LINGKUNGAN HIDUP

Dari Bom Ikan ke Harapan Baru: Anak Muda Pesisir Tanam Karang di Bunaken

No-Trash Triangle Initiative (NTTI) bersama Bunaken Oasis Dive Resort & Spa berhasil melakukan transplantasi 75 fragmen karang pada 18–19 Februari 2026 di kawasan Taman Nasional Bunaken, Sulawesi Utara.
No-Trash Triangle Initiative (NTTI) bersama Bunaken Oasis Dive Resort & Spa melakukan transplantasi karang pada 18–19 Februari 2026 di kawasan TN Bunaken, Sulawesi Utara.  Foto: Istimewa untuk apakabar.co.id
No-Trash Triangle Initiative (NTTI) bersama Bunaken Oasis Dive Resort & Spa melakukan transplantasi karang pada 18–19 Februari 2026 di kawasan TN Bunaken, Sulawesi Utara. Foto: Istimewa untuk apakabar.co.id
apakabar.co.id, JAKARTA — Di perairan tenang laguna Taman Nasional Bunaken, sekelompok anak muda pesisir turun ke dasar laut dengan satu misi sederhana namun bermakna, menanam harapan. 

Selama 2 (dua) hari, 18–19 Februari 2026, mereka terlibat langsung dalam transplantasi 75 fragmen karang yang diinisiasi No-Trash Triangle Initiative (NTTI) bersama Bunaken Oasis Dive Resort & Spa, sebagai bagian dari upaya memulihkan ekosistem laut yang rusak akibat praktik pengeboman ikan ilegal.

Bagi para peserta magang selam, kegiatan ini bukan sekadar program pelatihan. Ini adalah pengalaman emosional yang mempertemukan mereka dengan kenyataan pahit, yakni terjadinya kerusakan laut di wilayah tempat mereka tumbuh.

Sebelum proses penanaman dimulai, tim terlebih dahulu membersihkan struktur besi yang telah lama berada di dasar perairan. Struktur itu menjadi fondasi bagi 75 fragmen karang baru, termasuk jenis Acropora yang dikenal memiliki pertumbuhan relatif cepat dan berperan penting dalam pemulihan terumbu.

Namun, di balik proses teknis tersebut, tersimpan cerita tentang laut yang pernah terluka. Area laguna yang direhabilitasi diketahui mengalami kerusakan akibat penangkapan ikan secara destruktif, termasuk pengeboman ikan yang menghancurkan terumbu karang dalam hitungan detik.

Bagi para trainee muda yang sebagian besar berasal dari wilayah pesisir sekitar Bunaken, melihat langsung kondisi karang yang rusak menjadi pengalaman yang membekas. Mereka tidak hanya belajar teori biologi laut di ruang kelas, namun menyaksikan sendiri bagaimana ekosistem bisa hancur dan bagaimana upaya pemulihan membutuhkan waktu panjang.

Program transplantasi karang menjadi penutup dari rangkaian magang selam Bunaken Oasis yang berlangsung selama enam bulan. Selama periode tersebut, para peserta mendapatkan pembekalan intensif tentang biologi laut, ekologi terumbu karang, hingga praktik konservasi dari tim edukator NTTI.

Pelatihan ini dirancang bukan hanya untuk mencetak pemandu selam profesional, tetapi juga membangun kesadaran lingkungan sejak dini. Anak-anak muda pesisir yang sebelumnya hanya melihat laut sebagai sumber penghidupan kini mulai memahami perannya sebagai ekosistem yang harus dijaga.

Sebagai eco-dive resort, Bunaken Oasis mengintegrasikan nilai keberlanjutan dalam setiap program pelatihannya. Para trainee tidak hanya diajarkan keterampilan menyelam, tetapi juga praktik penyelaman yang bertanggung jawab serta keterlibatan aktif dalam konservasi laut dan masyarakat lokal.

"Bagi kami di Bunaken Oasis, keberlanjutan adalah fondasi masa depan pariwisata. Restorasi karang bukan hanya soal menanam, tetapi juga mengedukasi penyelam dan tamu agar lebih bertanggung jawab terhadap laut," ujar Meilisa Lalonata, technical diver di resort tersebut.

Di balik keindahan proses transplantasi karang, terdapat kerja keras yang tidak ringan. Persiapan dilakukan berbulan-bulan, mulai dari perencanaan lokasi, pengumpulan fragmen, hingga koordinasi tim di lapangan.

Edukator No-Trash Triangle Initiative (NTTI), Hizkia Rengkung, mengungkapkan bahwa restorasi karang membutuhkan energi fisik dan ketelitian tinggi. Ia juga menyoroti ancaman besar dari praktik penangkapan ikan destruktif yang dapat merusak hasil kerja panjang hanya dalam sekejap.

"Restorasi ini bukan tugas yang mudah. Sangat memprihatinkan ketika menyadari bahwa upaya berbulan-bulan bisa hancur dalam hitungan detik akibat penangkapan ikan yang merusak," ujarnya.

Kolaborasi antara NTTI dan Bunaken Oasis menunjukkan bahwa sektor pariwisata bahari dapat mengambil peran nyata dalam pelestarian lingkungan. Selain transplantasi karang, kerja sama ini juga mencakup pengelolaan sampah plastik dan program edukasi konservasi bagi staf serta tamu resort.

Menurut berbagai kajian global, termasuk dari World Resources Institute, degradasi terumbu karang berpotensi mengancam jutaan orang yang bergantung pada laut untuk ketahanan pangan, perlindungan pesisir, dan sumber pendapatan. Karena itu, inisiatif lokal seperti di Bunaken menjadi contoh penting bagaimana konservasi dapat berjalan seiring dengan pengembangan pariwisata berkelanjutan.

Selanjutnya, karang yang telah ditanam akan dipantau setiap tiga bulan untuk melihat tingkat kelangsungan hidup dan pertumbuhannya. Lokasi transplantasi juga akan dimanfaatkan sebagai area pembelajaran dan penelitian lapangan bagi pelajar, penyelam, dan peneliti.

Kegiatan ini melibatkan tim edukator NTTI, technical diver dan dive trainee Bunaken Oasis, serta perwakilan Balai Taman Nasional Bunaken. Kolaborasi lintas sektor ini menegaskan satu hal: konservasi laut akan lebih berdampak ketika pendidikan, industri pariwisata, dan masyarakat lokal bergerak bersama.

Bagi anak-anak muda pesisir yang terlibat, menanam karang bukan hanya tentang memulihkan ekosistem. Ini adalah tentang menjaga laut yang selama ini memberi mereka kehidupan. Kini, mereka mulai membalasnya dengan harapan baru yang tumbuh perlahan di dasar laut Bunaken.