasi yang tinggi, tetapi tentang bagaimana teknologi itu dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
“Melalui gagasan AI for Life, Dewan Guru Besar Binus ingin menegaskan bahwa teknologi, khususnya AI, harus diarahkan untuk memperkuat kehidupan manusia, bukan menggantikannya,” paparnya.
Lebih lanjut, ia menilai AI memiliki potensi besar untuk memperluas akses terhadap berbagai peluang, menciptakan lapangan inovasi baru, membantu pengambilan keputusan yang lebih akurat, hingga mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Namun, manfaat tersebut hanya dapat terwujud apabila teknologi dikembangkan dengan prinsip etika dan tanggung jawab. Tanpa arah yang jelas, AI berisiko menimbulkan berbagai persoalan baru, termasuk kesenjangan akses teknologi, penyalahgunaan data, hingga hilangnya sejumlah pekerjaan akibat otomatisasi.
Karena itu, Prof. Harjanto menekankan pentingnya kepemimpinan dan kolaborasi dalam menghadapi era kecerdasan baru yang kini sedang berlangsung. Menurutnya, teknologi tidak dapat berjalan sendiri tanpa panduan nilai dan kebijakan yang tepat.
“Dalam era kecerdasan baru, kepemimpinan dan kolaborasi menjadi kunci agar AI dapat memberikan manfaat yang lebih luas. Teknologi tidak dapat berdiri sendiri tanpa arah, nilai, dan tanggung jawab,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membangun literasi digital, etika teknologi, pengembangan talenta, penelitian, serta kebijakan yang mampu menjadikan AI sebagai kekuatan untuk kehidupan.
Melalui pendekatan tersebut, AI diharapkan dapat menjadi bagian dari solusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat daya saing industri, mendukung pengambilan kebijakan berbasis data, serta menciptakan dampak sosial yang lebih merata bagi masyarakat.
“AI for Life adalah ajakan agar kita tidak hanya mengejar kemajuan teknologi, tetapi juga memastikan bahwa teknologi tersebut membawa manfaat nyata bagi manusia dan Indonesia,” kata Prof. Harjanto.
Senada dengan hal itu, Prof. Firdaus Alamsjah menilai bahwa AI perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas dan memperkuat kualitas pengambilan keputusan di berbagai sektor. Selain itu, teknologi tersebut juga dapat membantu organisasi membangun kapabilitas baru dan menciptakan inovasi yang berdampak luas.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukan lagi sekadar mengadopsi teknologi AI, melainkan bagaimana memanfaatkan teknologi tersebut untuk menciptakan nilai tambah yang nyata.
“Organisasi, industri, dan institusi pendidikan perlu bergerak dari AI adoption menuju AI transformation, yaitu dari sekadar memakai teknologi menjadi mampu menciptakan nilai melalui teknologi,” ujar Prof. Firdaus.
Dengan semakin luasnya penggunaan AI di berbagai bidang, gagasan AI for Life menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi harus selalu berjalan beriringan dengan kepentingan manusia.
Di tengah era transformasi digital yang terus berkembang, keseimbangan antara inovasi, etika, dan tanggung jawab menjadi faktor penting agar AI benar-benar menjadi alat yang membantu manusia membangun masa depan yang lebih baik.