NEWS
Selat Hormuz Tidak Ditutup, Dubes Iran Pastikan Kapal yang Patuhi Protokol Tetap Bisa Lewat
Pemerintah Iran menegaskan Selat Hormuz tetap dibuka bagi kapal-kapal internasional meskipun konflik dengan Amerika Serikat dan Israel masih berlangsung.
apakabar.co.Id, JAKARTA– Pemerintah Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap dibuka bagi kapal-kapal internasional meskipun konflik dengan Amerika Serikat dan Israel masih berlangsung. Jalur pelayaran strategis tersebut tetap dapat dilintasi selama kapal mematuhi protokol lalu lintas yang ditetapkan Iran, terutama dalam situasi perang.
Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menjelaskan kapal dari negara yang tidak bekerja sama dengan pihak yang menyerang Iran tetap diizinkan melewati Selat Hormuz.
"Tentu negara-negara yang tidak bekerja sama dengan pihak musuh, dan mereka yang mematuhi protokol lalu lintas dari Selat Hormuz, khususnya pada saat perang, mereka bisa melewati Selat Hormuz," kata Boroujerdi di Jakarta, Sabtu (14/4).
Ia menegaskan bahwa hingga kini Iran tidak menutup jalur pelayaran tersebut. Namun, pengawasan diperketat untuk memastikan keamanan di tengah situasi konflik.
Menurut Boroujerdi, kapal yang melintasi kawasan itu wajib mengikuti aturan navigasi yang ditetapkan Iran selama masa perang.
"Selat Hormuz tidak ditutup. Selat ini tetap dibuka untuk negara-negara yang tidak mengizinkan wilayah mereka dimanfaatkan untuk menyerang Iran," terangnya.
Ia bahkan menyebut bahwa dua kapal asal Indonesia sebelumnya berhasil melewati Selat Hormuz setelah mematuhi protokol yang berlaku.
Pernyataan itu memberi sinyal bahwa aktivitas pelayaran internasional masih dapat berlangsung di jalur strategis tersebut, meskipun ketegangan militer di kawasan Timur Tengah meningkat.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia. Setiap hari sekitar 20 juta barel minyak mentah, sekitar 20 persen konsumsi minyak global melewati selat tersebut menuju berbagai negara di dunia.
Jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman itu juga menjadi rute utama ekspor minyak dari negara-negara produsen besar di kawasan Teluk seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Qatar.
Karena itu, setiap ancaman terhadap Selat Hormuz selalu memicu kekhawatiran global, termasuk potensi lonjakan harga minyak dan gangguan rantai pasok energi dunia.
Di tengah situasi tersebut, Iran menegaskan bahwa keamanan wilayahnya menjadi prioritas.
"Selat ini adalah tempat di mana kami harus memastikan keamanan kami. Jika ini tidak aman bagi kami, maka tidak aman bagi semuanya," kata Boroujerdi.
Ia juga menuduh pihak yang disebutnya sebagai 'musuh imperialis' masih terus melancarkan serangan terhadap wilayah Iran.
Menurutnya, serangan tersebut menargetkan rumah warga, fasilitas sipil, dan berbagai tempat publik lainnya.
"Kami akan terus melawan dan menyerang. Kami tidak akan kompromi dengan pihak musuh," ujarnya.
Pernyataan Boroujerdi disampaikan setelah acara santunan kepada sekitar 200 siswi Muslim Indonesia di Jakarta untuk mengenang 175 siswi yang tewas dalam serangan di Iran.
Sebelumnya, pada 28 Februari lalu, Amerika Serikat dan Israel dilaporkan melancarkan serangkaian serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran.
Serangan itu menyebabkan kerusakan serta menewaskan ratusan warga sipil. Salah satu insiden yang paling disorot adalah serangan terhadap Sekolah Dasar Khusus Putri Shajareh Tayyebeh di Kota Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan.
Dalam peristiwa tersebut, sebanyak 175 siswi dilaporkan meninggal dunia, sementara lebih dari 95 anak lainnya mengalami luka-luka.
Di tengah eskalasi konflik tersebut, Iran menegaskan tetap menjaga akses pelayaran internasional di Selat Hormuz selama kapal-kapal mematuhi aturan yang berlaku dan tidak terlibat dalam upaya yang dianggap mengancam keamanan negara tersebut.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK