NEWS
Iran Umumkan 40 Hari Berkabung atas Tewasnya Khamenei dalam Serangan AS - Israel
Pemerintah Iran resmi mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari setelah Pemimpin Tertinggi mereka, Ali Khamenei, dinyatakan tewas dalam serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2).
apakabar.co.id, JAKARTA - Pemerintah Iran resmi mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari setelah Pemimpin Tertinggi mereka, Ali Khamenei, dinyatakan tewas dalam serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2). Selain berkabung, pemerintah juga menetapkan libur kerja selama satu pekan.
Pengumuman tersebut disampaikan melalui kantor berita Fars dan diperkuat oleh siaran televisi pemerintah Iran yang mengonfirmasi kabar wafatnya Ali Khamenei pada Ahad. Sebelumnya, media Israel dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah lebih dulu mengklaim bahwa pemimpin tertinggi Iran itu tewas dalam serangan tersebut.
Serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2) menyasar sejumlah target strategis di Iran, termasuk ibu kota Teheran. Agresi militer tersebut disebut menyebabkan kerusakan infrastruktur serta menimbulkan korban jiwa dan luka-luka di kalangan sipil.
Pemerintah Iran mengecam keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan agresi terbuka. Situasi keamanan di sejumlah wilayah dilaporkan masih tegang, dengan peningkatan pengamanan di fasilitas vital dan pusat pemerintahan.
Tak lama setelah serangan itu, Iran melancarkan serangan balasan berupa rudal ke wilayah Israel. Selain itu, sejumlah instalasi militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah juga menjadi sasaran balasan Teheran.
Ketegangan yang meningkat ini telah memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan.
Pemimpin dengan masa jabatan terlama
Ali Khamenei dikenal sebagai pemimpin tertinggi Iran dengan masa jabatan terlama di kawasan Timur Tengah. Ia mulai menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi pada 1989, menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Sebelum menduduki posisi tersebut, Khamenei menjabat sebagai Presiden Iran selama dua periode, yakni dari 1981 hingga 1989. Dalam perannya sebagai pemimpin tertinggi, ia memiliki otoritas luas dalam bidang politik, militer, dan keagamaan.
Kematian Khamenei menjadi momen penting dalam sejarah politik Iran. Banyak pihak menilai peristiwa ini akan membawa dampak besar terhadap arah kebijakan dalam negeri maupun hubungan luar negeri Iran ke depan.
Sementara itu, konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel dikhawatirkan memicu eskalasi lebih luas di Timur Tengah. Sejumlah negara menyerukan penahanan diri dan dialog untuk mencegah situasi semakin memburuk.
Di dalam negeri, suasana duka menyelimuti berbagai kota di Iran. Bendera dikibarkan setengah tiang dan berbagai kegiatan kenegaraan dihentikan sementara selama masa berkabung nasional.
Pengumuman 40 hari berkabung dan libur nasional selama seminggu menjadi simbol penghormatan terakhir bagi pemimpin yang telah memimpin Iran lebih dari 3 (tiga) dekade. Sementara itu, perhatian dunia kini tertuju pada langkah politik Iran berikutnya di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK