NEWS
Penyamaran Prabowo Terbongkar di Senen, Warga Bantaran Rel Kaget Didatangi Presiden
Aksi penyamaran Prabowo Subianto saat meninjau permukiman warga di bantaran rel kereta api kawasan Senen, Jakarta, Kamis (27/3) sore, berujung terbongkar.
apakabar.co.id, JAKARTA - Aksi penyamaran Presiden Prabowo Subianto saat meninjau permukiman warga di bantaran rel kereta api kawasan Senen, Jakarta, Kamis (27/3) sore, berujung terbongkar. Kedatangan Presiden yang awalnya ingin dilakukan secara diam-diam justru berubah menjadi momen penuh kejutan bagi warga.
Kunjungan tersebut berlangsung spontan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut, Presiden tiba-tiba ingin melihat langsung kondisi masyarakat yang tinggal di sepanjang rel aktif, yang jaraknya hanya sekitar tiga kilometer dari pusat ibu kota.
“Pak Presiden mendadak ingin melihat langsung warga di pinggir rel,” ujar Teddy dikutip ANTARA, Kamis (26/3).
Awalnya, Prabowo berencana datang tanpa protokoler ketat. Ia ingin menggunakan mobil biasa, mengenakan topi, serta hanya didampingi sedikit Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Tujuannya agar bisa melihat kondisi warga secara lebih dekat tanpa menarik perhatian.
Namun rencana itu tidak berjalan mulus. Kehadiran Presiden dengan cepat dikenali warga. Dalam hitungan menit, suasana gang sempit di bantaran rel berubah ramai. Warga berbondong-bondong keluar rumah untuk memastikan kabar tersebut.
Nur Hanifah, salah satu warga, mengaku langsung meninggalkan aktivitas memasak saat mendengar Presiden datang.
“Tadi lagi masak, langsung keluar. Ada Bapak Presiden,” ujarnya dengan nada haru, dikutip dari keterangan resmi Badan Komunikasi Pemerintah, Kamis (26/3).
Antusiasme juga datang dari Wawan, seorang pengamen badut, yang mengaku hampir menangis karena tidak menyangka lingkungannya dikunjungi Presiden.
“Baru pertama kali ada Presiden ke sini, terharu,” katanya.
Di tengah kerumunan, Prabowo terlihat menyapa warga dan mendengarkan langsung berbagai keluhan. Salah satu persoalan utama yang disampaikan adalah kondisi hunian yang sempit dan berada sangat dekat dengan jalur rel aktif.
Cono, seorang pemulung, mengaku sempat berbincang langsung dengan Presiden. Dalam percakapan itu, Prabowo menyinggung kemungkinan pembangunan rumah susun sebagai solusi tempat tinggal.
“Kata Pak Prabowo, mau enggak dibikinin rusun? Saya bilang mau,” ujarnya.
Selain soal hunian, warga juga berharap program bantuan sosial tetap berlanjut. Yana, seorang ibu rumah tangga, menyampaikan harapan agar bantuan seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan Makan Bergizi Gratis (MBG) terus diberikan untuk membantu kebutuhan keluarga, terutama anak-anak.
Kunjungan itu memperlihatkan pendekatan langsung Presiden dalam melihat kondisi masyarakat. Tanpa agenda resmi yang diumumkan sebelumnya, interaksi yang terjadi terasa lebih spontan dan dekat.
Meski demikian, persoalan permukiman di bantaran rel bukan hal baru. Kawasan ini telah lama menjadi simbol ketimpangan perkotaan, dengan risiko tinggi dari sisi keselamatan dan kesehatan. Wacana relokasi atau pembangunan rumah susun sudah sering muncul, namun realisasinya kerap berjalan lambat.
Di titik ini, aksi penyamaran Presiden memang menjadi perhatian publik. Namun bagi warga, yang lebih penting adalah kelanjutan dari kunjungan tersebut.
Harapan kini tertuju pada langkah konkret pemerintah, mulai dari kepastian relokasi, ketersediaan hunian layak, hingga jaminan kehidupan yang lebih baik setelahnya.
Kehadiran Presiden di kawasan Senen, sore itu, menghadirkan kejutan sekaligus harapan. Tetapi bagi warga bantaran rel, perubahan nyata tetap menjadi hal yang paling dinantikan—lebih dari sekadar kunjungan yang tak terduga.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK