NEWS
IRGC Klaim Serangan ke Pangkalan AS, Ketegangan di Timur Tengah Kian Memanas
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengonfirmasi peluncuran serangkaian serangan terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan tersebut.
apakabar.co.id, JAKARTA - Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengonfirmasi peluncuran serangkaian serangan terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Dalam pernyataan resmi yang dikutip kantor berita Fars pada Rabu (18/3), IRGC menyebut serangan itu merupakan bagian dari tahap ke-62 Operasi "Janji Sejati 4". Serangan dilakukan dalam beberapa jam terakhir dengan target berbagai fasilitas militer strategis milik AS.
Laporan kantor berita RIA Novosti dari Moskow menyebut, selain pangkalan militer Amerika Serikat, serangan juga diarahkan ke titik-titik yang disebut sebagai pusat dukungan tempur pihak Israel.
IRGC merinci sejumlah lokasi yang menjadi sasaran, antara lain pangkalan Al-Salem, Al-Udeiri, dan Arifjan di Kuwait. Selain itu, pangkalan Victoria di Irak, Al-Udeid di Qatar, Al-Dhafra di Uni Emirat Arab, serta Al-Azraq di Yordania juga termasuk dalam daftar target.
Tidak hanya di darat, IRGC juga mengklaim telah menargetkan Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat yang beroperasi di kawasan Teluk Persia, Laut Merah, dan Laut Arabia. Wilayah tersebut selama ini dikenal sebagai jalur strategis bagi aktivitas militer dan perdagangan internasional.
Dalam pernyataan yang sama, IRGC turut menyebut serangan diarahkan ke sejumlah kota di Israel, yakni Tel Aviv, Beersheba, Haifa, dan Acre.
Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari pihak Amerika Serikat maupun negara-negara yang disebut terkait dampak serangan tersebut. Informasi mengenai tingkat kerusakan atau kemungkinan korban juga belum dapat diverifikasi secara independen.
Situasi di kawasan Timur Tengah dilaporkan masih berkembang, dengan berbagai pihak internasional terus memantau dinamika yang terjadi di lapangan.
Serangan ini menambah panjang daftar ketegangan yang meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Keberadaan militer Amerika Serikat di sejumlah titik di Timur Tengah selama ini menjadi bagian dari strategi keamanan regional, namun juga kerap memicu friksi dengan Iran.
Sejumlah pengamat menilai, eskalasi terbaru ini berpotensi memperbesar risiko konflik terbuka jika tidak segera diredam. Terlebih, keterlibatan Amerika Serikat sebagai kekuatan global membuat setiap serangan memiliki dampak yang lebih luas.
Jika tidak diimbangi dengan langkah deeskalasi melalui jalur diplomasi, ketegangan yang terus meningkat ini dikhawatirkan dapat meluas, tidak hanya di tingkat kawasan tetapi juga berdampak pada stabilitas global, termasuk sektor energi dan jalur perdagangan internasional.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK