NEWS

Aksi Solidaritas Andrie Yunus di Balikpapan Diadang Militer!

Sejumlah aktivis dari unsur Aliansi Balikpapan Suara diadang sejumlah prajurit TNI sebelum melakukan aksi solidaritas terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus. Foto: Istimewa
Sejumlah aktivis dari unsur Aliansi Balikpapan Suara diadang sejumlah prajurit TNI sebelum melakukan aksi solidaritas terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus. Foto: Istimewa
apakabar.co.id, BALIKPAPAN - Puluhan mahasiswa yang menggelar aksi solidaritas untuk aktivis HAM Andrie Yunus di Balikpapan mengaku diadang dan mengalami tindakan kasar saat hendak menggelar mimbar bebas di ruang publik. 

Aksi yang digelar Aliansi Balikpapan Bersuara di depan Kodim 0905/Balikpapan, Selasa sore (31/3), berlangsung di bawah penjagaan ketat aparat TNI dan Polri. Massa semula berencana bergerak ke kawasan Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) di depan Kodam VI/Mulawarman, namun mengaku dihalau sebelum mencapai lokasi.

Koordinator lapangan aksi, Jusliadin, menyebut sejumlah mahasiswa mengalami intimidasi fisik oleh oknum tidak dikenal. “Saya bahkan sempat ditendang, ada juga rekan yang ditarik paksa oleh oknum tidak dikenal,” ujarnya.
Aksi ini merupakan respons atas serangan air keras terhadap Andrie Yunus pada 12 Maret 2026 di Jakarta Pusat. Saat itu, ia disiram zat kimia korosif usai membahas isu Dwifungsi ABRI di kantor YLBHI.

Kasus tersebut menyita perhatian publik setelah pelaku penyiraman diketahui berasal dari unsur Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI. Akibat serangan itu, Andrie mengalami luka bakar serius di wajah, tangan, dan mata, dan harus menjalani perawatan intensif.

Dalam orasinya, massa menilai kasus ini sebagai ancaman terhadap kebebasan berekspresi dan demokrasi. “Kasus Andrie Yunus adalah pengingat bahwa kritik merupakan hak konstitusional yang dijamin undang-undang,” ujar salah satu orator.

Mereka juga menyinggung sejumlah kasus pelanggaran HAM masa lalu, seperti yang menimpa Marsinah dan Munir Said Thalib, sebagai refleksi atas risiko intervensi militer di ranah sipil.

Tiga Tuntutan
Aliansi Balikpapan Bersuara menyampaikan tiga tuntutan utama dalam aksi tersebut. Pertama, mendesak pengusutan tuntas kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus. “Kami mendesak Polri untuk segera menangkap pelaku penyiraman serta aktor intelektual di baliknya secara transparan dan akuntabel,” kata Jusliadin.

Kedua, mereka meminta Presiden Prabowo Subianto membentuk tim investigasi independen yang melibatkan unsur masyarakat sipil. Ketiga, massa secara tegas menolak jika kasus tersebut dibawa ke peradilan militer.

“Kami menolak secara tegas jika nantinya pelaku diadili melalui mekanisme peradilan militer,” ujarnya.