NEWS

Penyiram Air Keras Aktivis KontraS Sebar Foto AI Diduga untuk Ganggu Penyelidikan

Polisi mengendus adanya dugaan upaya pelaku menyebarkan foto hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI) di media sosial. Untuk mengaburkan identitas dan mengganggu proses penyelidikan.
Tangkapan layar dari CCTV penyiraman air keras ke aktivis KontraS yang diduga dimanipulasi AI. Foto: Istimewa/Medsos
Tangkapan layar dari CCTV penyiraman air keras ke aktivis KontraS yang diduga dimanipulasi AI. Foto: Istimewa/Medsos
apakabar.co.id, JAKARTA - Polda Metro Jaya mengungkap dugaan upaya manipulasi informasi dalam kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Iman Imanuddin menyatakan pelaku diduga sengaja menyebarkan foto hasil rekayasa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di media sosial.

Langkah tersebut diduga polisi dilakukan pelaku setelah rekaman kamera pengawas (CCTV) yang memperlihatkan pergerakan pelaku mulai beredar luas di ruang publik.

“Pelaku dan jaringannya mulai terlihat panik dan berupaya mengaburkan proses penyelidikan dengan mengedarkan gambar atau rekayasa AI,” kata Iman dalam konferensi pers, Senin (16/3).

Menurut dia, foto yang beredar di media sosial tersebut bukanlah gambar asli pelaku, melainkan hasil manipulasi digital yang sengaja dibuat untuk memengaruhi persepsi publik. “Dapat kami pastikan foto tersebut adalah hoaks karena merupakan hasil rekayasa AI. Kami duga ini salah satu upaya jaringan pelaku untuk mengaburkan informasi dan mengganggu arah fakta hukum yang sedang kami telusuri,” ujarnya.
Kasus ini bermula ketika Andrie Yunus diserang oleh orang tak dikenal di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, pada Kamis (12/3) malam. Serangan terjadi saat Andrie meninggalkan kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) setelah mengikuti perekaman podcast bertema “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia”.

Menurut keterangan KontraS, dua pelaku mendekati korban menggunakan sepeda motor dengan melawan arah. Salah satu pelaku kemudian menyiramkan cairan yang diduga air keras ke arah 
tubuh korban.

Cairan tersebut mengenai mata, wajah, dada, serta kedua tangan Andrie. Korban yang kesakitan sempat berteriak meminta pertolongan sebelum akhirnya dibantu warga sekitar. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan Andrie mengalami luka bakar sekitar 24 persen di beberapa bagian tubuh. Ia kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk mendapatkan penanganan medis.

Bantah Dicangkok 

Kepala Divisi Pemantauan Impunitas KontraS Jane Rosalina mengatakan Andrie saat ini masih menjalani pemulihan intensif di ruang High Care Unit (HCU) RSCM.

“Korban sedang berada di ruang high care unit dan itu tidak bisa kita pastikan berapa lamanya,” kata Jane di Gedung YLBHI, Jakarta Pusat.

Menurut dia, proses pemulihan diperkirakan memerlukan waktu panjang, berkaca dari kasus penyiraman air keras terhadap mantan penyidik KPK, Novel Baswedan, yang memerlukan perawatan berbulan-bulan.

Jane juga membantah kabar yang beredar di media sosial bahwa mata korban telah dicangkok atau diangkat. “Informasi yang beredar bahwa mata Andrie dicangkok itu tidak benar. Kami dari KontraS mengonfirmasi bahwa kabar tersebut keliru,” ujarnya.

Ia menambahkan tim dokter telah melakukan penanganan awal terhadap reaksi inflamasi pada mata korban akibat paparan cairan asam. Sebelumnya, sejumlah pihak mendesak aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus tersebut, termasuk mengungkap motif serta kemungkinan adanya aktor intelektual di balik serangan.
Peneliti Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Bambang Rukminto menilai pengungkapan cepat penting dilakukan untuk mencegah munculnya spekulasi liar di tengah masyarakat.

“Serangan pada Andrie atau aktivis yang kritis pada pemerintah harus diusut tuntas karena ini menyangkut marwah pemerintahan Presiden Prabowo,” kata Bambang.

Aktivis antikorupsi sekaligus mantan penyidik KPK Yudi Purnomo Harahap juga mengecam keras serangan tersebut dan meminta polisi segera menangkap pelaku. “Pelaku harus segera ditangkap agar tuduhan tidak melebar ke mana-mana. Saya pikir ini bukan sekadar peristiwa penyerangan biasa dan pelaku sudah mengincar korban,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra meminta aparat penegak hukum tidak hanya menangkap pelaku di lapangan, tetapi juga mengungkap aktor intelektual di balik serangan tersebut.

“Saya meminta aparat penegak hukum memastikan pengusutan tuntas sampai ke aktor intelektual, bukan hanya pelaku penyerangan di lapangan,” kata Yusril.