OPINI

Saat Generasi Muda Menjadi Aset Strategis Bangsa

Foto ilustrasi anak muda. Foto: Freepik
Foto ilustrasi anak muda. Foto: Freepik
Oleh: Nuri Taufiq*

Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 menunjukkan bahwa Generasi Z mencapai 24,93 persen dari total penduduk Indonesia, Milenial sebesar 24,34 persen, dan Post Generasi Z sebesar 19,65 persen.

Artinya, sekitar 69 persen penduduk Indonesia berada pada tiga generasi termuda. Dalam sejarah modern Indonesia, belum pernah terjadi komposisi penduduk seperti ini.

Banyak pihak menyebut kondisi tersebut sebagai bonus demografi. Namun sesungguhnya, Indonesia sedang menghadapi sesuatu yang lebih spesifik dan lebih menentukan, yakni bonus generasi.

Bukan sekadar melimpahnya penduduk usia produktif, melainkan dominasi generasi yang tumbuh di era ekonomi digital, otomatisasi, dan kecerdasan buatan.

Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia memiliki cukup tenaga kerja untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah Indonesia mampu mengubah dominasi generasi muda tersebut menjadi produktivitas, inovasi, dan kesejahteraan.

Sebab sejarah menunjukkan bahwa bonus generasi dapat menjadi lompatan menuju kemajuan, tetapi juga dapat berubah menjadi sumber masalah apabila gagal dikelola.

Dalam literatur ekonomi kependudukan, bonus demografi atau demographic dividend merujuk pada peluang pertumbuhan ekonomi yang muncul ketika proporsi penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan penduduk usia nonproduktif. Namun para ahli telah lama mengingatkan bahwa peluang tersebut tidak bekerja secara otomatis.

David Bloom, ekonom dari Harvard University yang banyak meneliti bonus demografi, menyatakan bahwa perubahan struktur umur penduduk hanyalah sebuah peluang. Dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi sangat bergantung pada investasi dalam pendidikan, kesehatan, penciptaan lapangan kerja, dan kualitas institusi.

Pengalaman berbagai negara menunjukkan hal yang sama. Korea Selatan, Singapura, dan Tiongkok berhasil memanfaatkan bonus demografi melalui investasi besar pada pendidikan dan industrialisasi. Sebaliknya, sejumlah negara berkembang gagal memperoleh manfaat maksimal karena tidak mampu menyediakan pekerjaan yang cukup bagi angkatan kerja mudanya.

Pelajaran tersebut relevan bagi Indonesia. Jumlah generasi muda yang besar memang merupakan modal pembangunan yang sangat berharga. Namun modal tersebut tidak akan menghasilkan apa pun tanpa strategi yang tepat.

Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi

Saat ini Milenial yang lahir pada 1981 hingga 1996 berada pada usia 29 sampai 44 tahun. Mereka merupakan tulang punggung utama pasar kerja Indonesia. Mereka mengisi berbagai posisi penting dalam pemerintahan, dunia usaha, industri, pendidikan, dan sektor jasa.

Di belakang mereka, Generasi Z yang berusia 13 sampai 28 tahun sedang memasuki dunia kerja dalam jumlah besar. Dalam beberapa tahun ke depan, mereka akan menjadi kelompok dominan dalam pasar tenaga kerja Indonesia.

Berbeda dengan generasi sebelumnya, Generasi Z tumbuh sebagai digital natives. Mereka tidak pernah mengalami dunia tanpa internet. Teknologi digital bukan sesuatu yang dipelajari kemudian, melainkan bagian dari kehidupan sejak lahir.

Penelitian Turner (2022) menunjukkan bahwa Generasi Z memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka cenderung lebih adaptif terhadap teknologi, lebih terbiasa bekerja dalam lingkungan digital, serta lebih cepat mengakses dan memanfaatkan informasi.

Karakteristik tersebut merupakan aset penting dalam ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge economy) yang saat ini berkembang pesat di seluruh dunia.

Dominasi generasi muda juga menciptakan keuntungan lain, yakni besarnya pasar domestik. Generasi Z dan Milenial bukan hanya tenaga kerja. Mereka juga merupakan konsumen utama yang menentukan arah permintaan ekonomi nasional.

Pilihan mereka dalam mengonsumsi, berinvestasi, berwirausaha, dan mengadopsi teknologi akan memengaruhi wajah ekonomi Indonesia selama beberapa dekade mendatang.

Dalam konteks ini, generasi muda Indonesia sesungguhnya merupakan mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional.

Menuju Productive Natives

Meski demikian, kemampuan menggunakan teknologi tidak selalu identik dengan produktivitas. Inilah tantangan terbesar yang dihadapi Indonesia saat ini.

Banyak anak muda Indonesia sangat aktif di ruang digital. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam menggunakan media sosial, aplikasi komunikasi, platform hiburan, dan berbagai layanan daring. Namun kemampuan sebagai pengguna teknologi belum tentu berbanding lurus dengan kemampuan menciptakan nilai tambah melalui teknologi.

Tantangan Indonesia bukan membuat Generasi Z akrab dengan teknologi. Hal itu sudah terjadi secara alami. Tantangan yang sesungguhnya adalah mengubah generasi yang mahir menggunakan teknologi menjadi generasi yang mampu menciptakan teknologi, menghasilkan inovasi, dan membangun produktivitas.

Indonesia membutuhkan transformasi dari digital consumption menuju digital production. Literasi digital tetap penting, tetapi tidak cukup. Yang jauh lebih dibutuhkan adalah penguatan keterampilan masa depan atau future skills, seperti berpikir kritis, pemecahan masalah, literasi data, kecerdasan buatan, kemampuan STEM (science, technology, engineering, and mathematics), kreativitas, serta kemampuan belajar sepanjang hayat (lifelong learning).

Laporan Future of Jobs dari World Economic Forum berulang kali menunjukkan bahwa sebagian besar pekerjaan masa depan akan menuntut keterampilan yang berbeda dari hari ini. Kemampuan rutin akan semakin mudah digantikan oleh otomatisasi dan kecerdasan buatan.

Sebaliknya, pekerjaan yang membutuhkan kreativitas, analisis, inovasi, dan kolaborasi manusia akan semakin bernilai.

Karena itu, investasi pada pendidikan tidak cukup hanya diukur dari angka partisipasi sekolah. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa sistem pendidikan mampu menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan ekonomi masa depan.

Bonus generasi dapat berubah menjadi beban apabila penciptaan lapangan kerja tidak mampu mengikuti pertumbuhan angkatan kerja muda.

Fenomena ini dikenal dalam ekonomi pembangunan sebagai youth bulge challenge. Ketika jutaan anak muda memasuki pasar kerja setiap tahun, sementara kesempatan kerja berkualitas tumbuh lebih lambat, maka risiko pengangguran, setengah pengangguran, dan pekerjaan informal akan meningkat.

Masalah tersebut tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada perekonomian secara keseluruhan. Produktivitas nasional akan tertahan apabila sebagian besar tenaga kerja muda terjebak dalam pekerjaan berupah rendah dan berproduktivitas rendah.

Karena itu, kebijakan pembangunan tidak boleh hanya berfokus pada penciptaan lapangan kerja dalam jumlah besar. Yang sama pentingnya adalah memastikan bahwa pekerjaan yang tersedia memiliki kualitas yang baik, produktif, dan mampu meningkatkan kesejahteraan pekerja.

Jendela Kesempatan

Ada satu alasan lagi mengapa bonus generasi harus dimanfaatkan sekarang. Peluang ini tidak akan berlangsung selamanya.

Seperti banyak negara lainnya, Indonesia sedang bergerak menuju fase penuaan penduduk. Proporsi Baby Boomer dan kelompok lansia akan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang.

Ketika proses tersebut terjadi, jumlah penduduk usia produktif akan mulai melambat, sementara kebutuhan pembiayaan kesehatan, pensiun, dan perlindungan sosial akan semakin besar.

Jepang, Korea Selatan, dan sejumlah negara Eropa saat ini sedang menghadapi tantangan tersebut. Mereka harus mempertahankan pertumbuhan ekonomi di tengah meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia.

Indonesia masih memiliki waktu sebelum menghadapi kondisi yang sama. Namun waktu tersebut tidak panjang. Jendela kesempatan bonus generasi hanya terbuka dalam periode tertentu. Setelah itu, struktur penduduk akan berubah dan peluang yang ada saat ini tidak akan mudah terulang.

Data SUPAS 2025 memperlihatkan bahwa Indonesia tidak sedang kekurangan generasi muda. Justru sebaliknya, Indonesia sedang menikmati kelimpahan generasi muda terbesar dalam sejarahnya. Persoalannya bukan pada jumlah, melainkan pada kualitas dan kesempatan yang tersedia bagi mereka.

Dalam dua dekade ke depan, Generasi Z dan Milenial akan mengisi ruang-ruang strategis bangsa. Mereka akan menjadi guru yang mendidik generasi berikutnya, insinyur yang membangun infrastruktur, peneliti yang menciptakan inovasi, wirausahawan yang membuka lapangan kerja, dan pemimpin yang menentukan arah pembangunan nasional.

Visi Indonesia Emas 2045 pada akhirnya tidak akan ditentukan oleh bonus demografi semata. Ia akan ditentukan oleh kemampuan bangsa ini mengubah bonus generasi menjadi bonus produktivitas.

Jika generasi muda Indonesia tumbuh menjadi generasi yang sehat, terampil, inovatif, dan produktif, maka bonus generasi akan tercatat sebagai titik balik yang mengantarkan Indonesia menuju negara maju.

Namun jika kesempatan ini gagal dimanfaatkan, sejarah mungkin akan mengenangnya sebagai peluang terbesar yang pernah dimiliki Indonesia tetapi tidak pernah diwujudkan sepenuhnya.

Karena tidak semua bangsa memperoleh bonus generasi. Dan bagi Indonesia, kesempatan seperti ini belum tentu datang untuk kedua kalinya.

*) Statistisi pada Badan Pusat Statistik (BPS) dan pemerhati isu sosial ekonomi