NEWS

Gencatan Senjata Iran–AS Belum Pulihkan Selat Hormuz, Lalu Lintas Kapal Masih Tertahan

Ketika Iran dan Amerika Serikat sepakat membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz, tanda-tanda pemulihan aktivitas pengiriman dalam skala besar masih sangat terbatas.
Arsip foto - Iran kaji pungutan untuk kapal yang melintas di Selat Hormuz - Foto: ANTARA via Xinhua
Arsip foto - Iran kaji pungutan untuk kapal yang melintas di Selat Hormuz - Foto: ANTARA via Xinhua
apakabar.co.id, JAKARTA - Rabu, 8 April 2026 menjadi momen penting dalam dinamika global, ketika Iran dan Amerika Serikat sepakat membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz. Namun, hingga hari itu berlalu, tanda-tanda pemulihan aktivitas pengiriman dalam skala besar masih sangat terbatas.

Selat Hormuz bukan jalur biasa. Jalur sempit ini menjadi nadi perdagangan energi dunia, mengalirkan sekitar seperempat minyak global dan seperlima gas alam. Ketika Iran memblokirnya selama konflik berlangsung, dampaknya langsung terasa hingga pasar energi internasional.

Kini, meski gencatan senjata telah diumumkan, pemulihan tidak terjadi secepat yang dibayangkan.

Data dari perusahaan pelacak kapal Kpler menunjukkan hanya sedikit pergerakan kapal pada Rabu. Sebuah kapal curah milik Yunani dan kapal berbendera Liberia tercatat melintasi selat, tetapi itu belum mencerminkan kembalinya aktivitas normal.

"Belum ada tanda-tanda antrean besar kapal yang bersiap melintas," ujar Dimitris Ampatzidis dari Kpler dikutip dari The New York Times, Rabu (8/4). 

Dia menambahkan, sebagian besar operator masih memilih menahan diri.

Sementara itu, S&P Global Market Intelligence mendata ada 244 kapal tanker di sisi barat selat dan 156 di sisi timur. Namun, angka itu belum menunjukkan pergerakan aktif, melainkan lebih kepada posisi menunggu.

Salah satu faktor utama yang membuat perusahaan pelayaran ragu adalah ketidakjelasan aturan dari Iran. 

Menteri Luar Negeri Iran menyatakan jalur aman bisa dibuka, tetapi harus melalui koordinasi militer dan mempertimbangkan keterbatasan teknis. Pernyataan ini justru menimbulkan pertanyaan baru di kalangan pelaku industri.

Menurut Jack Kennedy, perwakilan S&P Global Market Intelligence untuk urusan menakar risiko negara Timur Tengah dan Afrika Utara, posisi Iran ternyata tidak banyak berubah dibanding sebelum gencatan senjata.

"Ini bertentangan dengan tuntutan AS untuk akses tanpa hambatan," ujarnya.

Di sisi lain, Donald Trump mengisyaratkan bahwa Amerika Serikat akan ikut mengatur lalu lintas di selat, bahkan membuka kemungkinan kerja sama dengan Iran. Pernyataan itu menambah dimensi baru, sekaligus kebingungan, tentang siapa yang benar-benar memegang kendali.

"Amerika Serikat akan membantu mengatasi peningkatan lalu lintas di Selat Hormuz," kata Trump dalam sebuah unggahan di media sosial.

Dia menambahkan, "Akan ada banyak tindakan positif! Uang besar akan dihasilkan."

Industri pelayaran Wait and See
Ketidakpastian ini membuat perusahaan pelayaran global memilih berhati-hati.

Perusahaan raksasa seperti Maersk menyambut baik gencatan senjata, tetapi belum berani mengubah operasionalnya. Sementara Mitsui OSK Lines dan Hapag-Lloyd sedang menangguhkan pelayaran melalui selat tersebut.

Menurut Jennifer Parker dari Institut Pertahanan dan Keamanan Universitas Western Australia, pelaku industri membutuhkan kejelasan konkret.

"Mereka ingin tahu: apa arti koordinasi itu, dan apa yang harus dilakukan?" kata mantan perwira angkatan laut itu dikutip dari ABC News. 

Ia juga menyoroti satu isu krusial, kepercayaan terhadap Iran.

"Akan ada beberapa ketidakpastian mengenai apakah Iran dapat dipercaya dalam hal in," jelasnya. 

Risiko masih tinggi
Selama konflik, Iran diketahui memasang ranjau dan melakukan serangan sporadis terhadap sejumlah kapal. Kondisi itu membuat risiko keamanan belum sepenuhnya hilang.

Malcolm Davis, analis senior dalam strategi pertahanan di Australian Strategic Policy Institute, mengingatkan bahwa situasi masih sangat rapuh.

"Yang dibutuhkan hanyalah satu insiden untuk merusak kepercayaan, mungkin pasukan Iran mengganggu sebuah kapal atau ranjau menghantam kapal," paparnya.

Hal ini diperkuat oleh pernyataan Lloyd's Market Association yang menyebut kawasan tersebut masih berisiko tinggi. Asuransi pelayaran memang mulai tersedia, tetapi perusahaan asuransi masih menunggu kepastian bahwa gencatan senjata akan bertahan.

"Berdasarkan penilaian risiko kami saat ini, kami untuk sementara menahan diri untuk tidak melintasi selat tersebut," kata Leon Schulz, juru bicara perusahaan pelayaran raksasa Hapag-Lloyd. 

Dalam sebuah pernyataan, Schulz menambahkan bahwa apakah pembukaan yang diumumkan tersebut benar-benar akan bertahan, akan menjadi jelas dalam beberapa hari mendatang.

Sanksi dan biaya jadi hambatan tambahan
Masalah lain muncul dari potensi pembayaran kepada Iran untuk akses pelayaran. Banyak perusahaan Barat khawatir hal itu melanggar sanksi internasional.

Analis energi di RBC Capital Markets, Helima Croft mempertanyakan apakah perusahaan Eropa bahkan bisa memenuhi persyaratan tersebut secara hukum. Misalnya, kemampuan membayar biaya kepada Iran mengingat sanksi yang masih berlaku.

"Siapa sebenarnya yang bersedia menyetujui persyaratan Teheran untuk pengesahan ini?" katanya.

Selain itu, sistem persetujuan kapal dari Iran dinilai belum siap menangani volume besar. Ini menjadi hambatan teknis yang bisa memperlambat normalisasi.

Gangguan tidak hanya terjadi di laut. Infrastruktur energi di kawasan Teluk juga mengalami kerusakan serius akibat perang.

Diperkirakan sekitar 10 persen pasokan minyak dunia sempat terhenti. Perbaikan kilang, fasilitas penyimpanan, dan ladang energi membutuhkan waktu panjang.

Willie Walsh dari International Air Transport Association menjelaskan pemulihan bahan bakar jet bisa memakan waktu berbulan-bulan.

"Harga minyak mentah mungkin turun, tetapi bahan bakar jet tetap mahal," ujarnya dikutip dari ABC News. 

Pemulihan tidak instan
Sebelum konflik, lebih dari 130 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari. Namun sejak perang dimulai, total hanya sekitar 120 kapal yang melintas. Angka ini menunjukkan betapa dalamnya gangguan yang terjadi.

Dengan berbagai faktor, mulai dari risiko keamanan, ketidakjelasan aturan, hingga hambatan hukum, pemulihan jalur ini diperkirakan tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

Gencatan senjata memang membuka pintu, tetapi belum cukup untuk mengembalikan kepercayaan.

Dan dalam sistem perdagangan global yang sangat sensitif, kepercayaan sering kali lebih menentukan daripada sekadar pernyataan politik.