OTOTEKNO

DEN Dorong Biodiesel B50, Kendaraan Indonesia Siap Masuk Era BBM Nabati

Sekjen Dewan Energi Nasional (DEN) Dadan Kusdiana saat menghadiri acara Kaleidoskop Energi: Refleksi Isu Energi 2025 & Outlook 2026 yang digelar The Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) di Jakarta, Selasa (13/1). Foto: apakabar.co.id/DF
Sekjen Dewan Energi Nasional (DEN) Dadan Kusdiana saat menghadiri acara Kaleidoskop Energi: Refleksi Isu Energi 2025 & Outlook 2026 yang digelar The Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) di Jakarta, Selasa (13/1). Foto: apakabar.co.id/DF
apakabar.co.id, JAKARTA - Pemerintah Indonesia kian serius mendorong penggunaan biodiesel sebagai bahan bakar kendaraan nasional.

Setelah implementasi B40 dinilai sukses sepanjang 2025, pemerintah kini menyiapkan biodiesel B50 sebagai langkah lanjutan menuju transisi energi dan pengurangan emisi sektor transportasi.

Komitmen tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Dadan Kusdiana dalam acara Kaleidoskop Energi: Refleksi Isu Energi 2025 & Outlook 2026 yang digelar The Purnomo Yusgiantoro Center (PYC).

 “B40 sudah berjalan baik dan melampaui target. Pemerintah menyiapkan tahapan berikutnya menuju B50 sebagai bagian dari strategi transisi energi nasional,” ujar Dadan di Jakarta, Selasa (13/1).


B40 Dinilai Aman untuk Kendaraan


Program biodiesel B40, campuran 40 persen fatty acid methyl ester (FAME) berbasis sawit dengan solar, telah diterapkan secara nasional sejak 2025.

Kebijakan ini menyasar kendaraan diesel, mulai dari angkutan logistik, kendaraan niaga, alat berat, hingga transportasi publik.

Menurut DEN, implementasi B40 tidak hanya menekan impor solar, tetapi juga menjaga keandalan performa mesin diesel dengan dukungan standar mutu dan pengawasan kualitas BBM.

Bagi industri otomotif, keberhasilan B40 menjadi sinyal bahwa mesin diesel modern di Indonesia kian adaptif terhadap BBM nabati.


B50 Disiapkan, Industri Otomotif Diminta Bersiap


Pemerintah kini tengah mengkaji kesiapan B50, termasuk aspek pasokan bahan baku, kualitas BBM, hingga kompatibilitas kendaraan.

Kenaikan kadar biodiesel ini dinilai strategis karena sektor transportasi masih menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar.

DEN menilai, penguatan biodiesel juga membuka peluang bagi produsen kendaraan, karoseri, dan komponen untuk menyesuaikan teknologi mesin agar semakin efisien, rendah emisi, dan ramah BBM nabati.

Dadan menegaskan, dorongan biodiesel bukan sekadar agenda lingkungan, tetapi juga strategi memperkuat daya saing industri nasional, termasuk otomotif dan logistik.

“Banyak investor kini mensyaratkan penggunaan energi bersih dalam rantai pasok dan distribusi,” pungkasnya

Dengan biodiesel, Indonesia dinilai memiliki keunggulan komparatif, karena bahan baku tersedia di dalam negeri dan dapat dimanfaatkan langsung oleh kendaraan eksisting tanpa perubahan besar.

Meski kendaraan listrik terus berkembang, pemerintah menilai biodiesel tetap relevan sebagai solusi transisi, khususnya untuk kendaraan niaga, alat berat, dan daerah dengan keterbatasan infrastruktur listrik.

“Transisi energi harus realistis. Biodiesel memungkinkan kendaraan yang ada tetap beroperasi sambil menurunkan emisi secara signifikan,” kata Dadan.

Ke depan, DEN bersama pemerintah akan memastikan roadmap biodiesel berjalan seimbang antara kinerja mesin, pasokan BBM, dan keberlanjutan industri otomotif nasional.
Adapun forum ini menjadi ajang strategis untuk membahas dinamika energi nasional dan global sepanjang 2025, sekaligus memetakan arah kebijakan energi Indonesia pada 2026, termasuk transisi sektor transportasi.

Dalam kesempatan ini, Ketua Umum PYC. Dr. Filda C. Yusgiantoro menilai 2025 sebagai fase krusial transisi energi Indonesia.

“Isu energi kini tak lagi sebatas pasokan dan harga, tetapi juga berkaitan erat dengan keberlanjutan, keamanan nasional, dan daya saing ekonomi, termasuk industri otomotif dan transportasi,” tuturnya

Diskusi dalam forum ini turut melibatkan perwakilan Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Luar Negeri, serta Pertamina Energy Institute, yang menyoroti keterkaitan kebijakan energi dengan pembangunan nasional, diplomasi energi, dan transformasi sektor energi ke depan.

Sebagai informasi, Kaleidoskop Energi merupakan agenda tahunan PYC yang mempertemukan pemerintah, BUMN, pelaku industri, akademisi, hingga think tank, sebagai ruang dialog berbasis kajian untuk mendukung kebijakan energi nasional yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.