NEWS
PGE Percepat Transisi Energi Lewat PLTP Lumut Balai Unit 3
Melalui kick-off meeting pada Senin (12/1), proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 3 berkapasitas 55 megawatt (MW) resmi dimulai.
apakabar.co.id, JAKARTA - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) kembali menegaskan komitmennya dalam pengembangan energi bersih nasional. Melalui kick-off meeting pada Senin (12/1), proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 3 berkapasitas 55 megawatt (MW) resmi dimulai.
Proyek ini berlokasi di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Lumut Balai, Sumatera Selatan, dan ditargetkan beroperasi penuh pada 2030.
Kick-off meeting menjadi tonggak awal penguatan koordinasi lintas fungsi di internal PGE. Tidak hanya itu, perusahaan juga membangun sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan eksternal, mulai dari pemerintah daerah, kontraktor, masyarakat sekitar, PLN, hingga instansi pemerintah terkait.
Direktur Operasi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk Ahmad Yani menjelaskan kolaborasi ini diharapkan mampu memastikan seluruh tahapan proyek berjalan sesuai rencana, mulai dari perizinan hingga konstruksi.
Proyek ini memiliki arti strategis bagi transisi energi nasional. Pasalnya, pengembangan energi baru dan terbarukan saat ini berada pada fase yang semakin penting, sejalan dengan arah kebijakan pemerintah dalam RUPTL 2025–2034.
“Kick-off meeting menjadi momentum penting untuk memastikan kesiapan seluruh aspek proyek, baik dari sisi teknis, perizinan, pendanaan, maupun pengelolaan risiko. PLTP Lumut Balai Unit 3 juga tercatat sebagai proyek strategis dalam Blue Book 2025–2029 Kementerian PPN/Bappenas,” ujar Ahmad Yani dalam keterangannya di Jakarta, Senin (12/1).
Ia mengungkapkan, proyek ini bukan hanya memperkuat kapasitas panas bumi nasional, tetapi juga menjadi jawaban atas kebutuhan listrik di Sumatera Selatan yang terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk.
Pengembangan Unit 3 merupakan kelanjutan dari PLTP Lumut Balai Unit 2 berkapasitas 55 MW yang telah beroperasi sejak Juni 2025. Keberhasilan proyek sebelumnya merupakan fondasi kuat bagi PGE untuk melangkah lebih jauh dalam mencapai target kapasitas terpasang 1 gigawatt (GW) dalam 2–3 tahun ke depan, serta 1,8 GW pada 2033.
Dalam jangka panjang, PGE telah mengidentifikasi potensi panas bumi hingga 3 GW dari 10 WKP yang dikelola secara mandiri. Potensi tersebut menjadi modal penting untuk menjaga keberlanjutan pengembangan energi panas bumi di Indonesia.
Kontribusi sektor panas bumi tidak hanya terasa pada sisi kelistrikan, tetapi juga pada perekonomian nasional. Sepanjang 2010–2024, industri panas bumi menyumbang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sekitar Rp21,43 triliun.
Selain itu, daerah penghasil turut menikmati Dana Bagi Hasil (DBH) sebesar Rp10,82 triliun pada periode 2019–2024. Dampak ini mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui efek berganda, seperti penyerapan tenaga kerja dan peningkatan aktivitas usaha masyarakat.
Sejauh ini, PGE telah mengelola kapasitas terpasang sebesar 727 MW yang tersebar di enam wilayah operasi. Perusahaan juga tengah mengembangkan proyek strategis lain, seperti PLTP Hululais Unit 1 dan 2 berkapasitas 110 MW, serta proyek co-generation bersama PLN Indonesia Power dengan total kapasitas 230 MW.
Dengan dimulainya proyek PLTP Lumut Balai Unit 3, PGE kian meneguhkan posisinya sebagai pemain utama dalam pengembangan energi panas bumi nasional. Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa transisi menuju energi bersih tidak hanya menjadi wacana, tetapi terus diwujudkan melalui proyek konkret yang berkelanjutan.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK