NEWS

Uji Coba WFA, Walikota Solo Target Efisiensi Anggaran Capai 29%

Pegawai Pemerintah Kota Solo menjalankan sistem kerja work from anywhere (WFA) saat masa uji coba. Foto: apakabar.co.id/Fernando Fitusia
Pegawai Pemerintah Kota Solo menjalankan sistem kerja work from anywhere (WFA) saat masa uji coba. Foto: apakabar.co.id/Fernando Fitusia
apakabar.co.id, SOLO - Pemerintah Kota (Pemkot) Solo mulai menguji coba sistem kerja work from anywhere (WFA) bagi sebagian aparatur sipil negara (ASN) sebagai strategi efisiensi anggaran. 

Wali Kota Solo, Respati Ardi, menargetkan kebijakan ini mampu menekan belanja operasional hingga 29 persen dan mengalihkan hasil penghematan tersebut untuk pembangunan kota.

Respati menjelaskan, uji coba WFA telah berjalan dengan pengawasan ketat dan saat ini diterapkan pada sembilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD). 


Dari kebijakan ini, Respati berharap bisa menekan biaya operasional Pemkot Solo semaksimal mungkin. Dia yakin dengan strategi ini mampu menyesuaikan keuangan Pemkot Solo setelah pemangkasan dana transfer ke daerah (TKD). 

“Kami targetkan penghematan mencapai 29 persen. Harapannya dengan semua upaya ini, karena kita kan yang diefisien sampai 29 persen tentunya harapannya bisa mengimbangi itu,” ungkap Respati. 

Dana pengendalian anggaran ini dipastikan bakal digunakan untuk kebutuhan infrastruktur Kota Bengawan. Terutama pada pembangunan wilayah yang mendesak. Respati optimis dengan langkah ini Pemkot Solo bisa terus memberikan pelayanan yang prima di tengah efisiensi. 

“Tentu ini tetap menjadi optimal dan pembangunan terus berjalan. Kita akan alihkan (dana penghematan) ke pembangunan yang paling urgent yaitu pembangunan drainase lingkungan agar tidak ada genangan-genangan,” jelasnya. 

Lebih lanjut, Respati memastikan sistem kerja di luar kantor tidak berlaku bagi pegawai yang memberikan langsung pelayanan ke publik. 

Efektivitas dari masa uji coba WFA ini akan terus dipantau. Selain menekan biaya operasional kantor, pegawai yang melaksanakan WFA bisa bekerja dan melarisi UMKM. 

“Yang terpenting adalah untuk OPD pelayanan tidak ada WFA. Jadi ini non-pelayanan dan akan kita pantau, kita cek perkembangan plus minusnya seperti apa. Serta akan kita ukur efisiensinya supaya memang benar-benar jadi efisiensi anggaran,” tuturnya. 


“WFA diterapkan pada pegawai di back office yang menggunakan operasional cukup besar di kantor kemudian bisa di luar harapan bisa di UMKM dan fleksibilitas kerja yang terpenting terukur kerjanya,” tambahnya. 

Ke depan, Respati juga tidak menutup kemungkinan menambah hari manakala sistem WFA ini berjalan optimal serta tak mengganggu pelayanan publik. Dengan dasar efektif dan efisien, Pemkot Bakal menerapkan kerja luar kantor bagi pegawai non-pelayanan bahkan di 35 OPD. 

“Karena ketika dengan ini (WFA) dan efektif, kita bisa tambahkan (harinya). Tentu dengan catatan pelayanan masyarakat tidak ada berkurang dan berdampak baik bagi pemerintah akan kita lanjutkan. Tetapi kalau memang ada pelayanan masyarakat di sistem terhambat, pasti akan kita review,” tandasnya