OPINI

Swasembada Pangan di Mata Satelit

Oleh: Dian Fiantis*

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa sejak 31 Desember 2025 Indonesia telah mencapai swasembada beras, dan dalam tiga tahun ke depan ditargetkan swasembada pangan menyeluruh dapat diraih.

Pernyataan yang disampaikan pada 8 Februari 2026 itu tentu membangkitkan rasa bangga dan harapan. Di negeri agraris seperti Indonesia, kemandirian pangan bukan sekadar capaian statistik, melainkan simbol kedaulatan dan martabat bangsa.

Kini, di era satelit dan kecerdasan geospasial, dinamika sawah dan lahan pertanian tidak lagi hanya dipahami melalui laporan administratif atau survei terbatas. Ia dapat dibaca dari angkasa.

Namun sebagai akademisi yang telah 3,5 dekade meneliti tanah, sawah, dan bentang lahan, muncul pertanyaan mendasar: Apakah kita sungguh-sungguh mengetahui kondisi sawah secara nyata di lapangan? Berapa luas lahan yang benar-benar ditanami, bukan sekadar tercatat? Berapa kali panen benar-benar terjadi dalam satu tahun di setiap petak sawah dari Sumatera hingga Papua?

Ketika banjir merendam sawah atau kekeringan memecah tanah menjadi retakan panjang, bagaimana keadaan tanaman padi yang menjadi sandaran hidup jutaan keluarga di Nusantara?

Swasembada bukan hanya soal angka produksi nasional yang mencukupi kebutuhan dalam negeri tanpa impor. Swasembada adalah cerita tentang kesehatan tanah, ketersediaan air, dan pengelolaan ruang yang bijaksana.

Jika tanah rusak, swasembada runtuh. Jika tanah terjaga, pangan terjamin. Karena itu penting melihat lebih dalam. Ini bukan untuk meragukan capaian, tetapi memastikan optimisme berdiri di atas data yang jujur.

Pemantauan dari Angkasa

Untuk memantau sawah di daerah tropis, para peneliti menggunakan dua jenis satelit: satelit optik dan satelit radar.

Satelit optik seperti Sentinel-2 bekerja seperti kamera raksasa di langit. Ia menangkap pantulan cahaya dari daun tanaman. Dari pantulan ini, ilmuwan bisa menghitung “indeks kehijauan” (NDVI) yang menunjukkan seberapa sehat tanaman.

Satelit ini tidak melihat bulir padi, melainkan membaca "bahasa tubuh" tanaman lewat cahaya. Jika padi tumbuh subur, daunnya menyerap cahaya merah dan memantulkan cahaya inframerah dengan kuat. Nilai indeksnya tinggi.

Sebaliknya jika tanaman kekurangan air, pupuk, atau terkena hama, pantulannya lemah dan nilai indeksnya rendah.

Indonesia adalah negeri awan. Pada musim hujan langit dapat tertutup awan berhari-hari bahkan berminggu-minggu, sehingga citra optik sering tidak memperlihatkan permukaan bumi.

Di sinilah satelit radar seperti Sentinel-1 menjadi krusial. Radar menggunakan gelombang mikro yang mampu menembus awan dan tetap merekam kondisi permukaan.

Radar sangat peka terhadap air dan struktur tanaman. Ia bisa mendeteksi sawah yang baru digenangi, batang padi yang makin rapat, hingga tanda-tanda kekeringan menjelang panen.

Dengan menggabungkan data optik dan radar, sawah tidak lagi tersembunyi di balik awan. Pemantauan bisa dilakukan sepanjang musim, bahkan saat hujan terus-menerus menutup langit.

Intensitas Tanam

Swasembada pangan bukan hanya soal luas sawah, tetapi intensitas tanam; berapa kali lahan dipanen dalam setahun. Sawah satu kali panen tentu berbeda kontribusinya dibanding sawah dua atau tiga kali panen.

Di Asia Tenggara padi dapat dipanen hingga tiga kali setahun, sehingga luas sawah tidak selalu sama dengan luas panen. Karena itu, informasi luas panen yang akurat menjadi sangat penting bagi ketahanan pangan, sementara data statistik konvensional sering tidak cukup rinci secara spasial.

Artikel ilmiah High-resolution maps of rice cropping intensity across Southeast Asia yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Data tahun 2025 membuat peta intensitas tanam padi dengan resolusi sangat detail, sekitar ukuran satu petak sawah. Dengan menggabungkan data optik dan radar, peneliti bisa membedakan sawah yang panen sekali, dua kali, atau tiga kali.

Hasilnya, untuk pertama kalinya, produksi pangan bisa dipantau secara terbuka di seluruh Asia Tenggara, sehingga perbandingan antarwilayah lebih objektif.

Bagaimana satelit membantu menghitung produksi? Pertama, satelit mengenali lokasi sawah dan waktu tanam. Lalu ia membaca kehijauan dan kerapatan tanaman, yang berhubungan dengan jumlah biomassa. Biomassa ini dikonversi menjadi perkiraan hasil gabah.

Dengan mengalikan produktivitas dan luas panen, diperoleh estimasi produksi wilayah, lalu nasional. Namun, satelit tidak bisa menghitung bulir padi satu per satu. Karena itu, hasil satelit selalu diverifikasi dengan data panen lapangan agar lebih akurat.

Penting bagi Swasembada

Data satelit memungkinkan kondisi pertanian dipantau berulang dalam waktu singkat. Pejabat pada Kementerian Pertanian dapat mengetahui apakah produksi meningkat atau menurun tanpa menunggu laporan panjang dari bawahannya. Dengan demikian, respons kebijakan dapat dilakukan lebih cepat sebelum dampaknya meluas.

Satelit juga mendeteksi dini terjadinya kekeringan, banjir, hama, atau keterlambatan tanam sebelum kerusakan meluas melanda. Tindakan perbaikan bisa dilakukan tepat waktu sehingga kehilangan hasil dapat ditekan. Dengan demikian, keputusan berkaitan ketersediaan pangan menjadi berbasis bukti ilmiah, bukan reaksi krisis.

Meski canggih, satelit bukan solusi tunggal. Tidak semua proses tanah tampak dari angkasa. Sensor satelit tidak akan dapat mengukur kadar nitrogen, fosfor, kemasaman tanah atau menghitung kebutuhan pupuk untuk tanaman padi. Informasi tersebut hanya dapat diperoleh melalui pengambilan sampel dan analisis langsung di lapangan dan laboratorium.

Sensor satelit tidak dapat menentukan produksi gabah secara langsung, melainkan hanya memperkirakan potensi atau indikasi hasil berdasarkan kondisi tanaman. Oleh karena itu, produksi aktual tetap memerlukan verifikasi lapangan. Pengukuran panen di petak sawah menjadi rujukan utama untuk memastikan ketepatan estimasi tersebut.

Pemanfaatan Operasional

Data satelit Sentinel kini dapat diakses secara gratis sehingga keterbatasan biaya tidak lagi menjadi alasan untuk tidak memanfaatkannya. Tantangan utama justru berada pada kesiapan sumber daya manusia di Kementerian Pertanian, dari pusat hingga kabupaten/kota, untuk memahami dan menggunakannya secara operasional.

Pemanfaatan penginderaan jauh perlu diawali dengan penguatan kapasitas aparat lapangan. Mereka tidak harus menjadi analis citra, tetapi cukup mampu membaca informasi penting: waktu tanam, kondisi pertumbuhan, indikasi kekeringan, dan potensi puso. Sistem yang dibuat sebaiknya disajikan dalam bentuk peta siap pakai, bukan citra mentah, sehingga penyuluh dapat segera menentukan lokasi prioritas pemeriksaan.

Setiap temuan satelit harus dihubungkan dengan verifikasi lapangan. Penyuluh mengecek kondisi nyata, lalu hasilnya menjadi umpan balik untuk memperbaiki akurasi pemantauan sekaligus dasar keputusan seperti distribusi pupuk, pengaturan irigasi, dan perencanaan panen. Dengan alur ini teknologi tidak berhenti sebagai bahan laporan, tetapi menjadi alat kerja harian.

Integrasi penginderaan jauh, survei tanah, pengamatan lapangan, dan statistik pertanian menjadi kunci swasembada. Pendekatan terpadu inilah yang memastikan produksi tidak hanya tinggi, tetapi juga berkelanjutan, sehingga swasembada beras benar-benar menjadi kenyataan, bukan sekadar pernyataan.

*) Guru Besar Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, dan Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas