NEWS

Aktivitas Gunung Sorikmarapi Meningkat Tajam, Warga Diminta Jauhi Kawah dalam Radius 1,5 Kilometer

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat adanya peningkatan aktivitas Gunung Sorikmarapi di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara yang cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir.
Gunung Sorikmarapi di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara berada pada Status Level II (Waspada) oleh Badan Geologi Kementerian ESDM. Foto: WIkipedia
Gunung Sorikmarapi di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara berada pada Status Level II (Waspada) oleh Badan Geologi Kementerian ESDM. Foto: WIkipedia
apakabar.co.id, JAKARTA - Aktivitas Gunung Sorikmarapi di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan adanya lonjakan aktivitas kegempaan menjadi perhatian serius meski status gunung api tersebut masih berada pada Level II atau Waspada.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan peningkatan aktivitas tersebut terutama ditandai dengan melonjaknya jumlah Gempa Vulkanik Dalam yang mulai tercatat pada Sabtu, 18 Juli 2026.

"Aktivitas kegempaan Gunungapi Sorikmarapi mengalami peningkatan signifikan yang didahului oleh terekamnya Gempa Tektonik Lokal dan Gempa Terasa," ujar Lana dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (21/7).

Berdasarkan laporan tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), pengamatan pada 18 Juli 2026 sejak pukul 00.00 hingga 18.30 WIB mencatat sebanyak 40 kali Gempa Vulkanik Dalam. Selain itu, juga terjadi lima kali Gempa Tektonik Lokal, satu kali Gempa Terasa dengan intensitas I MMI, serta dua kali Gempa Tektonik Jauh.

Data tersebut menunjukkan adanya peningkatan aktivitas di dalam tubuh gunung yang perlu terus dipantau secara intensif. Gempa Vulkanik Dalam umumnya berkaitan dengan pergerakan magma atau fluida panas di bawah permukaan bumi. 

"Karena itu, lonjakan jumlah gempa menjadi salah satu indikator penting dalam memantau perkembangan aktivitas gunung api," terangnya.

Peningkatan ini juga melanjutkan tren aktivitas yang sudah terlihat sejak awal Juli. Sepanjang periode 1 hingga 17 Juli 2026, Pos Pengamatan Gunung Sorikmarapi telah merekam sebanyak 182 kali Gempa Vulkanik Dalam. 

"Selain itu, tercatat pula 31 kali Gempa Tektonik Lokal dan 51 kali Gempa Tektonik Jauh," kata Lana.

Meski demikian, Badan Geologi menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ditemukan tanda-tanda aktivitas yang mengarah pada erupsi dalam waktu dekat. Hal itu terlihat dari hasil pemantauan seismograf yang belum merekam adanya gempa dangkal maupun aktivitas di permukaan.

Lana menegaskan bahwa seluruh aktivitas kegempaan yang terjadi masih didominasi gempa di kedalaman. Kondisi tersebut menunjukkan adanya dinamika di bawah permukaan, namun belum disertai pergerakan magma yang mencapai lapisan dangkal.

Walaupun demikian, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan. Aktivitas gunung api dapat berubah sewaktu-waktu sehingga pemantauan terus dilakukan selama 24 jam oleh petugas PVMBG.

Sebagai langkah antisipasi, Badan Geologi mengeluarkan sejumlah rekomendasi bagi masyarakat maupun wisatawan yang berada di sekitar Gunung Sorikmarapi. Salah satu yang paling penting adalah larangan memasuki kawasan dalam radius 1,5 kilometer dari pusat kawah utama atau puncak gunung.

Selain itu, warga juga diminta tidak mendekati sejumlah kawah aktif, termasuk Kawah Sibangor Tonga dan Kawah Sibangor Julu. Kawasan tersebut berpotensi mengeluarkan semburan lumpur panas maupun gas beracun yang dapat muncul secara tiba-tiba tanpa didahului tanda-tanda yang mudah dikenali.

"Masyarakat juga diimbau untuk tidak mendekati Kawah Sibangor Tonga, Kawah Sibangor Julu, serta kawah aktif lainnya guna menghindari ancaman semburan lumpur dan gas beracun yang dapat terjadi secara tiba-tiba," kata Lana.

Imbauan tersebut juga ditujukan kepada para pendaki maupun wisatawan yang sering berkunjung ke kawasan Gunung Sorikmarapi. Aktivitas wisata di sekitar kawah sebaiknya ditunda hingga kondisi gunung dinyatakan benar-benar aman oleh otoritas terkait.

Badan Geologi memastikan pemantauan terhadap Gunung Sorikmarapi akan terus dilakukan secara berkelanjutan. Setiap perkembangan aktivitas akan segera diinformasikan kepada pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta masyarakat agar langkah mitigasi dapat dilakukan lebih cepat.

Selanjutnya, masyarakat diharapkan tetap tenang dan tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi. Seluruh informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Sorikmarapi akan disampaikan melalui Badan Geologi dan PVMBG. Dengan kewaspadaan dan kepatuhan terhadap rekomendasi yang diberikan, risiko terhadap keselamatan masyarakat di sekitar gunung api diharapkan dapat diminimalkan.