OPINI
Menghubungkan Titik Terluar: Urgensi Transportasi Publik di Perbatasan Kalimantan Barat
Pembangunan jalan paralel, PLBN, dan PLB di perbatasan Kalimantan Barat secara signifikan mengubah wilayah terluar menjadi beranda depan negara yang memperkuat ekonomi, mobilitas, dan kedaulatan negara.
Oleh Djoko Setijowarno
BERDASARKAN data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (2024), Kalimantan Barat telah terhubung oleh jalan paralel perbatasan sepanjang 827,97 km. Jaringan ini ditopang oleh empat Pos Lintas Batas Negara (PLBN), yaitu PLBN Aruk (Kab. Sambas), PLBN Entikong (Kab. Sanggau), PLBN Jagoi Babang (Kab. Bengkayang), dan PLBN Nanga Badau (Kab. Kapuas Hulu).
Selain itu, terdapat tiga sirip akses utama dari jalan paralel menuju titik perbatasan Sarawak, yakni ruas Sp. Tanjung–Aruk (11,1 km), Balai Karangan–Entikong (21,6 km), serta Naga Badau–Batas Sarawak (3,8 km).
Selain itu masih ada PLB Temajuk di Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat yang baru saja diresmikan, tepatnya 21 Agustus 2026. Ditargetkan status perlintasan Temajuk–Teluk Melano dapat ditingkatkan secara bertahap dari PLB biasa menjadi Pos Lintas Batas Negara (PLBN) terpadu pada tahun 2027 mendatang (rr.co.id, 21/08/2026)
Pemanfaatan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) di Kalimantan Barat kini didukung oleh tiga rute Angkutan Lintas Batas Negara (ALBN), yaitu Singkawang – PLBN Aruk – Kuching, Pontianak – PLBN Entikong – Kuching, serta Pontianak – PLBN Entikong – Brunei Darussalam.
Dampak strategis
Pembukaan Pos Lintas Batas (PLB) Temajuk di Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat memberikan dampak strategis yang meliputi penguatan ekonomi, keamanan, dan pengembangan wilayah perbatasan. Selain itu, baru satu angkutan bus perintis PLBN Aruk – Sambas.
Pertama, peningkatan ekonomi dan perdagangan lokal. Pos Lintas Batas (PLB) memfasilitasi ekspor komoditas andalan Sambas (seperti hasil pertanian, lada, kelapa, dan perikanan) langsung ke Telok Melano (Sarawak), secara legal dan terukur. Hal ini juga menekan kesenjangan harga barang kebutuhan pokok di perbatasan.
Kedua, akselerasi pariwisata. Desa Temajuk memiliki garis pantai panjang yang eksotis dan sering disebut sebagai "Ekor Kalimantan". Jalur lintas batas resmi mempermudah masuknya wisatawan mancanegara dari Malaysia, yang secara langsung menghidupkan UMKM dan penginapan lokal.
Ketiga, pengetatan keamanan dan hukum. Perlintasan resmi yang diawasi oleh Imigrasi, Bea Cukai, dan Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) meminimalisir celah kejahatan transnasional, seperti penyelundupan barang ilegal, narkotika, dan perdagangan manusia (trafficking).
Keempat, pemerataan infrastruktur. Pembangunan pos perbatasan secara otomatis menarik perhatian pemerintah pusat untuk membangun infrastruktur penunjang, seperti pelebaran jalan raya, stabilitas pasokan listrik, air bersih, dan jaringan telekomunikasi yang langsung dinikmati warga sekitar.
Kelima, fasilitasi sosial dan kultural. Banyak warga di Kabupaten Sambas yang memiliki ikatan kekerabatan erat dengan warga di Lundu atau Sematan (Sarawak). PLB Temajuk mempermudah mobilitas sosial, kunjungan keluarga, hingga akses layanan darurat secara resmi.
Keenam, penegasan kedaulatan negara. Secara geopolitik, PLB Temajuk yang dibangun dengan baik berfungsi sebagai "beranda depan" negara. Ini meningkatkan kebanggaan nasional warga perbatasan sekaligus mempertegas batas wilayah teritorial antara Indonesia dan Malaysia secara fisik dan administratif.
Transportasi umum perbatasan
Untuk memperlancar mobilitas masyarakat menuju PLBN maupun PLB di Kalimantan Barat, keberadaan infrastruktur jalan yang memadai perlu didukung oleh ketersediaan transportasi umum antar-ibu kota kabupaten.
Mengacu pada keberhasilan rute PLBN Aruk – Kota Sambas, penyediaan angkutan bus perintis kini sangat diperlukan untuk beberapa koridor strategis lainnya, yaitu PLB Temajuk – Kota Sambas, PLBN Entikong – Kota Sanggau, PLBN Jagoi Babang – Kota Bengkayang, serta PLBN Nanga Badau – Kota Putussibau.
Berbeda dengan pos perbatasan di Malaysia, seperti Tebedu dan Telok Melano yang telah terhubung dengan layanan angkutan umum, kondisi di kawasan perbatasan Kalimantan Barat masih sangat terbatas. Hingga saat ini, baru PLBN Aruk yang memiliki akses bus perintis menuju Kota Sambas, dengan operasional yang masih mengandalkan satu unit armada saja.
Sebaliknya di Malaysia, layanan transportasi umum yang menghubungkan kawasan perbatasan dengan kota-kota terdekat di Sarawak sudah tersedia dengan baik. Ketiadaan integrasi serupa di sisi Indonesia membuat masyarakat yang tiba dari Malaysia terpaksa membayar tarif tinggi untuk taksi tidak resmi, atau bergantung pada ojek pangkalan dan angkutan lokal dengan kondisi armada yang sudah tidak layak jalan.

Indonesia belum menempatkan transportasi umum sebagai kebutuhan dasar warga negaranya. Keberadaannya kerap dipandang sebelah mata; anggaran justru lebih berpihak pada peremajaan mobil dinas pejabat lima tahunan ketimbang pembenahan "mobil rakyat" yang dibiarkan terbengkalai.
Manfaat transportasi umum di kawasan PLBN
Pembangunan dan pengoperasian transportasi umum di kawasan Lintas Batas Negara (PLBN) memiliki peran strategis baik dari sudut pandang ekonomi, sosial, maupun kedaulatan negara.
Manfaat utama keberadaan transportasi umum di kawasan PLBN Kalimantan Barat, pertama, peningkatan konektivitas dan aksesibilitas antarnegara. Memudahkan mobilitas masyarakat lokal maupun wisatawan lintas negara (Indonesia–Malaysia), menghubungkan pusat kota seperti Pontianak atau Singkawang secara langsung menuju titik perbatasan.
Kedua, efisiensi biaya perjalanan masyarakat. Menyediakan moda transportasi yang terjangkau bagi masyarakat di wilayah 3TP (Tertinggal, Terdepan, Terluar dan Perbatasan) dibandingkan bergantung pada kendaraan pribadi atau travel tak resmi. Ketiga, pertumbuhan ekonomi lintas batas dan UMKM. Mempermudah alur pergerakan pedagang, tenaga kerja, dan barang skala kecil.
Hal ini menstimulasi aktivitas komersial di kawasan perbatasan dan menghidupkan pasar-pasar lokal di sekitar kawasan PLBN.
Keempat, pendorong sektor pariwisata daerah. Memfasilitasi arus wisatawan domestik dan mancanegara yang ingin menjelajahi destinasi wisata di Kalimantan Barat maupun rute lintas perbatasan darat (jalur Trans-Borneo). Kelima, pemerataan kesejahteraan dan pembangunan regional. Kehadiran transportasi angkutan jalan perintis/kawasan strategis mengurangi kesenjangan antara wilayah perkotaan dan perbatasan, mendukung visi pembangunan dari pinggiran.
Keenam, penguatan pengawasan dan keamanan wilayah perbatasan. Pergerakan pelintas batas yang terorganisir melalui armada publik resmi memudahkan pemantauan dokumen serta menekan angka pelintasan dan pergerakan barang secara ilegal. Keenm, integrasi sistem logistik perbatasan. Mendukung arus pergerakan logistik skala mikro-menengah secara reguler, yang menjaga stabilitas pasokan kebutuhan pokok di kawasan perbatasan.
Peningkatkan status infrastruktur fisik di perbatasan Kalimantan Barat harus diimbangi dengan penyediaan jaringan transportasi umum perintis dan lintas batas yang andal serta berkelanjutan. Dengan hadirnya layanan angkutan publik yang terintegrasi hingga ke pusat-pusat kabupaten, potensi ekonomi lokal, pemerataan kesejahteraan masyarakat 3TP, dan pengamanan kedaulatan wilayah perbatasan dapat terwujud secara optimal.
*) Penulis adalah Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegjapranata dan Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI)
Editor:
RAIKHUL AMAR
RAIKHUL AMAR
