NEWS

Iran Umumkan Kepemimpinan Sementara Usai Ali Khamenei Gugur, Majelis Ahli Segera Pilih Pengganti

Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Mokhber, menyatakan bahwa kekosongan jabatan Pemimpin Tertinggi akan diisi sementara oleh tiga pejabat negara.
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. Foto: ANTARA/Andolu
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. Foto: ANTARA/Andolu
apakabar.co.id, JAKARTA - Krisis politik dan keamanan mengguncang Iran setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dikonfirmasi gugur akibat serangan rudal Amerika Serikat dan Israel. 

Kabar duka tersebut diumumkan secara resmi oleh televisi nasional Iran pada Minggu (1/3) waktu setempat. Serangan yang terjadi pada Sabtu  (28/2) pagi itu menyasar sejumlah wilayah penting, termasuk ibu kota Teheran. 

Sejumlah infrastruktur dilaporkan mengalami kerusakan cukup berat dan sejumlah warga sipil menjadi korban.

Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Mokhber, menyatakan bahwa kekosongan jabatan Pemimpin Tertinggi akan diisi sementara oleh tiga pejabat negara.

Melalui kantor berita resmi IRNA, Mokhber menjelaskan bahwa Presiden Iran, Ketua Pengadilan, serta seorang anggota Dewan Wali akan menjalankan tugas-tugas Pemimpin Tertinggi selama masa transisi.

"Presiden, ketua pengadilan, dan seorang anggota Dewan Wali akan menjalankan tugas Pemimpin Tertinggi di masa kekosongan jabatan," demikian pernyataan dikutip dari IRNA, Minggu (1/3). 

Langkah tersebut mengacu pada mekanisme konstitusi Iran yang mengatur tata cara suksesi apabila terjadi kekosongan jabatan tertinggi negara.

Sementara itu, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, memastikan Majelis Ahli akan segera bersidang untuk memilih pemimpin baru.

Menurut Larijani, proses tersebut merujuk pada Pasal 111 Konstitusi Iran. Dalam aturan disebutkan bahwa jika Pemimpin Tertinggi wafat, Majelis Ahli wajib memilih pengganti secepat mungkin.

"Majelis Ahli akan bersidang hari ini dan prosesnya akan dimulai," ujar Larijani dalam siaran televisi nasional Iran.

Majelis Ahli sendiri merupakan lembaga yang memiliki kewenangan memilih dan memberhentikan Pemimpin Tertinggi Iran. Sidang yang digelar Minggu (1/3) ini menjadi langkah awal dalam menentukan arah kepemimpinan Iran ke depan.

Sebelumnya, serangan telah dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (282) pagi. Sejumlah target strategis di Teheran dan wilayah lain dihantam rudal. Pemerintah Iran menyebut serangan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara.

Tak lama berselang, Iran meluncurkan serangan balasan berupa rudal ke wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Meski demikian, Larijani menegaskan bahwa Iran tidak berniat menyerang negara-negara tetangga. Menurutnya, sasaran balasan hanya ditujukan pada pangkalan militer Amerika Serikat.

"Iran tidak bermaksud menyerang negara tetangga. Target kami adalah pangkalan militer AS yang bukan merupakan wilayah negara mereka," papar Larijani.

Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bersama Angkatan Darat Iran juga mengeluarkan pernyataan tertulis. Mereka bersumpah akan membalas kematian Khamenei.

Pernyataan tersebut mempertegas sikap keras militer Iran terhadap serangan yang menewaskan pemimpin tertinggi mereka. Situasi tersebut meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah dan memicu kekhawatiran eskalasi konflik lebih luas.

Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi lebih lanjut dari pihak Amerika Serikat maupun Israel terkait konfirmasi gugurnya Khamenei.

Kepergian Ali Khamenei menjadi momen paling krusial dalam sejarah politik modern Iran. Selama puluhan tahun, ia memegang kendali tertinggi atas kebijakan politik, militer, dan keagamaan negara tersebut.

Kini, Iran memasuki masa transisi yang menentukan. Proses pemilihan oleh Majelis Ahli akan menjadi sorotan dunia internasional, terutama di tengah situasi keamanan yang belum stabil.

Dunia menunggu bagaimana Iran menavigasi pergantian kepemimpinan ini, sekaligus meredam ketegangan militer yang telah memanas dalam beberapa hari terakhir.